Advertisement
Suhu Laut Global Hampir Pecahkan Rekor, Dunia Waspada
Antartika di musim panas. - Sputniknews/CCO Pixabay
Advertisement
Harianjogja.com, BRUSSEL — Suhu permukaan laut global pada Maret 2026 tercatat sebagai yang tertinggi kedua dalam sejarah, mendekati rekor saat periode El Nino sebelumnya. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa dunia berpotensi memasuki fase pemanasan baru.
Data tersebut disampaikan oleh Copernicus Climate Change Service (C3S), lembaga pemantau iklim yang didanai Uni Eropa.
Advertisement
Dekati Rekor Tertinggi 2024
C3S mencatat suhu rata-rata permukaan laut di wilayah samudra ekstra-polar mencapai 20,97 derajat Celsius pada Maret 2026. Angka ini hanya sedikit di bawah rekor Maret 2024 saat El Nino berlangsung.
BACA JUGA
Suhu harian bahkan terus meningkat sepanjang bulan dan semakin mendekati level tertinggi yang pernah tercatat sebelumnya.
Sejumlah pusat pemantauan iklim juga memprediksi kemungkinan peralihan dari kondisi netral menuju El Nino pada paruh kedua 2026.
Dampak pada Cuaca Global
Fenomena El Nino, yang ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik sekitar khatulistiwa, berpotensi meningkatkan suhu global sekaligus memperparah cuaca ekstrem di berbagai wilayah.
Pada Maret 2026, suhu udara permukaan global tercatat 1,48 derajat Celsius di atas level praindustri (1850–1900), menjadikannya sebagai Maret terpanas keempat dalam sejarah.
Di Eropa, bulan Maret menjadi yang terpanas kedua sepanjang catatan, disertai kondisi yang lebih kering dari rata-rata.
Sementara itu, sejumlah wilayah lain di dunia juga mengalami anomali cuaca, termasuk gelombang panas dini serta kekeringan di beberapa bagian Amerika Serikat dan Meksiko.
Di kawasan Arktik, luas es laut tahunan dan rata-rata Maret bahkan mencapai titik terendah dalam sejarah pengamatan.
Peringatan Ilmuwan Iklim
Direktur C3S di European Centre for Medium-Range Weather Forecasts, Carlo Buontempo, menyebut data terbaru ini sebagai sinyal mengkhawatirkan bagi kondisi iklim global.
“Setiap angka merupakan kejutan tersendiri, tetapi jika digabungkan, angka-angka tersebut menggambarkan sistem iklim yang berada di bawah tekanan yang berkelanjutan dan semakin cepat,” ujarnya.
Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa perubahan iklim global kian intens dan membutuhkan respons serius dari berbagai negara untuk menekan dampaknya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Petugas TPR JJLS Gunungkidul Dicopot Usai Viral Tiket Tak Sesuai
Advertisement
Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten
Advertisement
Berita Populer
- Tak Perlu Ketik, Kini Fitur Gemini Search Live Telah Hadir
- Jadwal Terbaru KA Prameks Jogja-Kutoarjo, 10 April 2026
- Penataan Sungai Code Tahap II Dimulai, Pemkot Jogja Bangun 14 Rumah
- Kurang 24 Jam, 2 Pelaku Penganiayaan Babarsari Ditangkap, 2 Buron
- PAD Tembus Rp1 Triliun, Pemkot Jogja Dipuji Hasto Kristiyanto
- BNNK Sleman Waspadai Modus Narkoba Lewat Vape
- Akses Tol Jogja-Solo di Ring Road Utara Dibangun Terpisah
Advertisement
Advertisement



