Advertisement
Bos Kartel El Mencho Tewas Ditembak, Meksiko Dilanda Kerusuhan
Kerusuhan pecah di Meksiko setelah militer berhasil membunuh kartel narkoba Nemesio Oseguera Cervantes alias El Mencho. ist - Istimewa
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Kematian bos kartel narkoba El Mencho dalam operasi militer memicu gelombang kekerasan di sejumlah wilayah Meksiko. Pemerintah setempat langsung meningkatkan pengamanan setelah kerusuhan berupa pembakaran kendaraan dan pemblokiran jalan terjadi di beberapa negara bagian.
Kementerian Pertahanan Meksiko menyebut Nemesio Ruben Oseguera Cervantes alias El Mencho terluka saat baku tembak dengan pasukan militer di Tapalpa, Negara Bagian Jalisco, pada Minggu, lalu meninggal dunia ketika diterbangkan menuju Mexico City untuk mendapatkan penanganan medis.
Advertisement
Operasi militer tersebut memicu aksi kekerasan lanjutan, termasuk pembakaran kendaraan dan penutupan jalan raya di sedikitnya enam negara bagian. Kondisi ini bahkan membuat Guadalajara, yang akan menjadi tuan rumah sejumlah laga Piala Dunia FIFA mendatang, berubah sepi karena warga diminta tetap berada di rumah.
“Ini adalah perkembangan besar bagi Meksiko, AS, Amerika Latin, dan dunia,” kata Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau, dikutip dari Al Jazeera, Senin (23/2/2026).
BACA JUGA
Menurut laporan Al Jazeera, El Mencho yang berusia 59 tahun merupakan salah satu gembong narkoba terbesar yang berhasil dilumpuhkan sejak penangkapan pendiri Kartel Sinaloa Joaquin “El Chapo” Guzman dan Ismael Zambada.
Kronologi Operasi dan Kematian El Mencho
Kementerian Pertahanan Meksiko menjelaskan operasi penangkapan dilakukan dengan dukungan informasi tambahan dari otoritas Amerika Serikat. Dalam operasi tersebut, empat anggota Kartel Jalisco New Generation (CJNG) tewas, dua orang ditangkap, serta aparat menyita kendaraan lapis baja dan peluncur roket.
Gubernur Jalisco, Pablo Lemus, meminta masyarakat tetap berada di rumah dan menghentikan sementara transportasi publik. Sekolah di beberapa negara bagian juga diliburkan sebagai langkah pengamanan. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum memuji aparat keamanan sekaligus mengimbau warga tetap tenang.
“Di sebagian besar wilayah nasional, aktivitas berlangsung dengan normal,” tulis Sheinbaum di platform X.
John Holman, koresponden Al Jazeera di Mexico City, menyebut El Mencho sebagai pemimpin tak terbantahkan CJNG sekaligus figur perdagangan narkoba paling kuat yang masih bebas di Meksiko. Ia memperingatkan kematian El Mencho berpotensi memicu perebutan kekuasaan internal di dalam kartel.
“Tidak ada penerus yang jelas bagi Oseguera. Kita bisa melihat bos-bos regional dalam kartel mulai berebut kekuasaan,” kata Holman kepada Al Jazeera.
Laporan The Guardian, Senin (23/2/2026), menyebut El Mencho merupakan mantan polisi yang menjadi salah satu pendiri CJNG sekitar 2007 bersama Erik Valencia Salazar setelah kematian Ignacio “Nacho” Coronel. Kartel yang berbasis di Jalisco itu dikenal luas karena tingkat kekerasan ekstrem serta penggunaan persenjataan bergaya militer.
CJNG tercatat pernah menyerang militer secara agresif, termasuk menembak jatuh helikopter tentara pada 2015. Mereka juga melakukan percobaan pembunuhan terhadap kepala kepolisian Mexico City pada 2020 menggunakan granat dan senapan berkekuatan tinggi. Badan Penegakan Narkoba Amerika Serikat (DEA) bahkan menilai kekuatan CJNG setara Kartel Sinaloa dengan jaringan di seluruh 50 negara bagian AS.
Sejak 2017, El Mencho beberapa kali didakwa di pengadilan distrik Amerika Serikat, termasuk kasus konspirasi distribusi metamfetamin, kokain, dan fentanyl untuk diselundupkan ke AS.
Sejumlah analis mengingatkan bahwa kematian pimpinan kartel tidak otomatis melemahkan jaringan kriminal tersebut. Mike Vigil, mantan kepala operasi internasional DEA, menilai aparat harus segera membongkar struktur organisasi dan jaringan keuangan kartel.
“Membunuh atau menangkap kepala kartel tidak akan berdampak besar. Mereka harus menyerang infrastruktur, logistik, pencucian uang, dan sayap bersenjata mereka,” kata Vigil kepada Al Jazeera.
“Jika tidak, akan ada harga mahal yang harus dibayar dalam bentuk kekerasan,” ujarnya seperti dikutip Al Jazeera.
Situasi keamanan ini menjadi tantangan baru bagi pemerintah Meksiko, terutama karena Guadalajara sedang bersiap menjadi salah satu kota tuan rumah Piala Dunia. Operasi yang dianggap sebagai keberhasilan strategis aparat berpotensi berkembang menjadi krisis keamanan lebih luas dalam beberapa bulan ke depan apabila konflik perebutan kekuasaan kartel tidak terkendali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Wajah TNI Tersangka Teror Air Keras Akan Terungkap di Sidang
- Kejagung: Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terima Suap Rp1,5 Miliar
- Tragedi Kahramanmaras: Siswa Tembaki Kelas, Telan 9 Korban Jiwa
- Kecelakaan Beruntun di Jalur Ngawi-Mantingan, Truk Tabrak Bus Mira
- BPJS Kesehatan Luncurkan 8 Program Percepatan Layanan, Ini Daftarnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Tiga Kapal Asing Ditangkap di Selat Malaka Rugikan Negara Miliaran
- DIY Masuk Fase Akhir Siklus Gempa Besar, Warga Diminta Waspada
- Lansia di Kulonprogo Alami Insiden Unik, Ditangani Damkar
- Aplikasi Angkotku Mulai Jalan, Warga Bantul Belum Bisa Akses
- Jadwal KA Prameks Hari Ini 16 April 2026, Tarif Tetap Rp8.000
- SPPG Didesak Tanggung Jawab Penuh Kasus Keracunan di Bantul
- Tragedi Kahramanmaras: Siswa Tembaki Kelas, Telan 9 Korban Jiwa
Advertisement
Advertisement









