Advertisement
PHRI Ungkap Hunian Hotel Masih Melemah di 2025, Ini Penyebabnya
Kendaraan melintasi kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) pada Minggu (30/3/2025) malam. Antara - Mario Sofia Nasution
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA— Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) memproyeksikan tingkat hunian hotel sepanjang 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Secara rata-rata, okupansi hotel diperkirakan turun hingga 4,5% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran mengatakan tren penurunan tersebut tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Berdasarkan catatan PHRI, rata-rata tingkat hunian hotel pada periode Februari hingga Oktober 2025 berada di bawah capaian periode yang sama pada 2024, kecuali Januari yang masih menunjukkan kenaikan.
Advertisement
Menurut Maulana, pelemahan okupansi juga terlihat pada momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 yang biasanya menjadi puncak tingkat hunian hotel. Pada kondisi normal, libur Natal yang jatuh pada 25 Desember—terutama jika berdekatan dengan akhir pekan—dapat mendorong okupansi hotel di atas 80% selama tiga hingga empat hari berturut-turut.
“Biasanya bisa empat hari berturut-turut okupansi tinggi di atas 80%. Tapi kali ini kelihatannya tidak terlalu banyak, paling lama hanya sekitar dua hari saja okupansi tertinggi rata-rata,” ujar Maulana kepada Bisnis, Kamis (1/1/2026).
BACA JUGA
Meski secara nasional tren okupansi melemah, PHRI mencatat sejumlah daerah tetap menjadi tujuan favorit wisatawan domestik. Kota-kota seperti Bandung, Yogyakarta, kawasan Puncak, hingga Surabaya masih menunjukkan pergerakan wisata yang relatif stabil.
Pulau Jawa, lanjut Maulana, masih menjadi magnet utama wisatawan nusantara. Faktor jumlah penduduk yang besar serta kemudahan akses transportasi menjadi keunggulan dibandingkan daerah di luar Jawa seperti Bali, Sumatra, dan Kalimantan.
Sebaliknya, sejumlah daerah di luar Pulau Jawa menghadapi kendala mobilitas akibat keterbatasan penerbangan. Pembatalan dan penundaan jadwal pesawat dinilai turut memengaruhi minat perjalanan wisata ke wilayah-wilayah tersebut.
Dari sisi wisatawan mancanegara (wisman), Maulana menjelaskan pintu masuk utama ke Indonesia masih didominasi Bali dan Jakarta. Selain itu, terdapat pula pintu lintas batas di wilayah Kepulauan Riau dan Batam. Namun, Bali dan Jakarta lebih berperan sebagai pusat transit penerbangan.
Ia menilai, selama ini pencatatan kunjungan wisman masih bertumpu pada data pintu masuk negara, tanpa mencerminkan pergerakan lanjutan wisatawan ke daerah lain di dalam negeri. PHRI pun mendorong adanya sistem data yang lebih rinci agar pemerintah daerah dapat memetakan peningkatan kunjungan wisman secara lebih akurat.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang secara nasional berada di level 52,84% pada Oktober 2025. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menyebutkan angka tersebut meningkat 2,68 poin secara bulanan (month-to-month/mtm), namun masih lebih rendah 2,83 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“TPK hotel klasifikasi bintang pada Oktober 2025 mencapai 52,84%. Angka ini naik secara bulanan, tetapi masih mengalami penurunan secara tahunan,” ujar Pudji dalam rilis BPS, Senin (1/12/2025).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
PAD Wisata Gunungkidul 2025 Meleset, Kebocoran Jadi Sorotan
Advertisement
Tiket Museum Nasional Disesuaikan, Lansia hingga Yatim Gratis
Advertisement
Berita Populer
- Prabowo: Bantuan Bencana Harus Lewat Mekanisme Resmi
- FORTUNE Indonesia 40 Under 40: Apresiasi Pemimpin Muda Berpengaruh
- Kulonprogo Terapkan Larangan Kantong Plastik Mulai 2026
- Prabowo: Bencana Sumatera Tak Perlu Status Nasional
- 20 Ribu Buruh Akan Demo Tolak UMP 2026 di Jakarta dan Bandung
- xAI Kembangkan Colossus di Memphis, Target Pusat Data AI Terbesar
- Malam Tahun Baru di Prambanan Tanpa Kembang Api, Langit Penuh Doa
Advertisement
Advertisement



