Advertisement

Jelajah Kuliner: Resep Leluhur Kopi Pit, Merawat Warisan dan Pengunci Kenangan

Sirojul Khafid
Jum'at, 30 September 2022 - 19:37 WIB
Budi Cahyana
Jelajah Kuliner: Resep Leluhur Kopi Pit, Merawat Warisan dan Pengunci Kenangan Jessica saat menunjukan foto kakek dan buyutnya di Kopi Pit Micro Roastery and Co-Working Space, Purworejo, Jawa Tengah, Senin (19/9/2022). - Harian Jogja/Sirojul Khafid

Advertisement

Harianjogja.com, PURWOREJO—Kopi pit, atau kopi sepeda, cukup banyak digemari di Purworejo, Jawa Tengah, meski namanya belum kondang benar. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Sirojul Khafid.

“Umur setahun, saya sudah diminta minum kopi sedikit-sedikit,” kata owner Kopi Pit, Jessica Trianto.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

“Biar enggak kejang. Karena masih kecil, ada takaran khusus.”

Saat kamu bergaul dengan penjual parfum, maka kamu akan tertular aroma wanginya. Istilah itu sepertinya cukup menggambarkan kondisi Jessica kala kecil. Keluarganya memang tidak berjualan parfum, tapi memproduksi kopi.

Alhasil, umur setahun dia sudah mencicipi kopi. Anak seusianya mungkin masih minum Orson, tapi tidak dengan Jessica. Meski Jessica belum menyeduh sendiri, apalagi berdiskusi tentang jalur kopi Nusantara, dia sudah menenggak kopi dengan takaran yang sedikit.

Jessica kecil tinggal bersama kakek-neneknya. Bagian depan rumah mereka menjadi toko, salah satunya menjual kopi. Bagian tengah rumah untuk tempat tinggal. Sementara bagian belakang untuk produksi kopi.

“Jadi keluar kamar sudah langsung bau kopi, sekolah bajunya bau kopi. Rasanya kopi sudah keseharian,” kata Jessica saat ditemui Tim Jelajah Kuliner: Merawat Masakan Warisan Leluhur di Kopi Pit Micro Roastery and Co-Working Space, Purworejo, Senin (19/9/2022).

Jelajah Kuliner merupakan kerja sama antara Harian Jogja, Badan Otorita Borobudur, dan Alfamart.

Advertisement

Meski tidak secara langsung belajar, Jessica tahu alur produksi sampai cara melihat kopi yang bagus. Dalam tahapan tertentu, hanya dengan sekali pegang dan cium, dia sudah tahu kadar air dalam biji kopi. Belum ada bayangan beberapa belas atau puluh tahun ke depan, Jessica akan menekuni dunia kopi. Meski akhirnya dia terjun juga, tanpa sengaja, dan sebenarnya tanpa rencana. Begini ceritanya.

Bermula dari kopi sepeda

Kita kembali ke tahun 1920. Sejak masa Indonesia belum merdeka. Eyang buyut Jessica sudah membuka toko kelontong. Barang yang dijual beragam, mulai dari kecap, tauco, kue satu, dan salah satunya kopi.

Advertisement

Salah satu cara berjualannya dengan menggunakan sepeda. Tiga anak eyang buyut yang semuanya laki-laki berjualan dengan berpencar. Kakek Jessica merupakan anak nomor tiga. Dalam penjualan berbagai barang ini, salah satu yang terlihat pesat perkembangannya adalah kopi. Lantaran dijajalan berkeliling dengan sepeda ini pula, kopi identik dengan sebutan kopi sepeda.

Penjualan toko kelontong akhirnya lebih banyak pada produk kopi. Seiring dengan perkembangan toko, anak pertama dan kedua lebih memilih menekuni pendidikan dokter. Sementara anak ketiga alias kakek Jessica yang kemudian meneruskan usaha kopi keluarga ini.

Namun pada 1950, merek kopi sepeda tenggelam. Kala itu, salah satu penerus kopi sepeda memilih membuat merek baru. Kopi sepeda ‘tidur’ untuk waktu yang cukup lama, sampai si kakek menghubungi Jessica yang kala itu masih merantau di Jakarta.

BACA JUGA: Jelajah Kuliner: Cara Clorot Purworejo Merawat Tradisi Bersama Teknologi

Advertisement

Jessica kuliah dan bekerja di Jakarta. “Saya dulu daftar kerja, di situ enggak tertulis bakal ngurusin kopi, tapi ternyata ngurusin kopi juga. Waktu itu, perusahaan mau bikin satu brand buat ngelawan brand internasional,” kata Jessica, lulusan Universitas Pelita Harapan Program Studi Akuntansi.

“Jadi kayaknya emang panggilan, orang ngomong kalau nurutin passion enggak makan, ternyata salah, passion will find you.”

Setelah berbagai bujukan untuk pulang, serta situasi di Jakarta yang seakan mengarahkan kembali ke dunia kopi, akhirnya Jessica pulang ke Purworejo. Dia mau pulang asalkan boleh membangkitkan kembali kopi sepeda yang saat itu masih tidur nyenyak.

Advertisement

Rebranding berlangsung. Nama kopi sepeda berubah menjadi kopi pit agar lebih mudah diucapkan. Ada juga alasan lain. “Kenapa pit? Itu Jawa banget, karena orang Jawa jadi biar Jawa banget.”

Brand Baru, Resep Lama

Kopi pit masih mempertahankan resep kopi sejak pertama kali muncul 1920. Mereka juga masih menggunakan perapian dengan kayu bakar. Rasa kopi dari pengapian kayu bakar dibanding dengan model lain ternyata berbeda.

Alat pemanggangan juga masih menggunakan model lama, dengan beberapa penyesuaian, salah satunya penambahan alat pengatur suhu. Modifikasi mesin juga terkait dengan segmen konsumen.

Advertisement

Pemasok biji kopi sebagian merupakan pemasok awal kopi sepeda. Sama seperti Jessica, mereka merupakan pengelola penerus dari ayah atau kakek. Biji kopi ini berasal dari lereng Gunung Sumbing, Pegunungan Menoreh, dan lainnya. Sumber daya biji kopi berasal dari Purworejo.

“Jadi kami ini produsen kopi. Banyak yang nanya kenapa enggak pegang semua, dari hulu ke hilir. Enggak, kami konsepnya kolaborasi,” kata Jessica yang saat ini berumur 29 tahun.

“Petani kopi dari dulu sudah jadi mitra kami, banyak juga petani kopi mitra sejak opa saya, sudah tahu kualitas dan taste-nya seperti apa, lahan kopi mereka juga sudah turun ke anak atau cucunya.”

Jessica tidak ingin mengambil bagian ekonomi orang lain dengan juga terjun sebagai petani kopi. Meski mungkin saja dengan menjadi petani kopi, biaya produk dan kualitas bisa terjamin. “Jangan ambil bagian yang bukan bagianmu, saya bagiannya produsen akan tetap jadi produsen. Ayo sukses bareng-bareng, sugih bareng-bareng. Enakan sinergi, gimana caranya berkembang bareng,” katanya.

Advertisement

Sejak terjun secara langsung di usaha Kopi Pit pada 2019, salah satu inovasi yang Jessica ciptakan berupa kopi tubruk yang sudah dicampur dengan gula. Jenis ini untuk konsumen yang ingin instan namun tetap mendapatkan rasa kopi ala café.

Inovasi ini Jessica ramu di saat pandemi Covid-19 mulai menyebar luas, termasuk di Purworejo. Banyak yang berkegiatan di rumah, namun ingin merasakan ngopi yang ‘sebenarnya.’

“Ada juga jenis kopi untuk konsumen café. Enggak terkotak pada satu segmen. Banyak juga yang kulakan untuk warung dan lainnya, biasanya yang saset, tubruk plus gula untuk angkringan. Misal ada yang mau buat oleh-oleh, ada yang paper packaging, biar kopinya enggak ngabar,” katanya.

Harga satu saset kopi pit Rp11.000m berisi 10 bungkus. Special Crigin harganya Rp25.000 berisi 12 saset kecil seberat 8 gram. Black Prime untuk 117 gram seharga Rp20.000. Sementara untuk Robusta Special dengan berat 190 gram harganya Rp35.000.

Dalam sepekan, Kopi Pit saset rata-rata terjual tiga kardus. Satu kardus berisi 20 renteng. Produk best seller saat ini berupa Special Origin. “Sebagian besar packaging-nya modern, tapi masih ada satu produk yang packaging-nya jadul. Ini kadang orang kangen sama yang jadul, ini terinspirasi oleh kakek saya. Dia punya produk seperti ini bungkusnya, saya ambil desainnya,” kata Jessica sembari memperlihatkan produk Kopi Pit dengan bungkus jadul berupa kertas.

Menghidupkan Kenangan

Tidak ada jalan yang selalu mulus, termasuk mempertahankan warisan leluhur berupa Kopi Pit ini. Meski secara resep sudah terjamin lebih dari 100 tahun lalu. Namun perkembangan zaman menuntut Jessica untuk terus beradaptasi. Selain inovasi produk, Jessica juga perlu terus belajar tentang marketing dan sejenisnya.

Terlepas dari hal itu, Kopi Pit masih bertahan sampai sekarang juga sebuah prestasi. Lantaran banyak orang yang datang di rumah produksi Kopi Pit, Jessica membuat sejenis micro roastery and co-working space. Dengan demkian, tamu bisa minum kopi sembari istirahat. Begitu juga penikmat kopi lainnya.

Agar bisa menemani kopi, ada pula menu-menu cemilan sampai makanan berat. Hidangan selain kopi berasal dari resep ibu Jessica yang juga merupakan warisan turun-temurun.

Masyarakat bisa menikmati Kopi Pit yang berada di Jalan Sampurna No. 9, Dusun I, Pekutan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Dari Alun-Alun Kutoarjo sekitar 2,5 km. Sementara dari Alun-Alun Purworejo berjarak sekitar 10 km.

Penikmat kopi bisa juga memesannya secara daring atau saat Kopi Pit mengikuti expo di berbagai kota di Indonesia. Sejauh ini, Kopi Pit sudah memiliki perpanjangan tangan distributor di Jakarta dan Jawa Timur.

BACA JUGA: Jelajah Kuliner: Leker Pak Min, dari Imajinasi sampai Terealisasi

Siapa tahu, dengan meminum kopi yang resepnya sudah melebihi lahirnya Indonesia ini, akan muncul juga kenangan-kenangan masa lalu. Seperti tiga teman Jessica yang pernah mencicipi Kopi Pit.

“Kemarin ada tiga orang teman saya, sesama penikmat kopi. Setelah minum kopi ini, mereka ketawa-ketawa sendiri,” kata Jessica.

“Katanya mereka inget waktu zaman kuliah atau awal kerja dulu, saat minum kopi ini di pinggiran kali, waktu belum punya uang banyak, ngembaliin memori lama mereka.”

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Piala Dunia 2022

Advertisement

alt

Kendaraan Berat Dilarang lewat Piyungan-Patuk hingga Desember

Jogja
| Senin, 28 November 2022, 19:27 WIB

Advertisement

alt

Sajian Musik Etnik Dihadirkan Demi Hidupkan Wisata Budaya Kotagede

Wisata
| Senin, 28 November 2022, 08:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement