Advertisement

Mengenal Soetomo, Dokter Sekaligus Wartawan di Balik Kebangkitan Nasional Indonesia

Faustina Prima Martha
Jum'at, 20 Mei 2022 - 13:17 WIB
Budi Cahyana
Mengenal Soetomo, Dokter Sekaligus Wartawan di Balik Kebangkitan Nasional Indonesia Dr. Soetomo dan istrinya Everdina Bruring, seorang perawat berkebangsaan Belanda. - kemdikbud.go.id

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA - Dr. Soetomo menjadi sosok penting di balik Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei. Dia merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia.

Soetomo dikenal sebagai pendiri organisasi Budi Utomo yang sangat berperan pada masa pergerakan nasional.

Advertisement

Dikutip dari situs Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI), Jumat (20/5/2022) Dr. Soetomo memiliki nama asli Soebroto ini lahir di desa Ngepeh, Trenggalek, Jawa Timur, 30 Juli 1888. Ayahnya adalah R. Suwaji yang bekerja sebagai wedana di Maospati, Madiun, kemudian pindah bekerja menjadi ajun jaksa di Madiun.

Soetomo mengecap pendidikan di Sekolah Rendah Bumiputera, kemudian dipindahkan ke Bangil, Jawa Timur agar dapat masuk Sekolah Rendah Belanda (ELS/Europeesche Lagere School). Dia ikut pada pamannya, Harjodipuro. Putera pamannya Sahit berhasil masuk ELS, tetapi Soebroto tidak diterima. Pamannya tidak putus asa, esok harinya keponakannya yang ditolak masuk ELS itu dibawanya lagi ke sekolah itu. Akhirnya, pamannya mengganti nama Soebroto menjadi Soetomo sehingga dia bisa diteria di ELS.

Pada tahun 1903, Soetomo menempuh pendidikan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), Batavia. Kurang lebih empat bulan sesudah bertemu dengan dokter Wahidin, dia memimpin pertemuan yang dihadiri oleh para pelajar STOVIA.

Soetomo berpidato dengan tenang tanpa emosi, menjelaskan gagasannya secara singkat, terang dan jelas. Pertemuan yang bersejarah itu dilangsungkan di salah satu ruang STOVIA pada tanggal 20 Mei 1908.

Setelah lulus dari STOVIA tahun 1911, Soetomo bertugas sebagai dokter, mula-mula di Semarang, lalu pindah ke Tuban, kemudian berpindah Lubuk Pakam, Sumatra Timur. Setelah itu, dia bertugas di Malang. Ketika bertugas di Malang, dia membasmi wabah pes yang melanda daerah Magetan. Pada tahun 1917, Soetomo menikah dengan seorang perawat Belanda.

Soetomo banyak memperoleh pengalaman dari seringnya berpindah tempat tugas. Dia pun semakin banyak mengetahui kesengsaraan rakyat dan secara langsung dapat membantu mereka. Sebagai dokter, dia tidak menetapkan tarif, bahkan adakalanya pasien dibebaskan dari pembayaran.

Mendirikan ISC

Kemudian, pada tahun 1924, dia mendirikan Indonesische Studie Club (ISC) yang merupakan wadah bagi kaum terpelajar Indonesia. Kegiatan dan kedudukan Soetomo dalam masyarakat membawa ia ke jenjang politik praktis. Dia diangkat menjadi anggota Dewan Kota (Gemeen-teraad) Surabaya.

Advertisement

Dalam dewan ini, dia memperjuangkan nasib rakyat antara lain mengusulkan perbaikan kesehatan dan nasib mereka, tetapi usul-usulnya selalu dikalahkan oleh suara terbanyak yang tidak berorientasi kepada rakyat, tetapi kepada pemerintah kolonial.

Perhatiannya terhadap ISC tidak pernah ditinggalkan. Berkat pimpinannya, organisasi ini giat melakukan usaha-usaha yang berguna di bidang ekonomi dan sosial. Bersama teman-teman lain, Soetomo memprakarsai berdirinya Bank Bumiputera yang dalam tahun 1929 menjadi Bank Nasional. Selain itu, didirikan pula Yayasan Gedung Nasional (GNI) yang langsung dipimpin oleh Soetomo.

Pada tanggal 11 Oktober 1930 ISC berkembang menjadi partai, yakni “Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) yang langsung diketuai Soetomo.

Advertisement

Selain aktif di bidang politik dan kedokteran, Soetomo pernah menjadi wartawan yang aktif dalam bidang jurnalistik. Dia bahkan memimpin beberapa surat kabar.

Pada tanggal 17 Februari 1934, Soetomo mendapat musibah, istrinya Everdina Bruring meninggal dunia. Musibah itu dirasakan berat oleh Soetomo seperti dia ltuliskan dalam bukunya “Kenang-Kenangan”. Empat tahun kemudian, Soetomo jatuh sakit. Pada tanggal 30 Mei 1938 dalam usia 50 tahun Soetomo tutup usia.

Jenazahnya dikebumikan di belakang “Gedung Nasional Indonesia”, Bubutan, Surabaya atas permintaannya sendiri.

Kiprah Budi Utomo

Advertisement

Dalam pertemuan tanggal 20 Mei 1908, Dr. Soetomo, Dr. Wahidin, dan lainnya sepakat membentuk sebuah organisasi yang diberi nama “Budi Utomo”. Soetomo dipilih sebagai ketuanya. Organisasi itu adalah organisasi modern pertama yang didirikan di Indonesia. Hari lahirnya, 20 Mei yang kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena Budi Utomo dianggap mendorong berdirinya organisasi-organisasi, bahkan partai-partai politik di kemudian hari.

Gedung STOVIA di mana Budi Utomo lahir sekarang menjadi Gedung Kebangkitan Nasional.

Budi Utomo tidak hanya memajukan pendidikan, tetapi juga pertanian, pertukangan kayu, kulit dan lain-lain disamping memajukan kebudayaan Jawa serta mempererat persahabatan penduduk Jawa dan Madura.

Advertisement

Di bidang pendidikan, Budi Utomo bertujuan untuk mendirikan sekolah-sekolah, rumah-rumah sewaan untuk anak-anak sekolah/asrama dan mendirikan perpustakaan-perpustakaan.

Untuk merealisasi maksud dan tujuan itu, Soetomo dan kawan-kawannya mengadakan hubungan dengan pelajar-pelajar dari kota-kota lain. Dengan cara demikian berdirilah cabang-cabang Budi Utomo di Bogor, Bandung dan Magelang.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Memprihatinkan! Warga di Gunungukidul Ini Terpaksa Berjalan 5 Km untuk Akses Sinyal

Gunungkidul
| Senin, 27 Juni 2022, 18:27 WIB

Advertisement

alt

Daftar 10 Kota Paling Layak Huni di Dunia

Wisata
| Sabtu, 25 Juni 2022, 23:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement