Advertisement
Ketua Paranormal Sebut Pawang Tak Bisa Mengendalikan Hujan
Rara Istiati Wulandari - JIBI
Advertisement
Harianjogja.com, SOLO—Ketua Paranormal Jawa Tengah menyebut pawang hujan sebenarnya tidak bisa benar-benar mengendalikan hujan.
BACA JUGA: April, Pelabuhan Gesing Gunungkidul Mulai Dibangun dengan Anggaran Rp150 Miliar
Advertisement
Sebutan pawang hujan yang disematkan kepada Rara Istiani Wulandari, perempuan yang dianggap bisa mengendalikan hujan saat MotoGP 2022 di Sirkuit Mandalika, dianggap sebagai kesalahan.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Forum Keluarga Paranormal dan Penyembuh Alternatif Indonesia (DPD FKPPAI) Jawa Tengah, Ki Joni Asmoro, mengatakan pawang hujan bukanlah pengendali hujan. Menurut dia, ahli spiritual seperti dirinya tidak benar-benar bisa mengendalikan hujan dan hanya memiliki kemampuan berkomunikasi dengan alam.
“Sebenarnya bukan pawang. Kalau pawang itu harus bisa mengendalikan. Kalau kami [ahli spiritual] hanya berkomunikasi dengan alam, mintanya juga kepada Tuhan,” terang dia saat ditemui Jaringan Informasi Bisnis Indonesia dalam Sadranan Ageng Kraton Kartasura, Sabtu (26/3/2022).
Isi permintaan itu adalah doa agar tidak turun hujan, bukan melakukan ritual yang benar-benar memperlihatkan kemampuan menggeser awan.
“Bukan menggeser awan ya, hanya meminta pada Tuhan supaya tidak diturunkan hujan. Maka dari doa itu Tuhan mengabulkan dan menggeser awan,” kata dia
Hal senada disampaikan seorang tabib asal Boyolali, Jawa Tengah, Kanjeng Toton. Praktisi pengobatan alternatif ini menyebut pemberian nama pawang hujan adalah sebutan dari masyarakat. Dia menegaskan label itu tidak tepat
“[Label] pawang itu diberikan dari masyarakat, sebetulnya juga bukan pawang. Dan tidak ada manusia yang bisa berkomunikasi dengan malaikat, semuanya berdasar dari kekuatan doa kepada Tuhan,” katanya saat ditemui dalam kegiatan Sadranan Ageng Kraton Kartasura, Sabtu (26/3/2022).
Pawang hujan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai orang yang pandai menolak hujan.
BACA JUGA: Dua Bulan Pindah, Omzet Pedagang Malioboro Masih Seret
Jasa mereka biasanya dipakai dalam acara khusus yang digelar di musim hujan, salah satunya dalam gelaran MotoGP Mandalika. Dilansir dari unggahan Instagram @budayasaya milik Ditjen Kebudayaan Kemdikbud RI beberapa kebudayaan di Indonesia memiliki sebutan yang berbeda bagi pawang hujan, seperti dukun pangkeng bagi masyarakat Betawi, Nerang Hujan bagi masyarakat Bali, dan Bomoh bagi masyarakat Melayu di Riau.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Hujan Lebat dan Petir Mengintai Sejumlah Wilayah Hari Ini
- Bupati Tulungagung Pakai Surat Pernyataan Mundur untuk Peras Pejabat
- Daftar 10 OTT KPK 2026, Pejabat Daerah Berguguran
- Ruang Menteri Ikut Digeledah, Dody Mengaku Tak Tahu Kasusnya
- Pesawat Militer AS Lepas Landas dari Tel Aviv di Tengah Negosiasi Iran
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Google Disanksi, Komdigi Beri Waktu 7 Hari Patuhi Aturan Anak
- Harga Plastik Naik, Momentum Kurangi Kantong Sekali Pakai
- Agar Kuat Tawaf dan Sai, Calon Haji Wajib Latihan Ini
- Film Rumah Ketigaku Soroti Kerentanan Pekerja Migran
- Atalanta vs Juventus Skor 0-1, Si Nyonya Tua Naik Peringkat Keempat
- Banjir dan Pohon Tumbang Terjang Jogja Usai Hujan Lebat
- Innova Oleng Tabrak Truk di Jalan Jogja-Solo, Sopir Luka Parah
Advertisement
Advertisement









