Covid-19 Melonjak, Eropa Dilanda Kerusuhan Akibat Lockdown dan Pembatasan

Tenaga medis bekerja di tenda dan bangunan darurat yang dibuat untuk membantu sistem perawatan kesehatan di kawasan rumah sakit di Brescia, Italia, Jumat (13/3/2020). Penyebaran wabah virus corona (Covid-19) di Italia cukup signifikan dengan pertumbuhan jumlah kematian pasien yang mencapai 14 persen. Bloomberg - Francesca Volpi
21 November 2021 22:57 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -- Kerusuhan meletus di Belanda terkait pemberlakuan aturan penguncian baru di tengah meningkatnya kasus Covid-19 di Eropa. Orang-orang melemparkan kembang api ke polisi dan membakar sepeda di Den Haag. Kejadian itu berlangsung setelah protes di Rotterdam berubah menjadi kekerasan dan polisi melepaskan tembakan.

Ribuan demonstran juga turun ke jalan-jalan di Austria, Kroasia, dan Italia saat kemarahan memuncak atas pembatasan baru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan sangat khawatir tentang meningkatnya kasus virus corona di benua itu.

Direktur regionalnya, Hans Kluge mengatakan kepada BBC bahwa kalau tidak ada tindakan ketat di seluruh Eropa, setengah juta lebih banyak kematian dapat akan pada musim semi berikutnya. "Covid-19 sekali lagi menjadi penyebab kematian nomor satu di wilayah kami," katanya.

Para perusuh berkerudung membakar sepeda di jalan-jalan Den Haag, ketika polisi anti huru hara yang menunggang kuda mencoba membubarkan massa. Pejabat kota mengumumkan perintah darurat dan setidaknya tujuh orang ditangkap.

Polisi mengatakan seseorang melemparkan batu melalui jendela ambulans yang lewat membawa seorang pasien. Sementara, petugas di kota men-tweet bahwa lima polisi terluka dan satu dibawa pergi dengan ambulans karena cedera lutut.

Bentrokan terjadi setelah kerusuhan malam di Rotterdam yang dikecam oleh wali kota kota itu sebagai pesta pora kekerasan. Polisi terpaksa melepaskan tembakan peringatan dan tembakan langsung karena situasinya mengancam jiwa, kata seorang juru bicara polisi seperti dikutip BBC.com pada Minggu (21/11/2021).

Setidaknya tiga demonstran menerima perawatan di rumah sakit karena luka tembak, kata petugas. Pihak berwenang pun telah meluncurkan penyelidikan atas insiden tersebut.

Belanda memberlakukan penguncian parsial tiga minggu sejak Sabtu lalu setelah mencatat rekor lonjakan kasus Covid-19. Bar dan restoran harus tutup pada pukul 20:00 dan keramaian dilarang di acara olahraga.

Sementara itu, puluhan ribu orang menggelar aksi protes di ibu kota Austria, Wina, setelah pemerintah mengumumkan penguncian nasional baru dan berencana untuk membuat vaksinasi wajib pada Februari 2022. Ini adalah negara Eropa pertama yang membuat vaksinasi sebagai persyaratan hukum.

Mengacungkan bendera nasional dan spanduk bertuliskan "Kebebasan", para pengunjuk rasa berteriak "Perlawanan!" dan mencemooh polisi.

Negara ini akan memasuki penguncian nasional 20 hari mulai Senin dengan menutup semua layanan kecuali toko-toko penting dan memerintahkan orang untuk bekerja dari rumah.

Di Kroasia, ribuan orang berbaris di ibu kota Zagreb untuk menunjukkan kemarahan mereka pada vaksinasi wajib bagi pekerja sektor publik. Sedangkan di Italia, beberapa ribu pengunjuk rasa berkumpul di tempat balap kereta Circus Maximus kuno untuk menentang sertifikat "Green Pass" yang diperlukan di tempat kerja.

Sumber : bbc.com