Hotel di Bali Marak Dijual, PHRI: Berpotensi Merembet ke Daerah Lain

Vaksinasi karyawan hotel dan restoran di Jakarta pada Senin (24/5/2021). - Antara/Adimas Raditya
01 September 2021 04:37 WIB Rahmad Fauzan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Maraknya penjualan hotel di Provinsi Bali berpotensi merembet ke seluruh destinasi wisata di seluruh Tanah Air. Hotel menengah ke bawah disebut menjadi segmen yang paling rentan untuk dijual akibat menderita dampak pandemi Covid-19.

Sekretaris Jenderal Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan masalah penjualan hotel di Bali tidak dapat dihindari setelah 6 juta wisatawan yang biasanya melancong tiap tahun ke Pulau Dewata raib karena pandemi.

Menurut data PHRI, sebanyak 70 persen penghuni hotel di Tanah Air merupakan wisatawan mancanegara (wisman). Sementara itu, wisatawan domestik tidak mampu mensubstitusi kontribusi wisman.

"Di daerah lain, juga sudah terlihat indikasi potensi penjualan hotel. Dengan kata lain, situasi tersebut hampir dipastikan bakal merembet ke hotel-hotel di daerah destinasi wisata lain," kata Maulana kepada Bisnis, Selasa (31/8/2021).

Apabila dilihat dari segi segmen, sambungnya, hotel menengah ke bawah bisa diasumsikan tidak bisa bertahan dalam masa pandemi. Pada umumnya hotel-hotel tersebut hanya memiliki sumber pendapatan dari bisnis perhotelan sehingga sangat rentan.

Sementara hotel-hotel yang tergabung dalam grup bisnis, relatif mampu bertahan melalui mekanisme subsidi silang dari lini bisnis lain yang masih menghasilkan pemasukan. Hal tersebut dinilai cukup mampu membuat hotel di segmen menengah ke atas bertahan selama masa pandemi.

Baca juga: Gerindra dari Daerah Ini Berambisi Usung Prabowo di Pilpres 2024

"Perbandingan antara hotel menengah ke atas dan menengah ke bawah cukup signifikan. Saat ini, sebanyak 70 persen hotel di Tanah Air rentan dijual karena berstatus menengah ke bawah dan sisanya adalah hotel menengah ke atas," jelasnya.

Dengan demikian, dia menilai harus ada intervensi dari pemerintah agar hotel-hotel tersebut bisa bertahan. Terutama, intervensi dari segi penyaluran modal melalui sektor perbankan serta insentif biaya lain seperti listrik, pajak, dan tenaga kerja.

Sebagai informasi, data PHRI Bali yang dikutip dari laporan Bank Indonesia mengungkapkan terdapat 48 hotel yang telah dijual sebagai dampak krisis yang disebabkan Covid-19 terhadap hotel dan restoran.

Dari 48 hotel yang dijual tersebut, wilayah Badung berkontribusi paling banyak dengan 41 hotel. Sisanya, 4 hotel berada di Denpasar dan 3 hotel berada di Gianyar.

Sementara itu, berdasarkan kategorinya, hotel bintang empat paling banyak dijual dengan jumlah 19 hotel. Kemudian, 14 hotel berbintang tiga, 8 hotel berbintang lima, dan 7 hotel berbintang dua.

Sumber : bisnis.com