Studi: Efektivitas Vaksin Covid-19 Turun Setelah Varian Delta Menyebar

Ilustrasi - Antara
25 Agustus 2021 17:47 WIB Nindya Aldila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pusat Pengendalian dan Pencegahan penyakit (CDC) Amerika Serikat melaporkan penurunan efektivitas vaksin menjadi 66 persen di antara pekerja garis depan seiring dengan menyebarnya Virus Corona varian Delta di dunia.

Angka tersebut berkurang dari 91 persen sebelum varian Delta belum berkembang.

Dilansir Bloomberg pada Rabu (25/8/2021), CDC mengatakan vaksin masih memberikan proteksi, maka temuan tersebut harus ditafsirkan dengan hati-hati. Menurut lembaga di bawah Kementerian Kesehatan AS ini, efektivitas vaksin mungkin berkurang seiring waktu dan prediksi efikasi tidak tepat.

"Meskipun temuan sementara ini menunjukkan efektivitas vaksin menurun secara moderat dalam mencegah infeksi, menurunnya dua per tiga risiko infeksi yang berkelanjutan menunjukkan pentingnya dan manfaat dari vaksinasi Covid-19, ” tulis para peneliti dalam laporan pekanan Morbidity and Mortality.

Temuan menunjukkan adanya ketidakpastian yang cukup tinggi soal efikasi vaksin Covid-19, di mana peneliti melaporkan kepercayaan sebesar 95 persen bahwa efikasi vaksi berkisar antara 26-84 persen pada periode tersebut.

Studi observasi dilakukan pada 4.000 tenaga kesehatan dan pekerja garis depan di delapan lokasi di AS sejak Desember 2020 - Agustus 2021. Sebanyak 83 persen dari mereka telah divaksin.

Sekitar dua per tiga responden menggunakan vaksin Pfizer Inc.-BioNTech SE, dua persen Johnson & Johnson, dan sisanya menggunakan Moderna. Secara keseluruhan, vaksinasi efektif hingga 80 persen untuk mencegah penularan selama masa studi.

Temuan dengan hasil serupa juga pernah dilakukan di Israel dan Inggris, di mana vaksin kehilangan kemampuannya untuk mencegah infeksi. Untuk itu, hasil studi ini masih dalam pengawasan setelah CDC menyarankan pemerintahan Biden untuk memberikan dosis ketiga bagi sebagian besar penerima vaksin di AS.

Hingga saat ini, izin pemberian dosis ketiga atau booster masih menunggu sinyal dari Administrasi Makanan dan Obat (FDA). Pertimbangan soal booster masuk dalam agenda rapat CDC.

Sumber : JIBI/Bisnis.com