Investasi Alat Kesehatan Bakal Capai Rp5,7 Triliun hingga 2024

Ilustrasi - Pekerja mengemas masker di pabrik alat kesehatan PT Kasa Husada Wira Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (31/1/2020). - ANTARA / Didik Suhartono
11 Agustus 2021 06:57 WIB Ipak Ayu News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Industri alat kesehatan (alkes) dengan struktur 90 persen impor membuat pemerintah menginginkan adanya kemandirian secara nasional. Sejumlah dukungan pun digencarkan dengan sejumlah kemudahan regulasi agar semakin mengundang investasi baru masuk.

Sekretaris Jenderal Gabungan Alat-Alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) Indonesia Randy H. Teguh mengakui iklim investasi di Indonesia saat ini sudah sangat baik. Ditambah peluncuran Online Single Submission atau OSS berbasis resiko tentu akan menjadikan perizinan semakin mudah.

Selaras dengan hal tersebut Gakeslab juga menyebut, pihaknya akan terus mendukung upaya pemerintah untuk terus merealisasikan investasi baik dari perusahaan lokal maupun global. Adapun, dalam tiga tahun terakhir nilai investasi dari Gakeslab sebesar Rp4 triliun.

"Kemudian akan ada tambahan sampai 2024 sebesar Rp1,7 triliun dari 24 hingga 25 perusahaan," katanya dalam webinar, Selasa (10/8/2021).

Randy menjabarkan dari nilai investasi di atas 53 persen dalam bentuk pembangunan wilayah produksi atau pabrik, 31 persen contract manufacturing atau OEM, dan 16 persen sentra pelatihan.

Menurut Randy nilai investasi di industri alkes memang tidak besar. Bahkan, tak jarang hanya Rp100 miliar per perusahaan.

Namun, Randy memastikan setiap investasi yang bergulir tentu akan memberi efek domino dan nilai kemanfaatannya yang besar apalagi mengingat sangat pentingnya kemandirian alkes setelah disadarkan oleh pandemi Covid-19.

Sisi lain, Randy menyebut investasi baru hingga 2024 nantinya juga tidak hanya datang dari produk terkait Covid-19. Namun, banyak diferensiasi produk yang akan masuk dan tentunya sesuai kebutuhan yang ada.

"Investasi alkes juga sedang menyasar kawasan industri Batang dengan kebutuhan lahan 10-20 hektare saja, jadi kami mohon bantuan pemerintah untuk kemudahan ini," ujar Randy.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia