Siloam Hospitals Buka Suara soal Perawatnya yang Jadi Korban Kekerasan

Rumah Sakit Siloam Lippo Village - Dok. Situs Siloam
17 April 2021 04:47 WIB Annisa Margrit News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Baru-baru ini sebuah video yang menunjukkan aksi kekerasan terhadap perawat viral di media sosial. Korban diketahui sebagai perawat di RS Siloam Sriwijaya Palembang.

Siloam Hospitals menyesalkan tindakan kekerasan yang dialami perawatnya yang dilakukan oleh keluarga pasien.

Dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Jumat (16/4/2021), Direktur RS Siloam Sriwijaya Palembang dr. Bona Fernando mengatakan tenaga perawat dan kesehatan adalah garda terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, tenaga kesehatan perlu mendapatkan apresiasi yang tinggi.

Dia menyatakan Siloam Hospitals berkomitmen memberikan pelayanan optimal kepada pasien dan untuk itu, menciptakan serta menjaga lingkungan kerja yang aman dan kondusif bagi tenaga kesehatan agar dapat bekerja optimal dalam pelayanan kepada pasien.

Baca juga: Pemkab Sleman Tunggu Arahan Pusat & Provinsi Soal Penyekatan Mudik Lebaran

"Siloam Hospitals menyesali tindakan kekerasan yang ditujukan kepada perawat kami di Siloam Sriwijaya. Kekerasan terhadap tenaga kesehatan adalah tindakan yang tidak dapat ditolerir," tegas Bona.

Pihak Siloam Hospitals pun menyerahkan kasus ini kepada Kepolisian untuk mengusut tuntas kekerasan yang terjadi terhadap perawatnya dan menindak pelaku dengan tegas sesuai hukum yang berlaku.

Dia melanjutkan Siloam Hospitals memohon doa bagi perawat yang menjadi korban. Masyarakat pun diharapkan dapat menghargai semua tenaga kesehatan yang berjuang memberikan pelayanan di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya.

Pernyataan ini merujuk kepada insiden yang terjadi di RS Siloam Sriwijaya pada Kamis (15/4/2021). Dalam peristiwa yang juga direkam dan beredar di media sosial tersebut, terlihat seorang pria menganiaya perawat di rumah sakit tersebut.

Dalam video yang beredar, disebutkan bahwa pria itu adalah keluarga salah satu pasien. Tindakan yang dilakukannya disebut dilatarbelakangi pelepasan infus terhadap pasien yang berusia 2 tahun ketika pasien yang bersangkutan akan pulang.

Pelaku disebut tidak terima karena ketika setelah infus dilepas dan bekas lokasi infus dipasangi plester, plester tersebut lepas yang mengakibatkan keluarnya darah.

Pihak rumah sakit sebelumnya menyampaikan bahwa pelepasan infus telah melalui SOP dan masalah tersebut sebenarnya sudah selesai, tetapi pihak keluarga tetap tidak terima.

Sumber : bisnis.com