Sambaran Petir Makin Banyak, Warga Jateng Diminta Waspada

Ilustrasi - Freepik
17 Februari 2021 17:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, PURWOKERTO - Sambaran petir meningkat di tengah puncak musim hujan saat ini. Kasus kebakaran kapal nelayan di Cilacap akibat sambaran petir pada Selasa (16/2/2021) malam menjadi salah satu contohnya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga Jawa Tengah mewaspadai kemungkinan terjadinya sambaran petir.

Imbauan BMKG soal bahaya sambaran petir khususnya disampaikan untuk warga yang bermukim di wilayah pegunungan tengah Jateng, Cilacap, dan Pekalongan.

"Sekarang Jawa Tengah sedang puncak-puncaknya musim hujan. Jadi, memang aktivitas petir di pegunungan tengah, selatan, Cilacap, dan Pekalongan itu relatif sangat banyak," kata Kepala Stasiun Geofisika BMKG Banjarnegara Setyoajie Prayoedie saat dihubungi Antara dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Rabu (17/2/2021).

Dia mengatakan hal itu terkait kebakaran sebuah kapal nelayan di Cilacap akibat sambaran petir pada Selasa (16/2/2021) malam.

Jika kebakaran kapal tersebut akibat sambaran petir, kata dia, hal itu mungkin dapat terjadi karena saat sekarang sedang musim hujan dan tren cuaca ekstrem sedang mengalami peningkatan.

"Tapi perlu diingat bahwa petir itu belum bisa diprediksi," ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengakui kejadian sambaran petir di wilayah Jateng dan sekitarnya dalam dua bulan terakhir menunjukkan peningkatan.

Dalam hal ini, kata dia, sambaran petir pada bulan Desember 2020 tercatat sebanyak 45.901 kejadian dengan aktivitas petir tertinggi pada 2 Desember 2020 yang mencapai 11.029 kejadian.

Sementara pada Januari 2021, jumlah sambaran petir tercatat sebanyak 193.446 kejadian dengan aktivitas petir tertinggi terjadi pada 12 Januari 2021 yang mencapai 24.691 kejadian.

Ajie, panggilan akrab Setyoajie Prayoedie, mengatakan jika dibandingkan dengan Desember 2020, jumlah sambaran petir pada Januari 2021 menunjukkan peningkatan yang signifikan.

"Kalau untuk bulan Februari 2021, pendataannya masih berjalan karena laporannya dibuat bulanan," ujar Ajie.

Ia mengatakan berdasarkan analisis BMKG Stasiun Geofisika Banjarnegara, wilayah Jateng yang potensi sambaran petirnya tergolong tinggi adalah Cilacap, Banjarnegara, Pekalongan, dan Tegal.

Terkait hal itu, dia mengimbau masyarakat yang berada di wilayah tersebut untuk waspada terhadap potensi sambaran petir.

"Rencananya, tahun depan kami akan memasang sensor [pemantau sambaran petir] di Cilacap," katanya.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap Sarjono mengatakan sebuah kapal nelayan yang sedang bersandar di Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Cilacap mengalami kebakaran setelah tersambar petir pada Selasa (16/2) malam.

"Nama kapalnya Kartika Jaya. Kapal tersebut sedang bersandar, belum sempat melaut," katanya.

Saat kejadian, kapal berukuran 33 gros tonage (GT) tersebut berada paling tepi di antara kapal-kapal yang sedang bersandar di PPS Cilacap.

"Kalau berada di tengah, kapal-kapal lainnya ikut kena [kebakaran], merambat," katanya menjelaskan.

Kendati berada di tepi, dia mengatakan kapal yang terbakar tersebut langsung ditarik dan dibawa ke pemecah gelombang agar apinya tidak menjalar ke kapal lain.

"Semalam sebenarnya sudah padam, tetapi tadi pagi apinya menyala lagi. Mungkin karena ada sisa-sisa bara yang belum padam," ujar Sarjono.

Sumber : Antara