Apakah Setelah Divaksin Bisa Tetap Positif Covid-19? Ini Penjelasannya

Bupati Sleman Sri Purnomo menjalani vaksinasi Covid-19 seusai meluncurkan program vaksinasi di Puskesmas Ngemplak II pada Kamis (14/1/2021). - Antara
26 Januari 2021 16:37 WIB Saeno News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -  Indonesia sejauh ini menggunakan vaksin dengan efikasi 65,3 persen. Artinya, orang yang divaksin punya risiko 3 lali lebih rendah untuk mengalami gejala Covid-19. 

Efikasi 63 persen di masa pandemi bukanlah angka yang kecil. Terlebih, menurut vaksinolog Dirga Rambe, tidak ada vaksin yang efikasi hingga 100 persen.

"Jadi yang divaksin pun masih mungkin tidak memiliki kekebalan. Tapi kan kita tahu dengan angka segitu dampaknya akan luar biasa," kata Dirga pada Dialog Kominfo, Senin (25/1/2021).

Oleh karena itu, imbuh Dirga, vaksinasi harus dilakukan bersamaan dengan penerapan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan).

Di luar itu, muncul pertanyaan muncul pertanyaan mengapa orang yang sudah divaksin masih bisa positif Covid-19?

Kasus yang ada menunjukkan bahwa Bupati Sleman Sri Purnomo diketahui positif Covid-19 usai mendapatkan suntikan pertama Vaksin Sinovax. 

Apakah vaksinasi menyebabkan seseorang justru positif Covid?

Dokter Dirga menyebutkan bahwa fenomena orang yang positif Covid-19 usai divaksinasi bukanlah kesalahan dari vaksinnya.

Ia menjelaskan tidak ada satupun merek vaksin yang menyebabkan hasil PCR positif, karena dibuat menggunakan virus yang dimatikan.

"Jadi kalau virus mati tidak akan hidup lagi. Kasusnya [positif] ini mungkin pada saat divaksinasi, dia sudah terinfeksi tapi dalam masa inkubasi," kata Dirga saat Dialog Kominfo, Senin (25/1/2021).

Perlu diketahui bahwa vaksin Covid-19 membutuhkan dua kali dosis penyuntikan, dan butuh waktu satu bulan untuk menciptakan kekebalan yang efektif bagi tubuh.

Suntikan pertama dimaksudkan untuk memicu respons kekebalan awal. Sedangkan suntikan kedua untuk menguatkan respons imun yang terbentuk

Jika seseorang dinyatakan positif setelah vaksinasi, artinya saat divaksinasi seseorang tersebut sudah terpapar/terinfeksi Covid-19 dan sedang dalam masa inkubasi.

Vaksin Covid-19 Sinovac telah teruji keamanan, mutu, khasiat dan kehalalannya. Vaksin ini dikembangkan menggunakan metode inactivated vaccine, yang telah terbukti aman, tidak menyebabkan infeksi serius serta hampir tidak mungkin menyebabkan seseorang terinfeksi.

Terkait kasus Bupati Sleman Sri Purnomo, yang diketahui positif Covid-19 usai mendapatkan suntikan pertama Vaksin Sinovax, pihak Kemenkes menyebutkan kemungkinan saat divaksinasi Sri berada dalam masa inkubasi Covid-19.

Sri Purnomo melakukan vaksinasi Covid-19 untuk suntikan pertama pada 14 Januari 2021, namun ia belum mendapatkan suntikan kedua. 

“Jika melihat rentang waktu dari Bapak Bupati maka sangat mungkin pada saat Bapak Bupati divaksinasi beliau ini berada dalam masa inkubasi Covid-19 di mana tentunya sudah terpapar virus Covid-19 tapi tidak menunjukkan gejala,” kata Siti Nadia Tarmidzi, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan dalam keterangan resmi di laman sehatnegeriku.kemkes.go.id.

Nadia mengatakan secara alamiah waktu antara terpapar virus dan munculnya gejala atau load virus itu adalah sedang tinggi-tingginya sekitar pada 5 sampai dengan 6 hari.

"Hal ini adalah waktu yang pas karena beliau divaksinasi pada tanggal 14 Januari sementara hasil pemeriksaan swab beliau positif di tanggal 20 Januari,” tambah Nadia.

Hal itu akan memicu respons antibodi yang lebih cepat dan lebih efektif di masa yang akan datang.

Suntikan kedua berfungsi sebagai booster untuk membentuk antibodi secara optimal dan imunitas. Ini baru akan terbentuk secara baik setelah 3 minggu suntikan kedua.

“Untuk itu perlu dipahami bersama meskipun kita sudah divaksinasi Covid-19 masih ada risiko terpapar virus Covid-19, namun tentunya diharapkan vaksin ini akan dapat mengurangi kemungkinan sakit,” ucap Nadia.

Adapun, proses vaksinasi tetap dilakukan seperti yang sudah ditargetkan bagi seluruh masyarakat. Nadia berpesan, dengan adanya vaksinasi, semua masyarakat masih punya kewajiban untuk menjalankan protokol kesehatan.

Selain tetap harus menjaga diri juga masih butuh waktu bersama-sama bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk bisa mencapai kekebalan kelompok sehingga upaya 3M (menjaga jaral, mencuci tangan pakai sabun, memakai masker) dan 3T (Tracing, Testing, Treatment), serta vaksinasi harus tetap dijalankan secara bersamaan.

Sumber : JIBI/Bisnis.com