3M Cegah Kerugian Negara hingga Rp500 Triliun

Hasbullah Thabrany, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat UI bersama Icha Atmadi, S.T. (Penyintas COVID-19) dalam dialog produktif bertema memaksimalkan pengelolaan kesehatan lewat vaksinasi di Jakarta, Kamis, 26 November 2020. - Istimewa
26 November 2020 22:27 WIB Hafiyyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Perilaku 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak aman, serta 3 T, yaitu tracing, testing, dan treatment, diprediksi dapat mencegah kerugian negara hingga Rp500 triliun.

Hal itu disampaikan Hasbullah Thabrany, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, pada acara Dialog Produktif bertema “Memaksimalkan Pengelolaan Kesehatan Lewat Vaksinasi” yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), pada Kamis (26/11/2020).

“Apabila kita bisa disipilin menjalankan protokol kesehatan 3M, dan pemerintah aktif menjalankan 3T, kita dapat menghemat kerugian negara yang lebih besar lagi, kita bisa menghemat sampai Rp500 triliun, dan menggunakannya untuk membangun ekonomi Indonesia,” paparnya.

Menurutnya, pemerintah secara serius berupaya memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap dampak pandemi Covid-19. Perlindungan terhadap kesehatan masyarakat menjadi prioritas dengan upaya 3T.

Pemerintah juga menanggung biaya perawatan rumah sakit bagi pasien Covid-19, yang berdasarkan hasil survei menunjukkan rata-rata dikeluarkan biaya perawatan Rp184 juta per orang.

Selain biaya yang besar masyarakat yang terdampak Covid-19 tidak bisa bekerja secara produktif sehingga menurunkan pendapatan mereka. Belum lagi kerugian apabila ada warga negara yang meninggal di usia produktif, beban biaya keluarga yang ditinggalkan pasien.

“Saat ini pemerintah memang menanggung biaya rumah sakit melalui anggaran Kementerian Kesehatan. Saya kira kalau dirawat lebih dari 30 hari apalagi harus masuk ICU yang biayanya bisa Rp15 juta per hari, pengeluarannya bisa lebih dari Rp100 juta. Tapi masyarakat perlu pahami, meski ditanggung negara maka jangan merasa nyaman dan tidak peduli menjalankan protokol kesehatan,” papar Hasbullah.

Icha Atmadi, salah seorang penyintas Covid-19, mengungkapkan bahwa penyakit ini merupakan kategori serius yang tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga mental pasien.

“Covid-19 ini serius sekali. Untuk gejala paling ringan pun bisa terasa sakit baik bagi fisik maupun mental. Apalagi bagi mereka yang mengalami gejala berat, seperti yang dialami ayah saya waktu itu, yang memerlukan alat bantu pernafasan. Perasaan cemas yang dirasakan itu seperti setiap hari akan menghadapi kematian,” imbuhnya.

Apabila biaya perawatan Icha Atmadi dihitung dan ditanggung secara mandiri, bisa mencapai ratusan juta rupiah selama 45 hari menjalankan perawatan. Hanya saja biaya perawatan Icha dan keluarga serta pasien Covid-19 lainnya saat ini ditanggung negara.

Oleh karena itu, cara terbaik agar masyarakat dan negara tidak merugi lebih besar lagi adalah dengan mencegah, jangan sampai terkena Covid-19. Hasbullah pun menyarankan untuk disiplin menjalani protokol kesehatan 3M.

“Kalau nanti sudah ada vaksin, kita tambah dengan vaksin. Meskipun harga vaksin belum keluar nilainya, tapi misalnya harganya nanti katakanlah Rp200.000, investasi ini akan memberikan kita peluang lebih aman daripada berisiko besar terinfeksi dan memerlukan pengobatan,” ujarnya.

Selain itu, dari perspektif agama, Hasbullah menilai, mencegah penularan sama derajatnya dengan melakukan ibadah.

“Menjaga diri dan orang lain di sekitar kita agar tidak tertular Covid-19 adalah ibadah. Saking besarnya ibadah itu sampai naik haji dan sholat jumat berjamaah pun boleh ditinggalkan untuk menghindari penularan lewat kerumunan,” paparnya.

Menurutnya, masyarakat harus berpifikir positif, selektif, dan cerdas dalam menerima informasi. Ambil informasi mengenai Covid-19 dan pencegahannya dari sumber resmi dan terpercaya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia