Advertisement
3.000 Lebih Petugas Medis di Dunia Meninggal Akibat Corona
Tenaga medis menggunakan pakaian pelindung khusus saat merawat pasien yang terinfeksi virus corona di Rumah Sakit Zhongnan, Universitas Wuhan, di Wuhan, Provinsi Hubei, China Senin(27/1 - 2020). China Daily via Reuters
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA -- Amnesty International melaporkan bahwa lebih dari 3.000 petugas kesehatan meninggal dunia akibat virus corona. Pada saat yang sama Amnesty International iuga mengangkat kembali keresahan terhadap kondisi kerja yang tidak aman, upah rendah, jam kerja panjang dan kekerasan terhadap pekerja medis di beberapa negara.
Dalam sebuah laporan yang dirilis pada Senin (13/7), kelompok hak asasi yang berbasis di Inggris itu mengatakan Rusia memiliki jumlah tertinggi kematian petugas medis akibat Covid-19 yakni sebanyak 545 korban jiwa.
Advertisement
Daftar ini diikuti oleh Inggris dengan korban juwa 540 petugas medis, termasuk 262 pekerja perawatan sosial, dan Amerika Serikat 507 petugas medis. Tetapi jumlah korban secara global kemungkinan besar jauh lebih tinggi, badan tersebut menambahkan, karena minimnya laporan dari setiap negara.
BACA JUGA : Sudah 25 Dokter Meninggal karena Virus Corona
"Dengan pandemi Covid-19 yang masih meningkat di seluruh dunia, kami mendesak pemerintah untuk mulai mengambil kesehatan dan kehidupan pekerja penting dengan serius," kata Sanhita Ambast, peneliti dan penasihat Amnesty International tentang hak ekonomi, sosial dan budaya, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip melalui Al Jazeera, Senin (13/7).
Dia juga menyuarakan kekhawatiran atas sikap beberapa pemerintah menghukum pekerja medis yang menyuarakan keprihatinan mereka tentang kondisi kerja yang dapat mengancam kehidupan mereka di tengah pandemi.
Brasil, sebagai negara dengan jumlah kasus virus corona dan kematian tertinggi kedua setelah AS, sejauh ini melaporkan 351 kematian petugas medis, sementara Meksiko, hotspot Amerika Latin lainnya, memiliki 248 kasus kematian.
Para dokter dan perawat berada di garis depan wabah virus corona yang telah menewaskan hampir 569.000 orang dan menginfeksi lebih dari 12,9 juta di seluruh dunia.
Ketika pandemi terus menyebar, pekerja medis sering kali mendokumentasikan di media sosial pertempuran berat yang mereka hadapi saat bekerja berjam-jam dalam kondisi yang sulit.
BACA JUGA : Terpapar Virus Corona, Dokter Kakak Beradik di Semarang
Pemerintah juga mendapat kecaman karena gagal menyediakan peralatan pelindung diri yang memadai seperti masker, baju pelindung, sarung tangan dan kacamata, kepada staf medis mereka.
Amnesty Internasional mengatakan ada kekurangan APD di hampir semua 63 negara yang mereka survei.
Dengan meningkatnya jumlah petugas kesehatan yang berbicara, memprotes dan melancarkan pemogokan terhadap kondisi kerja, kelompok hak asasi itu juga mengatakan ada tindakan balasan balas dendam dari pemerintah, termasuk penangkapan, penahanan, ancaman, pemecatan, dan bahkan tanggapan yang lebih ekstrim.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Merapi Luncurkan Awan Panas 2 Km, Ratusan Guguran Lava Terekam
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Presiden Prabowo Sidak Gudang Bulog Magelang, Ini Hasilnya
- Dana Nasabah Mulai Kembali, Kasus BNI Aek Nabara Dikebut
- Bau Menyengat di Muja Muju, Bongkar Temuan Lansia Meninggal di Rumah
- Dari Desa ke Dunia, Pemuda Kulonprogo Diajak Bikin Wisata Viral
- Jadwal KRL Jogja Solo Hari Ini 19 April 2026, Berangkat Sejak Subuh
- Internet Tak Sekadar Hadir, Harus Dipakai di Sekolah dan Puskesmas
- OTT Kepala Daerah Terus Bertambah, Motifnya Tak Melulu Biaya Politik
Advertisement
Advertisement








