Jeff Bezos, Salah Satu Orang Terkaya di Dunia, Dianggap Teroris Ekonomi di India

Jeff Bezos - Reuters/Mike Segar
15 Januari 2020 17:47 WIB Dika Irawan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Bos Amazon Jeff Bezos mendapatkan sambutan pahit selama kunjungannya ke India pada pekan lalu, setelah regulator antimonopoli negara tersebut memulai investigasi resmi beberapa jam sebelum kedatangn Bezos.

Kedatangan salah satu orang terkaya di dunia itu juga membuat geram pemilik toko kecil di jalan-jalan. Bezos hadir di New Delhi untuk menghadiri acara Amazon Smbhav (dibaca Amazon sambhav), pertemuan Amazon India untuk usaha kecil dan menengah.

Bezos rencananyaakan menginvestasikan US$1 miliar untuk membantu UMKM di India menjadi perusahaan online. Dia juga berkomitmen bahwa raksasa ritel miliknya tersebut akan mengekspor senilai US$10 miliar barang buatan India  pada 2025.

“Abad 21 akan menjadi abad India. Negara inimemiliki sesuatu  yang spesial, yaitu dinamis. Saya juga memprediksi bahwa aliansi paling penting pada abad 21 adalah antara India dan Amerika Serikat,” kata Bezos dikutip dari Bloomberg, Rabu(15/1/2020).

Sehari sebelumnya Bezos mengunggah cuitan langka untuk mempublikasikan kunjungannya ke peringatan Mahatma Gandhimemorial. Kala itu dia mengenakan tunik putih dan rompi India berwarna merah cokelat.

Tak dapat dipungkiri India merupakan pasar luar negeri terpenting dan kunci pertumbuhan Amazon. Namun, Amazon mendapatkan tentangan dari para pedagang di negara tersebut. Mereka merasa dirugikan oleh Amazon.

Konfederasi Seluruh Pedagang India telah mengumumkan bahwa anggota mereka dan afiliasinya di seluruh India akan menggelar aksi duduk dan demonstrasi publik di 300 kota untuk meningkatkan seruan perang terhadap ritel online terbesar dunia tersebut.

Dalam sepucuk surat kepada Perdana Menteri Modi pekan lalu, Sekretaris Jenderal konfederasi Praveen Khandelwal menuduh bahwa Amazon, seperti halnya Flipkart yang dimiliki Walmart Inc., sebagai teroris ekonomi yang terlibat dalam penetapan harga kejam, merampas pendapatan pajak pemerintah, dan memaksa penutupan ribuan pedagang kecil.

Priyadarshini Durairaj, pejabat pemasaran digital di Naga Ltd. yang berbasis di Chennai, mengatakan bahwa dia berada di Smbhav dengan pikiran terbuka. "Merek seperti milik kami. Perlu memahami rencana platform dan penawaran untuk penjual seperti kami,” katanya tentang Naga, pembuat dan penjual pasta di Amazon dan outlet online dan offline lainnya.

Menurut laporan 2018 oleh kelompok industriperangkat lunak Nasscom dan perusahaan konsultan PwC India, pasar e-commerce India diproyeksikan tumbuh hingga US$150 miliar pada 2022. Kompetisi untuk sektor yang berkembang pesat ini semakin meningkat ketika orang terkaya di Asia, Mukesh Ambani, bersiap ekspansi bersama JioMart, sebuah platform belanja online yang menantang Amazon dan Walmart secara langsung.

Flipkart Online Services Pvt, yang terakhir juga menggali lebih dalam ke pedesaan mendapatkan lebih banyak pelanggan. Amazon, pada bagiannya, membuka kompleks perkantoran besar di selatan kota Hyderabad pada September, menggarisbawahi komitmennya kepada negara itu.

Komisi Persaingan Usaha India mengatakan akan menyelidiki potongan harga yang dalam, daftar preferensial, dan taktik pengecualian yang diduga digunakan Amazon dan Flipkart untuk menghindari anti-persaingan. Badan-badan pedagang India telah lama berargumen bahwa kedua raksasa ritel itu melanggar aturan dengan mempromosikan penjualan, serta diskon melalui penjual favorit mereka, banyak dari mereka telah memiliki pengaturan komersial yang sudah ada sebelumnya.

Regulator telah memerintahkan agar penyelidikan diselesaikan dalam waktu dua bulan. "India perlu mengatasi protes parapedagang dengan cara yang bertanggung jawab. Mereka tidak dapat menghadapi model diskon yang besar," kata Durairaj.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia