Tak Hanya Laki-Laki, Perempuan Terpapar Radikalisme Perlu Perhatian Khusus

Foto Ilustrasi perempuan. - Istimewa/Shutterstock
21 November 2019 06:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Perlu ada perhatian khusus terhadap perempuan yang telah terpapar paham radikalisme, terutama dalam program rehabilitasi setelah mereka diamankan oleh pihak yang berwenang. Hal tersebut disampaikan Direktur Institute for Policy Analysis and Conflict, Sidney Jones.

"Kalau bisa dipikirkan satu program rehabilitasi, bukan hanya untuk laki-laki tapi juga untuk perempuan karena begitu banyak perempuan yang belakangan ini terlibat dalam gerakan ekstremisme," kata Sidney saat dijumpai di sela-sela acara seminar bertajuk 'Countering and Preventing Violent Extremism and Radicalization – A Danish Perspective' yang digelar oleh Kedutaan Besar Denmark di Jakarta, Rabu (20/11/2019). 

Dia menyebut saat ini jumlah perempuan yang terpapar radikalisme, hingga ditahan oleh pihak berwajib terkait paham tersebut, telah meningkat.

Menurut dia, lima tahun yang lalu, ada sekitar dua hingga tiga perempuan yang ditahan karena radikalisme, namun sekarang angka tersebut telah mencapai kurang lebih 27 perempuan.

Meski demikian, dia mengatakan hingga saat ini belum ada program yang terarah dan dikhususkan bagi perempuan, sehingga dia mendorong agar pihak-pihak terkait memberi perhatian khusus bagi perempuan.

"Pikirkan seperti apa program rehabilitasi yang efektif? Apa artinya ketika jumlah kombatan perempuan meningkat? Saat ini angkanya hampir mencapai 30 orang," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Kerjasama Internasional dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Andhika Chrisnayudhanto, juga menyebut pelaku terorisme perempuan telah menjadi keprihatinan bagi BNPT.

"Sekarang ini banyak pelakunya perempuan dan permasalahannya kalau kita lihat, mekanisme yang ada itu dulu lebih dipersiapkan pada laki-laki. Sekarang penting bagaimana mekanisme yang ada juga mengedepankan kepentingan perempuan," jelasnya.

Dia pun menggarisbawahi pentingnya membuat rencana aksi nasional (National Action Plan) untuk untuk menanggulangi ekstremisme dengan kekerasan, dan salah satu komponen dalam rencana tersebut adalah pemberdayaan perempuan dalam upaya penanggulangan dan pencegahan.

“Ini justru menjadi kesempatan karena sekarang ini ada peningkatan perempuan sebagai pelaku. Selama ini ‘kan kita lihat perempuan sebagai korban, recruiter, pendukung, tetapi sekarang juga menjadi pelaku. Sekarang ini kita harus mulai lakukan pendekatan terhadap perempuan,” katanya.

Acara seminar tentang kontra-radikalisme yang digelar Kedubes Denmark di Jakarta itu menghadirkan sejumlah pembicara, termasuk Direktur dan Wakil Direktur Pusat Pencegahan Ekstremisme Nasional Denmark, Karin Ingemann dan Stine Strohbach, Konsultan untuk unit pencegahan terorisme dan ekstremisme kekerasan Kopenhagen VINK, Muhammad Ali Hee, Direktur Institute for Policy Analysis and Conflict Sidney Jones, Deputi Bidang Kerjasama Internasional BNPT, Andhika Chrisnayudhanto, Kriminolog Leopold Sudaryono, dan dosen dari Sekolah Hukum Jentera, Bivitri Susanti.

Sumber : antara