Hacker yang Ditangkap di Sleman Kumpulkan Rp32 Miliar Sejak Usia 16 Tahun

Ilustrasi bitcoin - Pando
25 Oktober 2019 18:47 WIB Sholahuddin Al Ayyubi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—BBA, hacker berusia 21 tahun yang ditangkap Bareskrim Polri di Sleman pekan lalu, diduga sudah meraup Rp32,1 miliar dari aktivitasnya menyebarkan malware ransomware sejak 2014.

BBA diringkus Jumat (18/10/2019) pekan lalu karena membobol perusahaan di Amerika Serikat dan memerasnya dengan bitcoin.

Kepala Subdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Pol Rickynaldo Chairul mengungkapkan tersangka mengirimkan link ke email korbannya dan korban kemudian diarahkan untuk mengklik link tersebut.

Ricky mengatakan BBA yang beroperasi sejak 2014 itu sudah mendapatkan untung sebesar 300 bitcoin hingga saat ini. Kemudian, 300 bitcoin tersebut ditukarkan ke dalam bentuk uang tunai untuk membeli beberapa barang mewah seperti sepeda motor Harley Davidson.

“Dia beroperasi sejak 2014, total keuntungan yang telah didapatkan pelaku dari hasil kejahatannya itu sebesar 300 bitcoin,” ucap Ricky, Jumat (25/10/2019).

Menurut data  Morningstar for Currency and Coinbase for Cryptocurrency, pada Jumat ini nilai satu bitcoin sebesar Rp107 juta. Dengan mengacu pada nilai tersebut, 300 bitcoin yang sudah dikumpulkan BBA sejak lima tahun lalu atau kala dia masih berusia 16 tahun mencapai Rp32,1 miliar. Nilai bitcoin berfluktuasi, pernah anjlok hingga Rp50 juta dari Rp170 juta pada awal 2019 tetapi kemudian melesat lagi menjadi Rp155 juta pada pertengahan tahun.

BBA menyebarkan link malware ransomware secara random ke 500 email calon korbannya yang ada di dalam maupun luar negeri. Lalu, setelah link itu diklik oleh korban, malware ransomware yang disiapkannya akan masuk dan mengunci seluruh data korban di komputer pribadi maupun korporasi.

Salah satu korbannya adalah perusahaan di Amerika Serikat. Data pada sistem server email di sebuah perusahaan terenkripsi dan tidak dapat dibaca.

“Pelaku ini menggunakan malware ransomware sebagai alat untuk mengunci komputer korban dan untuk membuka data korban, korban itu harus membayar menggunakan bitcoin dengan nilai yang bervariasi,” kata Ricky.

BBA dijerat Pasal 49 Jo Pasal 33 dan Pasal 48 ayat (1) Jo Pasal 32 ayat (1) dan Pasal 45 ayat (4) Jo Pasal 27 ayat (4) Undang-Undang  No.19/2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dengan ancaman hukuman pidana maksimal 10 tahun penjara.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia