Penemu Terobosan Pengobatan Gagal Jantung & Kanker Raih Nobel Kedokteran

Penganugerahan Nobel Kedokteran 2019 - Reuters
08 Oktober 2019 19:47 WIB Reni Lestari News Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Nobel Kedokteran tahun ini dianugerahkan kepada warga negara AS dan Inggris. Kelompok ilmuwan yang terdiri atas tiga orang, yakni William Kaelin, Gregg Semenza, dan Peter Ratcliffe, menemukan perubahan molekuler yang mengatur carasel beradaptasi dengan tingkat oksigen yang berfluktuasi. Penemuan ini membuka pendekatan baru untuk mengobati gagal jantung, anemia dan kanker. 

Sebagaimana dikutip dari Reuters, Selasa (10/8/2019), William Kaelin yang bekerja di U.S. Dana-Farber Cancer Institute dan Sekolah Kedokteran Harvard mengatakan, dia kewalahan mendapatkan panggilan sebelum fajar yang mengabarkan dia dan dua dokter lainnya, Gregg Semenza dari Universitas Johns Hopkins dan Peter Ratcliffe dari Universitas Oxford, telah memenangkan penghargaan senilai US $9 juta itu.

Ratcliffe, yang juga Direktur Penelitian Klinis Francis Crick Institute di London mengatakan merasa terhormat dan senang dengan berita itu.

Pekerjaan para ilmuwan ini antara lain menetapkan dasar untuk memahami bagaimana tingkat oksigen dirasakan oleh sel, sebuah penemuan yang sedang dieksplorasi oleh para peneliti medis yang berusaha mengembangkan perawatan untuk berbagai penyakit yang bekerja dengan mengaktifkan atau memblokir mesin penginderaan oksigen di tubuh.

Pekerjaan mereka berpusat pada respons hipoksia, yakni cara tubuh bereaksi terhadap fluks oksigen.

"Pekerjaan ini telah mengungkapkan mekanisme elegan yang digunakan sel-sel manusia untuk merasakan kadar oksigen dan merespons," kata Andrew Murray, pakar di Universitas Cambridge Inggris yang memberi selamat kepada ketiganya.

Venki Ramakrishnan, Presiden Akademi Sains Royal Society Inggris mengatakan oksigen adalah unsur penting untuk kelangsungan hidup setiap sel dalam tubuh manusia. Terlalu sedikit atau terlalu banyak bisa menyebabkan bencana. Memahami bagaimana evolusi telah melengkapi sel untuk mendeteksi dan merespons naiknya kadar oksigen membantu menjawab pertanyaan mendasar.

"Ini menunjukkan pada kita bahwa hal itu juga memberikan wawasan tentang bagaimana proses ini terus membentuk kesehatan dan kesejahteraan kita," ujarnya.

Selama berolahraga, misalnya, tubuh menggunakan oksigen dengan cepat, dan ini adalah saklar yang membantu sel mengetahui berapa banyak oksigen yang didapatnya dan bagaimana seharusnya berperilaku.

"Jika Anda terserang stroke, tiba-tiba tidak ada oksigen yang mengalir ke otak. Jika sel-sel itu akan bertahan hidup, mereka perlu menemukan cara untuk beradaptasi dengan tingkat oksigen itu," katanya.

Bidang kedokteran adalah yang pertama dari rangkaian penganugerahan Hadiah Nobel yang diberikan setiap tahun. Hadiah untuk pencapaian dalam sains, perdamaian dan sastra telah diberikan sejak 1901 dan diciptakan atas kehendak penemu dinamit dan pengusaha Alfred Nobel.

Peraih Nobel Kedokteran telah juga meliputi sejumlah ilmuwan hebat seperti Alexander Fleming, penemu penisilin, dan Karl Landsteiner, yang mengidentifikasi golongan darah terpisah sehingga memungkinkan transfusi yang aman untuk diperkenalkan secara luas.

Tahun lalu Ilmuwan AS dan Jepang yakni James Allison dan Jepang Tasuku Honjo memenangi hadiah untuk penemuan tentang bagaimana memanfaatkan sistem kekebalan dalam terapi kanker.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia