Pembeli Properti Asal Indonesia Terbanyak di Sydney

Sydney, Australia - Istimewa
26 Agustus 2019 09:57 WIB Mutiara Nabila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Kendati pasar properti baik di Australia dan di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir masih mengalami koreksi, pengembang Australia tetap percaya diri untuk memasarkan produknya di Indonesia.

David Tan B. Eng, CEO Centurion International Holdings, agen properti Australia, mengatakan bahwa jika melihat secara historisnya, seharusnya sebentar lagi baik pasar Indonesia maupun Australia akan mulai membaik setelah terkoreksi dan stagnasi selama lima tahun belakangan.

David mengatakan bahwa pembeli asing di Australia pun—terutama di Sydney, yakni orang Indonesia selalu berada di urutan teratas, paling banyak.

“Hal ini membuktikan bahwa Australia masih menjadi pasar properti yang menarik untuk orang Indonesia. Melihat secara historis juga enggak bisa bohong, setelah lama terkoreksi ini waktunya naik,” kata David, Jumat (23/8/2019).

Selain itu, David menjelaskan bahwa Pemerintah Australia juga terus menurunkan suku bunga acuannya beberapa kali tahun ini dan juga telah merelaksasi sejumlah aturan properti yang dianggap memberatkan.

Hal itu, menurutnya, bisa menggenjot minat investasi orang Indonesia di Negeri Kanguru.

Lalu, hal lain yang bisa meyakinkan pembeli dari Indonesia adalah bahwa pembeli akan mendapatkan produk yang sesuai dengan gambar. Selain itu, pembeli juga harus membayar 10 persen dari harga unit untuk menandakan pembelian.

“Di Australia semua investor sudah tahu pasti aman. Jadi, uang 10 persen mereka bukan langsung ke pengembang, melainkan ke lawyer. Ketika unitnya jadi, baru pihak pengembang dan pembeli membuat perjanjian jadi beli, baru uang yang 10 persen itu dialirkan,” katanya.

Tahun ini, melalui proyek Collection Rouse Hill dengan nilai investasi sebesar Rp2 triliun sebanyak total 311 unit di tiga menara yang dipasarkan, David mengharapkan bisa menjual 25 unit dari menara pertama.

“Untuk fase pertama kami bangun gedung pertama dulu 99 unit. Kami dibatasi hanya bisa menjual di sini [Indonesia] maksimum 25 persen, berarti sekitar 25 unit. Dari beberapa hari kami di sini sudah 50 persen targetnya tercapai,” ungkap David.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia