Pengangkut Sampah di Kartasura Pakai Uang Pribadi untuk Beli Kendaraan

Sejumlah pekerja memilah sampah di tempat pembuangan sampah sementara di Wirogunan, Kartasura, Sukoharjo, Rabu (26/6 - 2019). (Solopos/Iskandar)
29 Juni 2019 13:07 WIB Iskandar News Share :

Harianjogja.com, SUKOHARJO--Sejumlah pengangkut sampah di Kartasura, Sukoharjo, mengaku membeli kendaraan pengangkut sampah dengan uang mereka sendiri. Armada ini untuk mengangkut sampah dari rumah ke tempat pembuangan sampah sementara (TPS). Karena selama ini tak ada bantuan dari desa atau pemerintah.

“Karena tidak ada dana bantuan dari desa atau pemerintah, kami terpaksa membeli kendaraan roda tiga ini sendiri. Sebab seperti saya ini mau kerja apa?” ujar salah seorang petugas pengangkut sampah Desa Pucangan, Kartasura, Sukoharjo, Harsoyo, ketika ditemui wartawan di sela-sela membuang sampah di TPS Kartasura, Rabu (26/6).

Menurut dia kendaraan roda tiga tersebut dibeli dengan harga Rp30 juta. Pembelian kendaraan roda tiga yang masih baru ini terpaksa dilakukan karena memudahkan pekerjaannya sebagai pengangkut sampah.

Sebelumnya Harsoyo menggunakan kendaraan roda dua dilengkapi dengan gerobak pengangkut sampah. Namun kendaraan ini dinilai kurang praktis dan tidak bisa memuat sampah dalam jumlah banyak.

Menurut dia volume sampah di TPS Kartasura cukup banyak. Namun sampah-sampah itu berasal dari desa-desa dan kelurahan-kelurahan di Kartasura.

“Hanya dua desa yang tidak membuang sampah di sini yaitu Gonilan dan Gumpang karena sudah mempunyai TPS sendiri,” kata dia.

Hal serupa juga dilakukan pengangkut sampah di Desa Singopuran, Suwardi. Namun kendaraan miliknya yang masih standar itu dibeli dengan harga Rp28 juta.

“Uang segitu [Rp28 juta] memang cukup banyak bagi saya, tapi gimana ini kan untuk bekerja. Sekarang anak saya masih sekolah dan itu butuh biaya. Karena itu saya harus bekerja,” kata dia.

Menurut dia mengakut sampah dengan kendaraan roda tiga miliknya relatif lebih lancar dibanding menggunakan gerobak pengangkut sampah yang ditarik kendaran roda dua. Selain itu daya angkut juga dinilai lebih banyak dibanding menggunakan gerobak sampah.

Secara terpisah, Kasi Trantip Kecamatan Kartasura, Agus Jaelani, membenarkan kendaraan para pengangkut sampah di Kartasura mayoritas dibeli dengan uang pribadi. “Selama ini memang belum ada dana bantuan kepada mereka baik dari desa/kelurahan maupun dari dinas terkait,” ujar dia.

Dia mengakui saat ini sampah di TPS Kartasura sering menumpuk. Karena volume sampah di Kartasura dinilai cukup besar.

Secara formal sampah-sampah itu berasal dari sejumlah wilayah di Kartasura. Namun dia tak memungkiri adanya pembuang sampah dari luar daerah yang kucing-kucingan dengan petugas dilakukan pada malam hari.

Sumber : JIBI/Solopos