Pawai untuk Korban Penembakan Christchurch: Muslim Disambut, Rasis Ditolak

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern setelah salat Jumat di Hagley Park di luar masjid Al-Noor di Christchurch, Selandia Baru 22 Maret 2019. - Reuters
23 Maret 2019 14:37 WIB Denis Riantiza Meilanova News Share :

Harianjogja.com, JOGJA -Sekitar 3.000 orang menggelar Pawai untuk Cinta di jalanan Christchurch pada Sabtu pagi (23/3/2019). Arak-arakan itu untuk memberikan penghormatan kepada 50 orang yang dibantai teroris pengagum supremasi kulit putih di Selandia Baru pekan lalu.

Pawai ini dilaksanakan bersamaan dengan kembali dibukanya dua masjid yang menjadi lokasi penembakan.

Warga berjalan sambil membawa plakat dengan tulisan-tulisan yang menguatkan, seperti 'Dia ingin memecah belah kita, dia hanya membuat kita lebih kuat', 'Muslims welcome, racist not', 'Kia Kaha' (tetap kuat), dan lainnya. Sebagian besar warga berjalan dalam kesunyian atau menyanyikan dengan lembut nyanyian perdamaian suku Maori.

"Kami merasa kebencian telah membawa banyak kegelapan pada saat-saat seperti ini dan cinta adalah obat terkuat untuk menerangi kota dari kegelapan itu," kata Manaia Butler, 16, salah satu siswa penyelenggara pawai, dikutip dari Reuters, Minggu (23/3/2019).

Sementara itu, dengan pengamanan polisi bersenjata, Masjid Al Noor, tempat di mana lebih dari 40 korban tewas tertembak, dibuka kembali pada Sabtu. Polisi menyatakan mereka juga membuka kembali Masjid Linwood di dekatnya.

"Ini adalah tempat di mana kita berdoa, di mana kita bertemu, kita akan kembali, ya," ujar Ashif Shaikh kepada wartawan di luar masjid Al Noor. Shaikh mengatakan ada di lokasi pada hari penembakan yang menewaskan dua teman serumahnya.

Sebagian besar korban penembakan massal pada Jumat pekan lalu adalah migran atau pengungsi dari negara-negara seperti Pakistan, India, Malaysia, Indonesia, Turki, Somalia, Afghanistan, dan Bangladesh.

Pada Sabtu, barisan keamanan sangat ketat, dengan lusinan polisi bersenjata dan bus diparkir menyamping di jalan-jalan kota untuk menutup mereka saat pawai.

Shila Nair, seorang migran dari India yang bekerja untuk kelompok advokasi migran bernama Shakti, melakukan perjalanan dari Auckland untuk mengambil bagian dalam pawai.

“Dukungan ini memberi kami harapan dan optimisme bahwa komunitas migran dan pengungsi di negara ini dapat memiliki medan bermain yang setara,” katanya.

Atas peristiwa penembakan yang terjadi, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern dengan cepat mengecam penembakan itu sebagai terorisme dan telah berpartisipasi dalam banyak penghormatan dan pemakaman bagi para korban. Dia juga telah mengumumkan larangan kepemilikan senjata semi-otomatis dan senapan serbu di Selandia Baru.

Respon dan empati Ardern dan Selandia Baru itu mendapat pujian secara luas. Salah satunya, Wakil Presiden dan Perdana Menteri Uni Emirat Arab Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum yang berterima kasih pada Ardern di Twitter pada Jumat malam.

"Terima kasih @jacindaardern dan Selandia Baru atas empati dan dukungan tulus Anda yang telah memenangkan rasa hormat dari 1,5 miliar Muslim setelah serangan teroris yang mengguncang komunitas Muslim di seluruh dunia," katanya di Twitter.

Adapun jumlah Muslim hanya sekitar 1 persen dari 4,8 juta populasi Selandia Baru. Berdasarkan sensus 2013, kebanyakan dari mereka dilahirkan di luar negeri.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia