Ini Fakta Anyar Menjelang Jatuhnya Lion Air PK-LQP

Cockpit Voice Recorder (CVR) Lion Air PK/LQP berhasil ditemukan Senin (14 Januari 2019) pukul 08.40 WIB.Foto: Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal)
20 Maret 2019 16:27 WIB Aprianto Cahyo Nugroho News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Seorang pilot yang sedang tak bertugas menjadi penyelamat dalam penerbangan Lion Air PK LQP, beberapa jam sebelum Boeing 737 Max 8 itu jatuh ke Laut Jawa pada 29 Oktober 2018 lalu.

Dilansir dari Bloomberg, seorang pilot yang sedang tak bertugas menjadi penyelamat seluruh kru dan penumpang setelah mengatasi masalah dalam penerbangan Lion Air PK LQP dari Denpasar ke Jakarta pada 28 Oktober 2018.

Berdasarkan dua orang sumber yang terlibat dalam investigasi kecelakaan Lion Air, pilot tersebut kebetulan menumpang dalam penerbangan dan duduk di kursi cadangan di dalam kokpit.

Pilot tersebut mampu mendiagnosis masalah dengan tepat dan menonaktifkan sistem kontrol penerbangan yang mengalami malfungsi. Pilot meminta kru untuk memutus arus listrik ke motor yang menggerakkan hidung pesawat ke bawah. Pesawat pun berhasil mendarat dengan selamat di Jakarta.

Keesokan harinya, dalam penerbangan dai Jakarta ke Pangkalpinang, pesawat tersebut disebut mengalami masalah yang sama dan jatuh di Laut Jawa, menewaskan seluruh 189 orang di dalamnya.

Fakta ini dapat menjadi petunjuk baru dalam penyelidikan kecelakaan pesawat Boeing 737 Max 8 milik Lion Air. Hasil penyelidikan awal pada kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines pun menunjukkan adanya kemiripan dengan kecelakaan Lion Air.

Kehadiran pilot ketiga ini belum pernah diungkapkan sebelumnya oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Lion Air, serta Boeing.

“Semua data dan informasi yang kami miliki di penerbangan dan pesawat telah diserahkan ke KNKT. Kami tidak dapat memberikan komentar tambahan pada tahap ini karena penyelidikan yang sedang berlangsung atas kecelakaan itu," kata juru bicara Lion Air Danang Prihantoro melalui telepon, seperti dikutip Bloomberg.

Laporan KNKT mengatakan pesawat mengalami beberapa kegagalan pada penerbangan sebelumnya dan belum diperbaiki dengan benar.

Perwakilan untuk Boeing KNKT menolak untuk mengomentari penerbangan sebelumnya.

Sistem keamanan, yang dirancang agar pesawat tidak naik terlalu curam mengalami stall, telah diawasi oleh penyelidik kecelakaan Lion Air, serta kecelakaan Ethiopian Airlines. Sensor yang rusak diyakini telah membuat komputer pesawat Lion Air berpikir bahwa pesawat perlu menurunkan hidung secara otomatis untuk menghindari stall.

Sejak 13 Maret, regulator penerbangan AS (FAA) melarang operasi seluruh pesawat Boeing 737 Max setelah ditemukannya kemiripan masalah pada kecelakaan Ethiopian Airlines 10 Maret lalu dengan kecelakaan Lion Air.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia