Pilot Boeing 737 Max Sudah Sering Mengeluh Sebelum Ethiopian Airlines Jatuh

Polisi berdiri di lokasi jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan ET 302, di dekat Kota Bishoftu, 62 kilometer dari tenggara Ibukota Addis Ababa, Ethiopia, Minggu (10/3/2019). - REUTERS/Tiksa Negeri
14 Maret 2019 13:27 WIB Renat Sofie Andriani News Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Sejumlah pilot mengeluhkan kondisi pesawat Boeing 737 Max 8 beberapa bulan sebelum Ethiopian Airlines tujuan Nairobi terhempas ke daratan pada Minggu (10/3/2019), hanya sekitar enam menit setelah lepas landas dari bandara di Addis Ababa, Ethiopia.

Sekitar lima bulan sebelumnya, pesawat Lion Air JT610 dengan tipe sama jatuh di perairan Laut Jawa pada 29 Oktober 2018. Pesawat Lion Air terjun bebas juga tak lama setelah lepas landas, menewaskan total 189 penumpang dan awak di dalamnya.

Ternyata, catatan pemerintah Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa setidaknya lima keluhan telah diajukan kepada otoritas federal dalam beberapa bulan terakhir.

Keluhan-keluhan tersebut dibuat dalam database insiden Federal Aviation Administration (FAA), yang memungkinkan pilot untuk melaporkan masalah tentang insiden penerbangan secara anonim.

Keluhan itu menyoroti masalah dengan sistem autopilot Max 8, yang telah dipertanyakan pascakecelakaan yang melibatkan model pesawat tersebut di Ethiopia dan di perairan Laut Jawa pada Oktober 2018.

Seorang pilot bahkan menyebutkan manual penerbangan pesawat itu tidak memadai dan hampir tidak sesuai secara aturan, seperti dilaporkan The Dallas Morning News.

Kotak hitam yang telah ditemukan dari kecelakaan Lion Air mengindikasikan bahwa pesawat JT610 berulang kali terdorong ke posisi menukik tak lama setelah lepas landas dari Jakarta. Para penyelidik berpendapat ada kemungkinan sensor sistem otomatisnya telah mengalami malfungsi.

Sejumlah pengamat mencatat adanya kesamaan-kesamaan antara dua kecelakaan mematikan itu. Kepada CNN, CEO Ethiopian Airlines Tewolde GebreMariam mengatakan kesamaan itu substansial.

“Dia [pilot Ethiopian Airlines] mengalami kesulitan dengan kendali penerbangan pesawat, jadi dia meminta untuk kembali ke pangkalan,” ungkap GebreMariam.

Dalam salah satu keluhan yang diajukan, seorang pilot menggambarkan masalah yang terjadi saat lepas landas. Ketika autopilot diaktifkan, hidung pesawat tiba-tiba turun dan memicu sistem alarm pesawat yang berbunyi “Don't sink, don't sink!". Situasi ini bisa diatasi hanya setelah autopilot dimatikan.

Pilot lain yang menerbangkan Max 8 menyampaikan keluhan pada November 2018 bahwa tidak beralasan jika pilot diizinkan untuk terus menerbangkan pesawat tanpa diberi lebih banyak pelatihan atau pengetahuan tentang bagaimana sistem Max 8 berbeda dengan model-model sebelumnya.

Dalam sebuah laporan pada Oktober, pilot lain mengeluhkan sistem autothrottle Max yang tidak berfungsi dengan baik. Masalahnya lalu dapat diperbaiki setelah pilot menyesuaikan daya dorong secara manual dan terus naik.

“Tak lama kemudian saya mendengar tentang kecelakaan [maskapai penerbangan lain] dan saya bertanya-tanya apakah ada kru pesawat lain yang mengalami insiden serupa dengan sistem autothrottle pada Max?” tulis pilot itu dalam laporan tersebut.

Dua kecelakaan mematikan yang terjadi dalam waktu relatif singkat itu sontak meresahkan pelanggan layanan penerbangan udara dan mendorong sejumlah negara mengumumkan untuk menghentikan operasi pesawat jenis itu guna menghindari ancaman kerusakan pada mesin pesawat.

Boeing telah mengumumkan bahwa semua pesawat tipe Max produksinya akan menjalani update software kontrol penerbangan dalam beberapa pekan mendatang. Meski demikian, produsen pesawat yang berbasis di AS itu belum mengindikasikan apakah akan membuat perubahan fisik pada pesawatnya.

"Inti dari kontroversi seputar 737 Max adalah MCAS, Maneuvering Characteristics Augmentation System (Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver)," tulis koresponden bidang transportasi Business Insider, Benjamin Zhang.

“Agar sesuai dengan tipe Max yang lebih besar dan lebih hemat bahan bakar, Boeing harus mendesain ulang cara pemasangan mesin pada 737,” sebut Zhang.

Perubahan ini, jelasnya, mengganggu pusat gravitasi pesawat dan menyebabkan Max memiliki kecenderungan untuk mengarahkan hidung ke atas selama penerbangan, sehingga meningkatkan kemungkinan stall.

“MCAS dirancang untuk secara otomatis menetralkan kecenderungan itu dan mengarahkan hidung pesawat ke bawah,” tambahnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia