Advertisement
Hujan & Banjir Hentikan Penambangan di Negara Penghasil Tembaga Terbesar Dunia
Ilustrasi cincin tembaga. - Bloomberg/Andrey Rudakov
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA - Hujan lebat dan banjir memengaruhi negara penghasil tembaga terbesar di dunia, Chile, selama sepekan terakhir. Beberapa perusahaan tambang pun menghentikan operasinya.
Analis BTG Pactual Santiago Cesar Perez mengatakan, hingga saat ini sudah terdapat tiga pertambangan yang berada di dekat kota Calama, Chili yang sudah berhenti beroperasi akibat cuaca buruk dalam sepekan terakhir.
Advertisement
"Ini akan menjadi masalah yang lebih besar karena badai juga mulai berdampak di kawasan selatan Peru, walaupun masih terlalu dini untuk mengukur dampak dari penghentian tambang ini," ujar Cesar seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (10/2/2019).
Adapun, tiga pertambangan yang telah berhenti beroperasi tersebut, yaitu tambang Chuquicamata dan Ministo Hales milik perusahaan tambang milik negara telah berhenti sejak Kamis (7/2) malam, dan tambang El Abra milik Freeport-McMoran yang telah berhenti beroperasi sejak Senin (4/2).
Hujan deras disertai badai dan petir telah mengguyur Chile dan diperkirakan akan terus berlanjut. Badai diperkirakan akan bergerak ke selatan, mempengaruhi wilayah Andean dan pra-Andean di wilayah Arica y Parinacota, Tarapaca dan Antofagasta.
Walaupun demikian, tambang lain di wilayah tersebut seperti tambang Gabriela Mistral dan Radomiro Tomic milik Codelco, Escondida and Spence milik BHP Group, Zaldivar, yang dimiliki bersama oleh Antofagasta Plc. dan Barrick Gold Corp., dan Collahuasi milik Anglo American Plc dan Glencore Plc, masih berjalan normal.
Padahal, akses jalan menuju tambang Collahuasi telah terputus sebagian dan perusahaan mengatakan bahwa tidak akan membawa pekerja baru ke situs setidaknya sampai Minggu, atau cuaca membaik.
Sementara itu, badan cuaca Peru, Senamhi, mengumumkan peringatan cuaca khusus di 14 wilayah sepanjang pegunungan Andes. Hujan sedang kuat disertai badai petir hingga hujan es dan salju juga dapat terjadi di beberapa daerah.
Prakiraan cuaca tersebut juga akan mempengaruhi beberapa wilayah utama Peru, termasuk Apurimac, Arequipa, dan Cuzco. Walaupun demikian, Tambang Cerro Verde, pertambangan tembaga terbesar di Peru, masih beroperasi secara normal hingga saat ini.
Meski belum diketahui akan menganggu pasokan cadangan dunia, berdasarkan data Bloomberg, harga tembaga di bursa London Metal Exchange (LME) pada penutupan perdagangan pekan lalu (8/2) bergerak di zona merah, melemah 0,58% atau turun 36 poin menjadi US$6.210 per metrik ton.
Sementara, harga tembaga di bursa Comex juga bergerak melemah, turun 0,64% atau 1,8 poin menjadi US$281,05 per pon.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Wajah TNI Tersangka Teror Air Keras Akan Terungkap di Sidang
- Kejagung: Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terima Suap Rp1,5 Miliar
- Tragedi Kahramanmaras: Siswa Tembaki Kelas, Telan 9 Korban Jiwa
- Kecelakaan Beruntun di Jalur Ngawi-Mantingan, Truk Tabrak Bus Mira
- BPJS Kesehatan Luncurkan 8 Program Percepatan Layanan, Ini Daftarnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- DIY Masuk Fase Akhir Siklus Gempa Besar, Warga Diminta Waspada
- Lansia di Kulonprogo Alami Insiden Unik, Ditangani Damkar
- Jejak Pencuri Gamelan di Jogja Terungkap Setelah Aksi Kedua
- Jadwal KA Prameks Hari Ini 16 April 2026, Tarif Tetap Rp8.000
- SPPG Didesak Tanggung Jawab Penuh Kasus Keracunan di Bantul
- Tragedi Kahramanmaras: Siswa Tembaki Kelas, Telan 9 Korban Jiwa
- Mi Lethek Jogja Punya Keunggulan untuk Kesehatan, Ini Kata BRIN
Advertisement
Advertisement









