Masih Trauma Bencana, Full Day School Belum Diterapkan

Sejumlah bangunan ambruk akibat gempa di Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9/2018)./ANTARA FOTO - BNPB
14 Januari 2019 09:37 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, PALU—Sistem pendidikan Full Day School belum akan diterapkan di Kota Palu kendati aktivitas pendidikan sudah berangsur pulih. Peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan masih merasa trauma.

"Status penanganan bencana masih pada tahapan transisi darurat menuju pemulihan," kata Kepala Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Palu, Sulawesi Tengah Ansyar Setiadi di Palu, Senin (14/1/2019).

Dia menjelaskan Pemkot Palu telah mengeluarkan surat edaran agar kegiatan belajar mengajar dilakukan seperti sedia kala seperti sebelum bencana terjadi. "Aktivitas pendidikan belajar dan mengajar sudah pulih 100 persen," kata Ansyar.

Walapun demikian, lanjut dia, peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan masih ada yang melakuan aktivitas belajar mengajar di luar ruangan. Hal itu dikarenakan sarana pendidikan di sekolah telah rusak bahkan hilang akibat gempa, tsunami, dan likuifaksi yang terjadi di Sulawesi Tengah Oktober 2018 lalu sehingga menyisakan trauma.

Ansyar menjelaskan pemulihan aktivitas pendidikan dapat diukur dengan melihat dan menghitung data peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan yang telah kembali ke sekolah dan melakukan aktivitas pendidikan seperi biasa. "Masuk mulai pukul 07.15 WITA dan pulang sekira pukul 13.00 WITA," ujarnya.

Pada Senin (7/1/2018) pekan lalu, Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola menerima laporan bahwa sekolah terdampak bencana sebanyak 386 sekolah. Sementara ruang kelas yang rusak berat ada 677 ruang, rusak sedang 581 ruang, dan rusak ringan 971 ruang.

Kebutuhan kelas darurat sebanyak 677 kelas, di mana sudah 216 kelas darurat yang terdistribusi sehingga Pemkot Palu saat ini masih kekurangan 461 kelas darurat.

Sumber : Antara