Retakan di Sisi Barat Merapi Dipastikan Tidak Ada

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Kamis, 21 Februari 2019 20:35 WIB
Retakan di Sisi Barat Merapi Dipastikan Tidak Ada

Gunung Merapi mengeluarkan awan panas dan lava pijar pada Senin (18/2/2019) pagi. Kondisi tersebut terpantau dari daerah Bimomartani, Ngemplak, Sleman./Harian Jogja-Bernadheta Dian Saraswati

Harianjogja,com, JOGJA—Balai Penyelidikan dan Pengembang Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja memastikan peralatan yang dimiliki lembaga tersebut belum mendeteksi retakan di sisi barat Gunung Merapi.

Kepala BPPTKG Jogja Hanik Humaida mengatakan deformasi akan terlihat ketika ada desakan magma. Akan tetapi sampai saat ini data deformasi tidak memberikan indikasi tersebut.

“Tetapi perlu tetap diwaspadai apakah retakannya itu karena faktor cuaca atau apa. Perkembangan terbaru kondisi Merapi dari berbagai data yang masuk akan selalu kami sampaikan ke masyarakat,” katanya saat jumpa pers di Kantor BPPTKG Jogja, Kamis (21/2/2019).

Sebelumnya BPPTKG menerima laporan warga adanya suara gemuruh di Kabupaten Magelang. Suara tersebut diduga berasal dari retakan di bagian atas kawah. Namun Hanik memastikan berdasarkan hasil pemotretan morfologi di dua pos pengamatan Babadan dan Jrakah setiap 15 menit, tidak ada retakan di sisi barat Merapi.

“Meski mengalami peningkatan aktivitas dibanding satu bulan sebelumnya, kami memastikan kondisi Gunung Merapi masih aman di level II atau Waspada,” katanya.

Menurut dia, bukaan guguran lava pijar lebih banyak mengarah ke Kali Gendol. Hal itu ditandai dengan empat kali guguran pada 23 November 2018. Dibandingkan dengan periode 12 Agustus 2018 sampai 28 januari 2019, pada periode 29 Januari sampai saat ini, peningkatkan aktifitas Merapi hampir dua kali lipat.

Di periode Agustus sampai Januari, gempa guguran dalam sehari bisa mencapai 40 kali dan guguran lava pijar sejauh 300 meter.

Di periode pertama tercatat terjadi 8 kali gempa vulkanik dangkal (VB), 15 kali gempa fase banyak (MP) 28 kali gempa low frenkuensi (LF), 71 gempa eembusan (DG) dan gempa guguran (RF) sebanyak 1.132 kali. Sedangkan pada periode mulai 29 Januari sampai sekarang, telah terjadi 14 kali VB, 39 MP, 34 kali MF, 81 DG, dan 1.216 kali RF.

Jumlah volume kubah lava ini menyebabkan meterial ekstrusi lava sebagian besar langsung membentuk guguran lava atau awan panas guguran. “Peningkatan ini menjadi isyarat bahwa suplai magma ke permukaan masih berlangsung dan cenderung meningkat. Untuk volume kubah lava, kami mencatat sebanyak 461.000 meter kubik,” ucap Hanik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online