Ini Ciri-Ciri Strategi Firehose of Falsehood

Nancy Junita
Nancy Junita Senin, 04 Februari 2019 20:45 WIB
Ini Ciri-Ciri Strategi Firehose of Falsehood

Petugas melakukan pengecekan kualitas surat suara Pilpres 2019 saat pencetakan surat suara di Jakarta, Minggu (20/1/2019)./ANTARA-Muhammad Adimaja

Harianjogja.com, JOGJA - Ucapan Joko Widodo (Jokowi) tentang propaganda ala Rusia memancing perdebatan. Istilah itu dipakai Jokowi untuk menyebut cara-cara kotor dengan menyebar kebohongan untuk membingungkan publik.

Ace Hasan Syadzil, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Kyai Ma’ruf, menuturkan  Jokowi sering terkena semburan fitnah, hoaks dan ujaran kebecian yang menuduhnya antek asing.

Fitnah itu mulai soal membuka ekonomi Indonesia terhadap serbuan korporasi global, menjadi boneka China sampai dengan serbuan TKA China.

“Semburan hoaxlks ini by design untuk membangun framing negara kita sudah dikuasai asing, hilang kedaulatan, dan juga pada ambang kebangkrutan,” kata Ace dalam keterangan tertulisnya, Senin (4/2/2019).

Cara tersebut mirip dengan strategi firehose of falsehood yang digunakan dalam Pilpres AS dan Brasil. Strategi itu yang disebut oleh media-media AS sebagai propaganda Rusia.

Di AS, Donald Trump menggunakan model proganda dan mengangkat tema Make America Great Again. Tema yang sama juga berkali kali digunakan oleh capres Prabowo dengan gunakan propaganda yang sama Make Indonesia Great Again.

Kemiripan ini bukan kebetulan, ada indikasi untuk mejiplak propaganda Trump untuk digunakan di Indonesia. Propoganda firehose of falsehood memiliki ciri:

Pertama, berusaha mendapatkan perhatian media dengan pernyataan dan tindakan yang konyol dan mengundang kontroversi.

 Kedua, melemparkan pernyataan-pernyataan yang bentuknya partial truth (kebenaran parsial), misleading claim (klaim yang tidak tepat) dan bahkan bohong. Tujuannya menghilangkan kepercayaan pada data objektif dan merusak kredibilitas sumber data.

Ketiga, pernyataan itu dikeluarkan secara berulang-ulang  dan terus menerus sehingga menjangkau banyak orang.

Keempat, menuduh lawan politik melakukan kebohongan.

Kelima, menyentuh sisi-sisi sentimen alias emosional dengan menebar kebecian, keterancaman dan ketakutan untuk membuat masyarakat bersikap konservatif.

Dengan membongkar strategi propaganda ini,  menurut Ace, Jokowi mengingatkan rakyat agar tidak tertipu oleh model propaganda seperti itu. Selain itu, Jokowi memberi peringatan terhadap bahaya penggunaan propaganda seperti ini karena bisa memecah belah dan mengadu domba rakyat.

“Sangat besar ongkos yang dipertaruhkan jika elite politik untuk kepentingan pragmatisme politik menghalalkan segala cara untuk mencapai kemenangan,”ujar Ace.

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online