Klarifikasi Said Aqil Ihwal Kader NU di Posisi Strategis

Budi Cahyana
Budi Cahyana Rabu, 30 Januari 2019 17:25 WIB
Klarifikasi Said Aqil Ihwal Kader NU di Posisi Strategis

Said Aqil Siradj/Antara-Hafidz Mubarak

Harianjogja.com, JOGJA—Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menepis beragam tudingan negatif yang dia terima ihwal pernyataannya agar kader NU mengisi posisi penting seperti imam masjid, khatib, dan pemimpin Kantor Urusan Agama (KUA).

Menurut Said Aqil, pernyataannya saat berpidati pada peringatan Ke-73 Hari Lahir Muslimat NU di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Minggu (27/1/2019) banyak disalahpahami.

“Pidato saya ketika hadir di Harlah Ke-73 Muslimat, saya katakan Menteri Agama, Kepala Kemenag, khatib, imam jumat, imam masjid harus NU karena kalau bukan NU, nanti  salah semua. Itu artinya, kalau [pemegang jabatan penting] bukan NU, amalan amaliah-amaliah NU akan disalah-salahkan semua. Wiridan setelah salat salah. Maulid Nabi salah. Rajabiyah salah. Isra Miraj, ziarah kubur salah. Tawasul salah. Haul salah. Malah musyrik. Bid’ah semua itu. Saya kan bilang tari-tarian bid’ah semua, tari-tari sufi ini. Itu maksudnya. Bukan saya nyalahin orang, bukan berarti nganggap orang salah, bukan,” kata dia di, PBNU, Jakarta, sebagaimana dikutip dari nu.or.id, Selasa (29/1).’

Nu.or.id juga melampirkan pidato Said Aqil dalam peringatan Harlah Muslimat untuk meluruskan kesalahpahaman yang sudah kadung muncul di publik.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Said Aqil Siradj meluruskan pernyataannya, Menurut Kalla, dalam Islam, kriteria imam adalah orang-orang yang mampu menjalankannya dan tidak ada batasan organisasi untuk mengisi posisi tersebut.

“Jadi kurang tepat kalau dilakukan dalam skala organisasi. Ya tentu harus diklarifikasi. Saya yakin beliau arif untuk mengklarifikasi bahwa dalam hukum agama dia mampu, tak terbatas dari NU saja,” katanya di Kantor Wapres, Selasa.

Kalla yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) tersebut menilai untuk menjadi seorang imam, khatib, atau pemimpin KUA bukan dilihat berdasarkan latar belakang organisasi, melainkan kompetensi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online