Dampak Perusahaan Ritel Terlanjur Pungut PPN 12 Persen, DPR Akan Panggil Sri Mulyani
Ketua Komisi XI DPR Misbakhun menyatakan dalam waktu dekat akan memanggil jajaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam rangka membahas polemik soal kenaikan PP
Prabowo Subianto menghadiri acara Hari Disabilitas INternasional di Jakarta, Rabu (5/12). JIBI/BISNIS/Jaffry Prabu Prakoso
Harianjogja.com, JAKARTA — Calon presiden Prabowo Subianto geram dengan media massa mainstream atau media massa besar yang digunakan masyarakat mendapatkan informasi.
Usai acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di Jakarta, Prabowo menolak diwawancarai oleh beberapa media.
Bukan kali pertama, sebelumnya pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 ini juga memboikot saluran televisi swasta Metro TV karena pemberitaan yang disampaikan tidak berimbang dan hanya memihak lawan politiknya.
Abdul Kadir Karding, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin, menilai kekuatan Prabowo-Sandi berada di media sosial, sehingga sering kali mengabaikan media massa mainstream.
Menurutnya pihak lawan lebih sering melakukan propaganda pada media sosial ketimbang di media massa mainstream.
Lebih jauh, Karding mengklaim sebanyak 30% informasi yang beredar di media sosial adalah informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Untuk itu masyarakat perlu cermat untuk memilah informasi yang didapat dari media sosial.
“Kalau media mainstream dan pers lain itu mudah dikontrol publik, tapi kalau medsos [media sosial] itu banyak modus yang bisa dipakai untuk menggelembungkan percakapan, view nya dan sebagainya,” ujarny, Rabu (5/12/2018).
Terkait tudingan Prabowo tentang media mainstream yang banyak menyebarkan berita bohong, Karding menyinggung Prabowo seperti sedang lempar batu sembunyi tangan.
“Yang biasa sampaikan hoaks Pak Prabowo kan. sekarang menuduh pers, saya kira ini cara menutupi kelemahan pribadinya saja,” pungkasnya.
Ia pun menyayangkan pernyataan Prabowo yang menilai pers sebagai lembaga yang merusak demokrasi.
Padahal menurut Karding, Prabowo dan Partai Gerindra dibesarkan tak lepas dari peran media massa mainstream.
“Saya kira Pak Prabowo besar dan Partai Gerindra besar itu karena pers. Oleh karena itu tidak sepatutnya pers diperlakukan seperti itu,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Ketua Komisi XI DPR Misbakhun menyatakan dalam waktu dekat akan memanggil jajaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam rangka membahas polemik soal kenaikan PP
YouTube akan meluncurkan fitur deteksi wajah AI untuk kreator guna melawan deepfake dan penyalahgunaan konten digital.
Kemendagri dorong aturan larangan perang suku di Papua Pegunungan lewat Raperdasus dan Raperdasi demi menjaga keamanan.
Lonjakan penumpang KAI Daop 4 Semarang capai 220 ribu saat libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 2026. Ini rute favoritnya.
Bahasa Inggris akan jadi pelajaran wajib SD mulai 2027. Pemerintah siapkan pelatihan guru dan strategi peningkatan mutu pendidikan.
Leo/Daniel juara Thailand Open 2026 usai kalahkan pasangan India. Kemenangan ini jadi momentum menuju Olimpiade 2028.