Fadjar Basoeki, Menularkan Semangat Bertani kepada Anak Muda

Maya Arina Pramudita
Maya Arina Pramudita Jum'at, 27 Juli 2018 19:35 WIB
Fadjar Basoeki, Menularkan Semangat Bertani kepada Anak Muda

Fadjar Basoeki/Harian Jogja-Maya Arina Pramudita

Harianjogja.com, JOGJA—Fadjar Basoeki,59 terus menularkan semangat pertanian kepada banyak orang. Merangkul para mahasiswa, lelaki kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah ini berbagi pengetahuan tentang dunia pertanian dan mengampanyekan rasa cinta terhadap lingkungan.

Rasa senang dapat berbagi dalam bidang pertanian muncul sejak 2007, saat itu, Fadjar begitu namanya kerap disapa ditugaskan menjadi konsultan bidang irigasi Bank Dunia di Jogja dengan kantor di Semarang. Saat itu, ia bertugas menjadi fasilitator masyarakat tentang pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan air dan hal-hal yang berkaitan dengan irigasi.

Sebagai seorang praktisi dalam bidang pertanian, lulusan Fakultas Pertanian UPN Veteran Jogja ini juga memberikan edukasi kepada petani lokal cara melakukan pengelolaan tanah  dengan tanaman pertanian dengan tepat. “Saya merasa senang dapat berbagi ilmu saat itu,” ujarnya kepada Harian Jogja, belum lama ini.

Memiliki pengalaman terjun langsung kepada masyarakat membangkitkan semangatnya untuk juga membagikan pengalaman luar biasa itu kepada mahasiswa di Jogja. Fadjar menyadari dengan membagikan terjun langsung ke lapangan, terdapat nilai-nilai kehidupan yang dapat diraih dengan praktik langsung.

Fadjar menjelaskan bahwa kehidupan perkuliahan mahasiswa didalam kampus tentu berbeda dengan kehidupan langsung dimasyarakat. Sejak saat itu ia mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengan Fakultas Teknologi Pertanian dan Gerakan Irigasi Bersih.

“Pada 2013 kemudian saya mendirikan Komunita Untuk Jogja (KUJ) dengan memberikan pelatihan-pelatihan kepada mahasiswa,” terang Fadjar.

Terbentuknya KUJ menjadi wadah baginya untuk mengolah Sumber Daya Manusia yaitu mahasiswa agar mahasiswa tidak hanya belajar secara teori saja namun juga mempelajari praktek. Dengan pelatihan dan kegiatan tersebut, Fadjar menjelaskan bahwa dengan begitu, mahasiswa dapat terjun langsung ke masyarakat dan saat sudah kembali ke daerah asalnya masing-masing dapat membangun desanya dengan pertanian.

“Ada berbagai pelatihan yang saya lakukan seperti membuat pupuk organik dan pestisida organik, mengelola sampah, pertanian organik, Sabtukologi  dan masih banyak lagi,” ungkapnya.

Cara Menjaga Lingkungan

Sabtukologi merupakan kegiatan rutin setiap hari Sabtu yang memberikan pengetahuan mengenai cara merawat dan menjaga lingkungan. Bentuk kegiatannya praktik mengelola sampah hingga pertanian organik. Fadjar yang akrab disapa bapak oleh anggota dan relawan KUJ ini dengan ramah dan sabra membagikan ilmu dan keterampilan yang dimiliki.

Dalam penggunaan pupuk organik, Fadjar menerangkan bahwa terkadang dalam masyarakat luas masih terdapat kesalahan persepsi tentang pupuk organik, hal itu pula yang mendorongnya aktif memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik. Sering ditemui masyarakat memberikan kotoran hewan tanpa diolah kepada tanaman, padahal kotoran hewan tersebut merupakan bahan yang masih mentah dalam pupuk organik.

“Sama seperti manusia membutuhkan nasi dari beras yang sudah diolah. Kotoran hewan yang tidak diolah itu ibarat masih berupa beras bagi tanaman, sehingga harus diolah terlebih dahulu, misalnya dengan menambahkan bahan berupa serbuk gergaji atau dedaunan kering, effective microorganisme (EM-4) dan tetes tebu. Bahan-bahan tersebut kemudian diolah menggunakan alat sederhana yaitu sekop, ember, plastik dan air,” terangnya.

Kondisi tanah yang sebagian besar tandus akibat penggunaan pupuk kima membuat Fadjar terus aktif memberikan pelatihan dan membagikan pengetahuan pada mahasiswa bahwa dengan menggunakan pupuk organik dapat mengembalikan kesuburan tanah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online