Meriah! Festival Balon Udara di Solo Disambut Antusias
Festival balon udara di Solo diserbu ribuan warga. Sebanyak 18 balon diterbangkan, namun durasi dipersingkat akibat angin kencang.
SMA Muhammadiyah Al-Mujahidin, membacakan ikrar antiradikalisme, Senin (14/5)./Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, SURABAYA - Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dinilai kebal terhadap radikalisme yang belakangan marak ditemukan di Tanah Air.
Pengamat masalah terorisme dan radikalisme dalam Islam dari Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh, Al Chaidar, menyebut sistem pendidikan agama Islam yang dikembangkan Nahdlatul Ulama (NU) terbukti kebal terhadap pengaruh radikalisme.
"Radikalisme ini sangat susah masuk ke lingkungan orang NU. Mereka sudah memiliki sistem informasi keagamaan sendiri yang tidak bisa dimasuki teroris," kata Al Chaidar saat menjadi pembicara di "Diskusi Interaktif tentang Kajian Religius Ekstremisme dalam Perspektif Psikologi dan Sosiologi" yang digelar Universitas Nahdaltul Ulama Surabaya (Unusa) di Surabaya, Senin (23/7/2018).
Menurut Chaidar, sistem pendidikan keagamaan di NU itu juga sama dengan sistem keagamaan tradisional. NU telah memiliki pemahaman dan metode membahas persoalan agama secara lebih komprehensif dibanding kelompok teroris.
"Jika tradisi ini hilang maka akan sulit bagi Indonesia untuk mempertahankan diri dari paparan radikal. Makanya jangan sampai kaum tradisional itu hilang," kata dosen ilmu politik itu.
Berkaca dari hal itu, Chaidar menilai penguatan pendidikan agama adalah kunci untuk membentengi mengakarnya radikalisme di Indonesia.
"Sebenarnya tidak benar bahwa mahasiswa mudah terpapar radikalisme dan terorisme. Karena memang di kampus selalu dikembangkan cara berpikir yang logis dan metodologis," ujarnya.
Dirinya menyoroti minimnya pendidikan agama di perguruan tinggi sehingga hal itu dijadikan peluang oleh para penebar paham radikalisme, fundamentalisme dan terorisme.
"Saya rasa mahasiswa akan semakin gersang sehingga mudah dibodohi oleh teroris. solusi mudahnya materi pendidikan agama itu harus diperkuat. Sehingga isu-isu agama dapat dibedah dengan tuntas," kata Chaidar.
Selain Al Chaidar, pakar psikologi perkembangan remaja dan psikologi religiusitas yang juga dosen Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta juga menjadi pembicara dalam seminar tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara
Festival balon udara di Solo diserbu ribuan warga. Sebanyak 18 balon diterbangkan, namun durasi dipersingkat akibat angin kencang.
Seiring perkembangan teknologi ada metode yang disebut dengan backfilling untuk mengelola limbah tambang agar tak merusak lingkungan.
Pemkab Bantul memastikan tidak lagi membuka rekrutmen honorer baru dan fokus menyelesaikan tenaga non-ASN melalui skema PPPK.
Sam Altman mengungkap Gen Z kini memakai ChatGPT sebagai penasihat hidup, berbeda dengan generasi tua yang masih menggunakannya seperti Google.
Jadwal bola malam ini 18-19 Mei 2026 menghadirkan Arsenal vs Burnley, semifinal Liga Arab Saudi, hingga La Liga 2 Spanyol.
Google resmi meluncurkan Gemini Intelligence untuk Android, tetapi fitur AI canggih ini hanya tersedia di HP flagship tertentu dengan RAM minimal 12GB.