Anggaran Riset Kemenristekdikti Terserap 40%

Peni Widarti
Peni Widarti Kamis, 19 Juli 2018 16:10 WIB
Anggaran Riset Kemenristekdikti Terserap 40%

Beta Barasila Nirma saat menguji hasil penelitian di Laboratorium Terpadu UII, Kamis (5/7/2018)./Harian Jogja-Sunartono

Harianjogja.com, SURABAYA--Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menganggarkan rata-rata sekitar Rp10 miliar per tahun untuk pengembangan penelitian tanaman atau bahan baku obat-obatan.

Direktur Pengembangan Teknologi lndustri, Kemenristekdikti, Hotmatua Daulay mengatakan untuk anggaran 2018 hingga semester I/2018 sudah terserap hingga 40% dari total anggaran.
"Tahun ini sudah banyak perguruan tinggi yang mengajukan proposal untuk penelitian-penelitian seperti Unair, Undip, UGM dan UI. Mudah-mudahan anggarannya segera terserap," katanya seusai peresmian Laboratorium Kultur Jaringan di Universitas Surabaya, Rabu (18/7/2018).

Dia mengatakan pemerintah sendiri sesuai dengan Perpres No.6/2016 tentang Percepatan Kemandirian Obat, telah menyiapkan sejumlah insentif bagi instansi yang mengembangkan riset.
"Kami sepakat untuk mempercepat riset-riset yang ada agar tidak berhenti di tengah-tengah," jelasnya.

Insentif yang disiapkan pemerintah yakni berupa pendanaan pengembangan dan riset serta insentif kebijakan. Saat ini Kemenristek Dikti juga sedang bekerja sama dengan BPOM dalam upaya melakukan hilirisasi riset farmasi menjadi industri.
"Mudah-mudahan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional kita akan MoU dengan BPOM untuk pendampingan laboratorium di Indonesia," katanya.

Diketahui hingga saat ini industri farmasi masih bergantung penuh dengan bahan baku impor hingga mencapai 90%. Kebanyakan bahan baku diperoleh dari Tiongkok, India dan Eropa.

Salah satu bentuk upaya kemandirian obat, Universitas Surabaya (Ubaya) dan Hanbang Bio - Kyung Hee University Korea Selatan bekerja sama membangun laboratorium bersama dengan PT Kalbe Farma Tbk yang merupakan pihak industri yang akan menyerap produksi hasil penelitian.

Laboratorium Kultur Jaringan tersebut nantinya dikembangkan untuk produk tanaman obat jenis umbi-umbian seperti gingseng dan jahe merah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Laila Rochmatin
Laila Rochmatin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online