BMKG DIY Peringatkan El Nino 2026, Potensi Kemarau Kering Menguat
BMKG DIY memperingatkan potensi El Nino 2026 yang memicu musim kemarau lebih kering dan risiko kekeringan ekstrem mulai Juli hingga Oktober.
Ilustrasi imunisasi./Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, PEKANBARU-Dinas Kesehatan Provinsi Riau menyatakan akan menyasar anak suku pedalaman seperti Sakai, Talang Mamak, dan Suku Laut pada program imunisasi Campak dan Rubella atau MR di bulan Agustus-September 2018.
"Kini mereka sedang didata melalui pusat kesehatan masyarakat setempat, " kata Kepala Dinas Kesehatan Riau Mimi Yuliani Nazir di Pekanbaru pada acara workshop kampanye imunisasi MR oleh Diskes Riau di Pekanbaru, Jumat (13/7/2018).
Mimi sapaan akrab media menjelaskan semua anak baik yang ada di kota maupun pedesaan, khususnya suku pedalaman harus mendapat imunisasi MR tahap II.
Karena program ini ingin mengeliminasi Campak dan Rubella di Indonesia dengan cakupan target 95 persen anak usia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun dan gan imunisasi.
"Satu-satunya membunuh virus MR dengan imunisasi," tegas Mimi.
Menurut dia di Riau memang terdapat beberapa suku asli yang masih hidup di pedalaman seperti Sakai berdiam di Bengkalis, Talang Mamak bermukim di Indragiri, dan Suku Laut di pulau-pulau terluar Riau berbatasan dengan Kepri.
Mereka diakui selama ini masih hidup dalam ketertutupan, namun untuk target imunisasi MR nasional tahap II tetap jadi sasaran.
"Mereka juga anak-anak Indonesia yang perlu dilindungi," ujar Mimi.
Sementara itu Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit (P2) Diskes Riau, M Ridwan, membenarkan kini pihaknya melalui petugas kesehatan desa setempat yang daerahnya merupakan lokasi suku pedalaman sedang mendata berapa angka anak-anak yang akan mendapat imunisasi MR.
"Puskesmas sedang melakukan sosialisasi tingkat kecamatan dengan mengundang bidan dan petugas kesehatan desa karena mereka yang tahu peta suku pedalaman wilayah masing-masing," ujar M Ridwan.
Ditanyakan terkait berapa kisaran jumlah anak yang berdiam di pedalaman, M Ridwan mengakui pihaknya belum tahu pasti karena selama ini tak ada kajian dan survei, apalagi kendalanya suku pedalaman jarang mau keluar dari lingkungan misalkan Suku Laut, hanya berdiam di perahu.
Untuk itu sambungnya pola penanganan imunisasi nanti sudah dikoordinasikan bagi yang tidak bersekolah akan didatangi kepemukiman dengan jemput bola oleh petugas. Ini tentu bukan tanpa tantangan karena dibutuhkan petugas yang sudah mengenal wilayah dan budaya masyarakatnya.
Diskes akan menggunakan tenaga kesehatan lokal yang sudah dekat dan di kenal masyarakat.
"Intinya kalau pada Agustus imunisasi di sekolah tidak mampu menyasar mereka, maka akan di sweping ke pedalaman bulan September," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
BMKG DIY memperingatkan potensi El Nino 2026 yang memicu musim kemarau lebih kering dan risiko kekeringan ekstrem mulai Juli hingga Oktober.
Wali Kota Jogja menemukan kandang ayam, sampah, dan pendangkalan saat susur Sungai Code, Pemkot rencanakan normalisasi.
Perbaikan Jalan R Agil Kusumadya Kudus tuntas, akses Demak–Kudus kini mulus dengan anggaran gabungan pusat dan daerah Rp40 miliar.
Maarten Paes tampil solid bawa Ajax Amsterdam ke final playoff Europa Conference League. Simak performa kiper Timnas Indonesia vs Groningen di sini.
Lelang jabatan Pemkab Gunungkidul selesai, tujuh kandidat bersaing jadi kepala OPD dan menunggu keputusan bupati.
Aldila Sutjiadi sukses melaju ke final Morocco Open 2026. Simak perjuangan Aldila/Zvonareva menuju gelar juara WTA 250 malam ini pukul 21.20 WIB.