Prosesi pemakaman Brigadir Polisi Anumerta Fandy Setyo Nugroho dengan tata cara kepolisian di TPU Kuncen, Kramat Selatan, Magelang Utara, Kota Magelang, Kamis (10/5/2018)./Harian Jogja-Nugroho Nurcahyo
Harianjogja.com, MAGELANG—Kesan baik seringkali mudah hilang dari ingatan ketimbang kesan keburukan. Tapi itu tak berlaku bagi orang yang pernah berinteraksi dengan Brigadir Polisi (Anumerta) Fandy Setyo Nugroho, salah satu anggota Densus 88 yang menjadi korban kebrutalan napi teroris saat insiden kerusuhan di Rumah Tahanan Cabang Salemba, kompleks Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok Jawa Barat, Selasa (8/5/2018).
Selain kenangan baik yang terus tinggal di ingatan teman masa kecilnya, Lucia Giovanni, Fandy juga menyisakan cerita berkesan bagi Wuradi, kakak sepupunya. “Saya bangga punya adik seperti Fandy,” kata dia di sela-sela bertakziah di rumah duka di Jalan Duku 2 No. 30, Perumahan Korpri, Magelang Utara, Kamis (10/5/2018).
Wuradi tinggal di Kwarasan, Cacaban, Magelang Tengah, tempat Fandy mengenyam pendidikan dasar. Selama sekolah di bangku SD, Fandy sering mampir ke rumah Adi, sapaan karib Wuradi. Kedekatan saudara sepupu itu berlanjut hingga keduanya dewasa. Tiap Lebaran mereka menyambung silaturahmi dan berkumpul melepas kangen.
Adi menceritakan, baru sebulan lalu Fandy pindah rumah ke Kompleks Polri di Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat. Sebelumnya Fandy masih tinggal di rumah kontrakan.
Dua pekan sebelum menjemput ajal, Fandy sempat menggelar syukuran di rumah dinasnya itu. Semua keluarga dekat diundang ikut syukuran. Namun Adi tidak ikut. Ia hanya mendapat cerita gembira itu dari saudara-saudaranya.
Dari keluarganya, Adi mendapat cerita ada keinginan Fandy di tengah keluarganya yang belum sempat tertunaikan. Keinginan yang sangat sederhana.
Setelah pindah rumah di Jatirangga, Fandy sempat mengabari sepupunya yang tinggal di Banjarnegara, Lebaran tahun ini ia mau mudik lewat jalur darat. Fandy berencana mampir dulu ke rumah saudaranya di Banjarnegara. Kepada sepupunya di sana, ia minta dicarikan durian, buah kegemarannya.
Malang tak dapat ditolak, keinginan sederhana Fandy itu tak pernah terwujud. Pria yang baru delapan bulan menjadi ayah itu keburu dijemput ajal.
Namun ada keinginan besar Fandy yang pernah disampaikan kepada Adi yang membuatnya bangga punya sepupu yang jadi personel pemberantas teroris.
Suatu ketika saat Lebaran dan berkumpul bersama keluarga besar termasuk Fandy, Adi iseng bertanya ke Fandy apa ia tidak takut mati dengan bergabung di Densus 88 yang pekerjaannya bertaruh nyawa. Fandy bilang tidak.
“Saat itu Fandy bilang dalam sebuah pertarungan melawan kebathilan, hanya dua kemungkinan, mati dibunuh orang jahat atau ia yang membunuh orang jahat,” ungkap Adi.
Dalam diskusi santai itu, Fandy berkata kepada Adi, sebagai seorang petugas, ia justru lebih merasa terhormat jika harus mengakhiri hidup di palagan saat melawan kejahatan.
“Saya bangga sama Fandy. Banyak orang bilang cara kematiannya tragis, tapi sebenarnya ia meninggal dengan terhormat sesuai yang dia inginkan [dari pekerjaannya]. Saya lega keinginannya itu akhirnya terkabul.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.