Stok Pangan Aman, Masyarakat Diminta Tak Waswas Harga Bakal Naik Tinggi

Tim Lipsus Harian Jogja
Tim Lipsus Harian Jogja Senin, 07 Mei 2018 12:25 WIB
Stok Pangan Aman, Masyarakat Diminta Tak Waswas Harga Bakal Naik Tinggi

Beras dijual di sebuah pasar tradisional./Antara-Novrian Arbi

Harianjogja.com, JOGJA—Sepekan menjelang Ramadan, Pemda DIY dan Bulog menjamin ketersediaan pangan. Namun, harga barang tetap naik karena permintaan meningkat.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah DIY Budi Wibowo mengatakan stok pangan menjelang Ramadan aman terkendali. Jika mendekati Ramadan harga pangan naik, Pemda DIY bersama dengan Bulog Divisi Regional (Divre) DIY tinggal menyebar persediaan di gudang.

Menurut dia, masyarakat tak perlu khawatir harga-harga akan naik tinggi. “Kalau harga naik, stok tinggal disebar. Pada 2018 DIY surplus beras. Daging juga enggak masalah, asal Bulog mengeluarkan daging beku,” kata Budi di kompleks Kepatihan, Jumat (4/5).

Satuan Tugas (Satgas) Pangan sudah terjun ke lapangan demi memastikan tidak ada penimbunan pangan. Demi menstabilkan harga, Pemda DIY sudah menggelar operasi pasar.

Bulog juga meminta publik tidak panik karena upaya stabilisasi harga sudah mulai dilakukan jauh-jauh hari sebelum Ramadan lewat Gerakan Stabilisasi Harga Pangan (GSHP).

“Stabilisasi harga beras kami lakukan sepanjang tahun. Kami jaga harga beras medium Rp9.450 per kilogram, sesuai harga eceran tertinggi,” Kepala Bulog Divre DIY Ahmad Kholisun, Minggu (6/5).

Program GSHP sudah dimulai sejak awal April lalu. Kholisun mengatakan 7.000 ton beras, 1.400 ton gula pasir, 750 kilogram daging sapi beku, 147.000 liter minyak goreng, dan 26 ton terigu tersedia di gudang Bulog. Jumlah tersebut diprediksi cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan hingga Lebaran.

Ambil Ancang-Ancang

Pemerintah kabupaten sudah mengambil ancang-ancang untuk menghadapi kemungkinan kenaikan harga pangan. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman setiap hari memantau enam pasar.

Kepala Bidang Usaha Perdagangan Disperindag Sleman Nurhadiyati mengatakan enam pasar yang diamati adalah Pasar Prambanan, Pasar Godean, Pasar Tempel, Pasar Gamping, Pasar Pakem, dan Pasar Sleman. “Untuk sementara, harga kebutuhan pokok di Sleman masih stabil,” ujar dia, Jumat.

Ada beberapa komoditas yang makin mahal, tetapi ada pula yang kian murah. Harga bawang putih kating turun 17,06% dari Rp38.483 menjadi Rp31.917 per kilogram (kg). Sementara, harga telur ayam broiler naik 3,62% dari Rp21.473 menjadi Rp22.250 per kg.

Pedagang telur ayam di Pasar Kolombo Tati Widiarti mengatakan harga telur ayam naik karena permintaan akan telur ayam yang tinggi menjelang Ramadan. “Pembeli pada bikin kue, permintaan pun tinggi,” ucap dia.

Menurut Tati, menjelang Ramadan harga rata-rata naik Rp1.000 per hari. “Nanti setelah masuk Ramadan puasa biasanya harga sudah mulai stabil.”

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul akan meningkatkan pengawasan terhadap stok pangan dan kebutuhan pokok penting lainya. Kepala Dinas Perdagangan Bantul Subiyanta Bantul mengatakan surat keputusan sudah dikeluarkan sebagai dasar pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan Pangan yang akan berkoordinasi dengan Satgas Pangan milik Polres Bantul.

“Kami awasi mulai dari stok, harga hingga kebutuhan di masyarakat seperti apa. Menjelang Lebaran, pengawasan kami intensifkan,” ujar dia.

Dinas Perdagangan Bantul juga berencana membentuk tim di lingkup internal. “Tugasnya hampir mirip Satgas Pangan, tetapi memantau harga setiap hari. Satgas Pangan hanya memantau pada hari-hari tertentu,” ujar dia.

Subiyanta mengatakan potensi kenaikan harga akan sangat tergantung stok barang di pasaran. Satgas Pangan masih memberikan toleransi kenaikan harga, tetapi paling tinggi 10%. Jika melebihi batas, pedagang akan ditindak.

Adapun Kepala Disperindag Kulonprogo Krissutanto mengatakan kenaikan harga biasanya terpengaruh lonjakan harga pangan di luar daerah. Dia memastikan stok pangan di Kulonprogo aman.

Padi, bawang, dan cabai yang sempat puso karena Siklon Tropis Cempaka tidak akan mengganggu persediaan. Senin (7/5) ini Satgas Pangan bakal dibentuk untuk mengawasi stok dan harga pangan. Unsur Satgas pangan meliputi Satuan Polisi Pamong Praja Kulonprogo, Polres Kulonprogo beserta beberapa organisasi perangkat daerah.

Di Gunungkidul, harga barang pokok mulai menunjukkan kenaikan. Sekretaris Disperindag Gunungkidul Suryanto mengatakan pasar di tiga kecamatan yakni Wonosari, Playen, dan Semanu menjadi fokus utama pengamatan

“Tiga wilayah itu pasarnya representatif karena jadi jujugan masyarakat Gunungkidul,” ujar dia.

Senin ini, Disperindag Gunungkidul akan memantau kondisi pangan di Pasar Wonosari.

Dia mengakui harga sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan. Selain daging ayam potong, harga telur ayam juga terus merangkak, bahkan hingga awal pekan lalu mencapai Rp23.000 per kilogram dari biasanya Rp21.000 per kilogram.

Tergantung Permintaan

Badan Pusat Statistik (BPS) menilai gejolak harga Ramadan dan Lebaran tidak dapat dihindari. Musababnya, permintaan dipastikan naik dibandingkan hari-hari biasa. Kepala BPS DIY JB Priyono mengatakan menjelaskan pada periode Februari-Maret, biasanya inflasi masih terkendali. Begitu pula pada Maret-April karena bertepatan dengan panen raya. Ketika memasuki masa Ramadan hingga lebaran pada Mei-Juni, inflasi mulai terlihat.

“Mau tidak mau memang tidak bisa dihindari karena permintaan pasti akan lebih banyak dari hari-hari biasanya. Ini terjadi setiap tahun,” kata dia.

Priyono mengimbau para pelaku usaha untuk bersiap-siap menghadapi kenaikan permintaan tersebut. Caranya dengan memperbanyak pasokan bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat, sehingga kelangkaan bisa diatasi sejak awal.

“Tim pengendali inflasi daerah pasti berusaha sebaik mungkin untuk menjamin tidak terjadi kelangkaan bahan pokok saat Lebaran, agar inflasi bisa ditekan,” ucap dia.

Adapun pengamat ekonomi menilai operasi pasar yang menjadi andalan pemerintah untuk mengendalikan harga masih kurang ampuh.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Suharto menyatakan barang yang digelontorkan dalam operasi pasar harus banyak, tetapi fokus di beberapa jenis komoditas.

Ia mencontohkan pemerintah bisa menyediakan banyak beras, daging, dan telur secara terus menerus sehingga menentukan psikologi pasar.

Selain itu, pengawasan harus diperketat.

“Distributor yang nakal harus diberikan tindakan tegas. Sinergi dengan kepolisian harus kuat dalam pengawasan dan dilakukan secara serius bukan sekedar koordinasi semata. Kalau saya amati seperti DIY lemah sekali pengamatannya,” kata dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online