Gempa NTT 7,7 M: BNPB Catat 53.971 Rumah Rusak
BNPB mencatat 53.971 rumah rusak akibat gempa 7,7 M di NTT. Sebanyak 19.006 rumah rusak berat dan data masih diverifikasi.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X saat melihat-lihat beberapa ruangan di “Rumah Hakka” usai peresmian, Jumat (18/9/2015). (JIBI/Harian Jogja/Joko Nugroho)
Tionghoa Jogja memiliki rumah untuk aktivitas seno, budaya, sosial hingga pendidikan.
Harianjogja.com, BANTUL – Paguyuban Hakka Yogyakarta (PHY) meresmikan “Rumah Hakka” sebegai tempat beraktivitas. Nantinya “Rumah Hakka” menjadi tempat untuk melatih seni, budaya, sosial hingga kursus bahasa Mandarin para anggota PHY.
Ketua Panitia Budi L. Evan mengatakan PHY awalnya berdiri pada tahun 2002 melalui gagasan beberapa tokoh penting di DIY. “Rumah Hakka” ini sudah terpikirkan sejah tahun 2005 sebagai tempat untuk beraktivitas anggota Hakka di DIY.
“Pembangunan dan baru bisa direaslisasikan ide-ide kami tentang Rumah Hakka pada tahun ini. Semua ini berkat teman-teman yang berkenan melakukan arisan gotong royong, sumbangan dermawan hingga simpatisan,” jelas Budi saat peresmian “Rumah Hakka”, Jumat (18/9).
Rumah Hakka ini dibangun di atas tanah 900 meter persegi dengan tiga lantai seluas 1000 meter persegi. Bangunan ini terdiri dari ruang sekretariat, tamu VIP, ruang rapat, kesenian, muda-mudi, peranan wanita, pembuatan buletin Hayo (Hakka Yogyakarta) dan panggung hall serba guna.
“Dengan diresmikannya acara ini kami berharap PHY bisa lebih berkiprah dan berkontribusi pada kesenian di DIY. Kami berharap bisa melakukan sumbangsih saat ada acara-acara budaya dan sosial,” jelas Budi.
Ketua PHY, Sukeno mengatakan tempat ini memang akan menjadi ruang untuk berkarya dan mengekspresikan budaya, ekonomi dan sosial anggota Hakka. Di sini juga akan dibangun tempat untuk berlajar bahasa Mandarin
“Lewat belajar bahasa mandarin ini kami berharap bisa membantu masyarakat yang ingin memahami bahasa mandarin. Kami juga memiliki majalah hakka Yogyakarta yang bisa dijadikan bahan untuk pembelajaran pula,” jelas Sukeno.
Sukeno mengaku PHY tepat akan berkiprah dalam bidang budaya, ekonomi dan sosial. Mereka tidak ingin ambil bagian dalam bidang politik di DIY.
“Kami ingin mengembangkan DIY bukan dibidang politik, tapi budaya, ekonomi dan sosial saja. Ini menjadi fokus kami,” kata Sukeno.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X berharap “Rumah Hakka” ini benar-benar menjadi wadah bagi masyarakat Tionghoa di Jogja. Dia berharap ke depan “Rumah Hakka” ini bisa memiliki secretariat untuk melayani stake holder.
“Kami juga berharap ke depan teman-teman Tionghoa di Jogja ini bisa juga menjadi jembatan penghubung iklim investasi antar negara. Jadi benar-benar bisa memberikan manfaat dibidang ekonomi,” jelas Sultan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BNPB mencatat 53.971 rumah rusak akibat gempa 7,7 M di NTT. Sebanyak 19.006 rumah rusak berat dan data masih diverifikasi.
Avengers Endgame Encore tayang di Indonesia mulai 25 September 2026 dengan materi tambahan 4 menit serta perubahan visual dan dialog
Presiden Prabowo Subianto mengungkap alasan tak langsung datang ke NTT usai gempa M7,7. Ia tak ingin pejabat daerah sibuk menjemput dan fokus warga terganggu.
KPK menggeledah Rektorat Unsoed dan sejumlah rumah tersangka kasus dugaan korupsi PMB jalur Mandiri. Penyidik menyita dokumen dan bukti elektronik.
DPRD) Klaten menggelar rapat paripurna dengan agenda pemungutan dan penghitungan suara calon Wakil Bupati (Wabup) Klaten sisa masa jabatan 2025-2030
Pemkot Jogja memadukan CKG dengan skrining TB untuk menemukan kasus secara dini, menyasar anak kelompok rentan, kontak erat pasien, dan warga berisiko.