Warga Jogja Ditantang Berani Gundul
Petugas memilah naskah soal dan lembar jawaban Ujian Nasional (UN) 2015 untuk SMA dan sekolah sederajat di Madiun, Jawa Timur, Kamis (9/4/2015). Logistik Ujian Nasional paper based test (PBT) tersebut selanjutnya dikarantina dalam ruangan dengan pintu dan jendela yang disegel dan dijaga polisi demi menghindari terjadinya kebocoran soal. (JIBI/Solopos/Antara/Siswowidodo)
UN 2015, diperkirakan satu siswa di Wates tidak mengikuti ujian.
Harianjogja.com, KULONPROGO-Setidaknya sudah tercatat tiga siswa SMA/SMK calon peserta Ujian Nasional (UN) di Kabupaten Kulonprogo yang sedang dalam karena sakit. Satu siswa bahkan diperkirakan sama sekali tidak mampu mengikuti UN karena masih perawatan intensif di rumah sakit.
Kasubag Perencanaan Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Kulonprogo, Taryono mengungkapkan, ada dua siswa SMK Negeri 1 Pengasih dan satu siswa SMA Negeri 1 Sentolo yang dilaporkan sedang dalam kondisi sakit.
“Satu siswa dari SMA Negeri 1 Sentolo malah mungkin tidak ikut ujian karena masih perawatan di Rumah Sakit Grhasia,” kata Taryono kepada Harianjogja.com, Jumat (10/4/2015).
Siswa tersebut pada dasarnya berhak mengikuti UN susulan pada 20-23 April 2015 mendatang. Namun, semuanya tetap tergantung dari kondisi kesehatannya.
“Kalau tidak bisa [ikut UN susulan], mengulang lagi dan ikut tahun depan,” ucapnya kemudian.
Taryono lalu mengatakan, dua siswa SMK Negeri 1 Pengasih yang juga dinyatakan sakit diperkirakan masih mampu mengikuti UN. Namun, keduanya akan menempuh ujian manual meskipun SMK Negeri 1 Pengasih menerapkan UN bersistem Computer Based Test (CBT).
Pengawas khusus bagi dua siswa SMK Negeri 1 Pengasih juga sudah disiapkan. Namun, Dindik Kulonprogo masih menunggu kondisi terakhir siswa bersangkutan, apakah memang harus ujian di rumah atau tetap di sekolah meski menggunakan ruangan khusus.
“Kemarin mintanya tetap di sekolah tapi nanti tergantung kondisi anak pada hari Senin besok. Kalau bisa ke sekolah ya di sekolah saja. Kalau minta di rumah ya kami kirimkan pengawas ujian ke rumahnya,” ujar Taryono menjelaskan.
Jika UN benar-benar diadakan di rumah siswa yang sakit, satu siswa akan ditunggui dua orang pengawas. “Aturannya memang satu ruangan ada dua pengawas. Nanti kalau ternyata mereka ujian di sekolah dalam satu ruangan, berarti dua anak itu akan ditunggu dua orang pengawas juga,” papar Taryono.
Sebelumnya, Wakil Kepala Bidang Humas SMK Negeri 1 Pengasih, Supriyanto mengatakan, ada dua siswa yang tidak bisa ikut UN CBT karena sakit. Keduanya sudah diizinkan untuk mengerjakan UN secara manual atau Paper Based Test (PBT). Mereka juga diperkirakan tidak sanggup ke sekolah sehingga akan menjalani UN di rumah masing-masing.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cara cek SLIK OJK lewat iDebku online untuk melihat riwayat kredit dan status pinjaman secara gratis dan resmi.
Veda Ega Pratama memimpin klasemen rookie Moto3 2026 dengan 58 poin, tapi Brian Uriarte mulai mengintai. Saksikan duel sengit di Mugello akhir pekan ini
Libur Iduladha tingkatkan kunjungan wisata di Bantul, Pantai Parangtritis jadi destinasi paling ramai wisatawan.
Piala Dunia 2026 jadi turnamen termahal sepanjang sejarah. AS gelontorkan Rp196,5 triliun, target PDB naik US$17,2 miliar. Simak analisis untung-rugi ekonomi
Konser BTS di Busan picu lonjakan harga hotel hingga 7 kali lipat dan keluhan ARMY soal getok harga penginapan.