PAD Wisata Gunungkidul Melejit, Dewan Minta Target Dinaikkan
PAD wisata Gunungkidul tembus Rp26 miliar hingga Mei 2026. DPRD meminta target pendapatan daerah dinaikkan saat APBD Perubahan.
JIBI/Solopos/Ardiansyah Indra Kumala Siswa kelas IV menggunakan buku paket bertema Indahnya Negeriku saat kegiatan belajar-mengajar di SD Negeri Kratonan, Solo, Selasa (7/1). Buku pelajaran untuk jenjang SD pada kurikulum 2013 tidak dipisahkan berdasarkan mata pelajaran, namun dipisah berdasarkan tema.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Kurikulum 2013 saat ini 'tersandung' masalah pengisian rapor. Setidaknya inilah yang dialami sejumlah guru sekolah dasar (SD) di Gunungkidul. Adapun Sabtu (20/12/2014) hasil ujian sebagai hasil studi siswa di semester pertama tahun ajar 2013-2014 harus dibagikan.
Kesulitan itu terjadi karena metode yang digunakan dalam penilaian berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Pengisian rapor dengan kurikulum 2013 harus mendeskripsikan dengan narasi nilai yang diperoleh siswa. Akibatnya, pengerjaan itu memerlukan ketelitian dan waktu yang lebih lama lagi.
Salah seorang guru di Gunungkidul Anik Istiani mengakui baru menyelasaikan rapor siswa didiknya sebanyak 80%. Namun, dia optimistis hasil ujian itu dapat dibagikan tepat waktu.
“Modelnya berbeda dengan kurikulum 2006. Kalau dulu siswa diberikan buku rapor, tapi sekarang dikasih lembaran. Lembaran yang diberikan juga sudah terformat dalam sebuah soft file,” kata Anik saat ditemui di rumahnya di Playen, Kamis (18/12/2014).
Dia menjelaskan butuh ketelitian dan waktu yang lebih lama untuk mengerjakan rapor dengan sistem itu. Sebab, nilai yang diberikan harus ada deskripsi tentang pencapaian nilai-nilai itu.
“Pengisiannya lebih sulit, sebab harus menjelaskan tentang indikator apa saja yang membuat seorang murid mendapatkan nilai tersebut. Saya pun membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk menyelesaikannya,” kata Anik lagi.
Hal yang sama juga diungkapkan Bayu, Guru SD di Wonosari. Saat ini, mayoritas guru masih mengerjakan rapor-rapor tersebut. Menurut dia, kesulitan dalam pengisian dikarenakan sosialisasi kurikulum 2013 dianggap masih kurang. Bayu mengakui pernah mengikuti pelatihan untuk kurikulum itu selama empat hari. Namun, tahapannya belum sampai ke model penilaian di dalam rapor.
“Masalah lainnya, kami baru menerima contoh form rapor baru-baru saja. Padahal kami sudah membuat form sendiri, sehingga kami harus mengubahnya sesuai dengan form yang diterima dari dinas,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PAD wisata Gunungkidul tembus Rp26 miliar hingga Mei 2026. DPRD meminta target pendapatan daerah dinaikkan saat APBD Perubahan.
Kelurahan Giwangan melatih warga mengolah sampah organik dengan biopori jumbo untuk mendukung program Mas Jos Kota Jogja.
Seskab Teddy Indra Wijaya membeli 35 sapi jumbo dari peternak Boyolali untuk kebutuhan kurban Iduladha 1447 Hijriah.
TPS Surabaya menangani ekspor tiga unit locomotive platform PT INKA ke Australia, melengkapi total pengiriman 16 unit.
Dosen UMY mengingatkan mahasiswa soal bahaya paylater yang memicu perilaku konsumtif, utang, hingga stres finansial menurut Islam.
Jonatan Christie langsung fokus ke Indonesia Open 2026 usai tersingkir pada babak pertama Singapore Open dari Prannoy H.S.