UNPK Paket B : Ujian Digabung, Peserta Merasa Minder

Rabu, 07 Mei 2014 14:19 WIB
UNPK Paket B : Ujian Digabung, Peserta Merasa Minder

JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto Para peserta ujian mengerjakan soal dalam Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) Paket C di SMP Negeri 15, Lempuyangan, Yogyakarta, Selasa (15/04/2014). Sebanyak 459 siswa pendidikan non formal dari 13 Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Yogyakarta mengikuti Ujian Nasional Program Kesetaraan (UNPK) paket C. Sayangnya pengumuman hasil kelulusan dan ijazah jenjang kesetaraan itu seringkali tidak sesuai jadual sehingga siswa terla

Harianjogja.com, JOGJA—Peserta Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) Paket B dari beberapa Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Jogja merasa minder. Sebab peserta merasa tidak percaya diri ketika dalam penentuan akhir harus ujian dengan peserta dari PKBM lain.

Ineke Riski Cahyani, 16, warga belajar dari PKBM Reksanegaran merasa tidak percaya diri ketika harus mengikuti ujian bergabung dengan peserta dari PKBM lain. Canggung menjadi alasan utamanya. Padahal menurut dia, ketenangan menjadi kunci agar konsenstrasi tetap terjaga selama pelaksanaan UNPK.

Ketua PKBM Bangun Karsa, Mawardi menilai warga belajar PKBM jelas berbeda dengan para siswa peserta ujian reguler. Secara psikologi peserta ujian reguler lerbih punya kesiapan mentali. Apalagi, lanjut dia, peserta UNPK kebanyakan adalah masyarakat yang usianya jauh di atas siswa reguler.

Adapun penggabungan satu lokasi ujian baru dilakukan pada pelaksanaan UNPK 2014 ini. Sebelumnya, ujian selalu dilakukan di masing-masing PKBM dengan sistem pengawasan silang. Mawardi pun meras heran, hanya Jogja di wilayah DIY ini yang melakukan penggabungan lokasi UNPK. Empat wilayah lainnya, Kulonprogo, Bantul, Sleman dan Gunungkidul pelaksanaan UNPK masih dilakukan di masing-masing PKBM.

Apalagi bagi warga belajar yang ikut UNPK karena tidak lulus ujian nasional di sekolah reguler, tentu semakin down. Menurut Mawardi, rasa trauma tetap membayangi mereka.

"Jika bertemu dengan orang yang mereka kenal mungkin malu. Berbeda jika pelaksanaannya dilakukan di masing-masing PKBM, kerahasiannya terjamin," tandasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online