38 Jembatan di Gunungkidul Mulai Rusak, Perbaikan Dikebut
DPUPRKP Gunungkidul mencatat 38 jembatan mengalami kerusakan ringan hingga sedang dan menjalani perawatan berkala.
Harianjogja.com, JOGJA-Akibat ekspansi lahan oleh manusia membuat keberadaan Elang Jawa jadi semakin terancam. Data dari Raptor Indonesia mencatat pada 2010, jumlah endemi hewan asli Pulau Jawa itu tinggal 325 pasang.
Kalau dibiarkan terus menerus maka diperkirakan pada 2025 hewan ini akan punah.
Aktivis Raptor Indonesia Asman Adi Purwanto mengatakan, ulah manusia menjadi faktor utama makin terancamnya Elang Jawa.
Tak hanya itu, akibat perilaku buruk pembabatan hutan secara ekstrem membuat ekosistem alam liar menjadi terancam. Ujung-ujungnya akan bermuara pada punahnya satwa di hutan tersebut, salah satunya habitat hutan di sekitar Gunung Merapi, padahal tempat itu merupakan habitat untuk Elang Jawa.
"Tidak hanya Elang Jawa, binatang lainnya keberadaannya juga makin terancam," tegasnya.
Lebih parahnya lagi, sambung dia, kondisi itu juga diperparah dengan jual beli satwa liar yang dijadikan komoditas. Dalam kurun waktu 2005-2010 ada sekitar 22 ekor Elang Jawa diperjualbelikan di pasar gelap. Jika praktik ilegal tak segera diusut dan ada penanganan hukum secara pasti, diperkirakan Elang Jawa pada 2025 akan tinggal cerita belaka.
"Penelitian terakhir mencatat populasinya hanya 650 ekor. Itupun penelitian dilakukan empat tahun lalu," tegas dia.
Tak bisa dipungkiri, manusia harus bertanggung jawab atas kehidupan satwa liar. Perubahan tata guna lahan telah menggusur habitat burung-burung. "Aktivitas manusia telah mengganggu keseimbangan ekosistem di alam liar," timpal Syaiful Rochman, Koordinator dari Komunitas Tigalimapulh.
Menurut dia, kehidupan alam liar dan keanekaragaman hayati di Indonesia terancam eksistensinya, baik itu akibat oleh alam atau ulah usil tangan manusia. "Kalau seleksi alam sudah wajar, tapi yang paling mengancam adalah ulah manusia, baik itu untuk perburuan liar atau perluasan lahan," papar dia.
Untuk itu, bersamaan dengan perayaan World Wildlife Day, beberapa komunitas di Yogyakarta mengadakan aksi damai berkaitan dengan kesadaran akan pentingnya alam liar.
Komunitas yang tergabung dalam Jogja Wildlife forum ini terdiri dari beberapa komunitas, seperti Tigalimapuluh, Kanopi, Raptor Indonesia, Centre of Orangutan Protection (COP), Greeners Mags, Indonesia Dragonfly Society, Paguyuban Pengamat Burung Jogja, Hijau GPL, Bionik, Biolaska dan Matala UGM berkumpul di perempatan Titik Nol Kilometer, untuk menyuarakan hal tersebut.
"Aksi hari ini (kemarin) dilakukan serempak di seluruh dunia. Tujuannya untuk menjaga keseimbangan dengan alam, baik itu masalah pemanasan global atau perubahan iklim. Karena, akibat ulah tangan manusia keseimbangan alam jadi terganggu," kata Koordinator Aksi Hermitianta Prasetya Putra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPUPRKP Gunungkidul mencatat 38 jembatan mengalami kerusakan ringan hingga sedang dan menjalani perawatan berkala.
Budi Waljiman menyerahkan bantuan gamelan Suara Madhura untuk SMA Bosa Jogja guna memperkuat pelestarian budaya Jawa di sekolah.
Prabowo tegas minta BPKP tetap periksa pejabat yang diduga menyimpang tanpa melihat kedekatan dengan dirinya.
Polisi selidiki keributan di Tegalrejo Jogja yang viral di media sosial. Diduga terjadi penganiayaan usai cekcok di jalan.
Polri menegaskan kesiapan operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang akan diresmikan secara serentak oleh Presiden Prabowo Subianto.
Forum Anak Daerah (FAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sukses menggelar hari pertama dari rangkaian kegiatan "Temu Hati #17" di Ruang Nyi Ageng Serang