Kebiasaan Manis Berlebihan Bisa Ganggu Kinerja Otak
Konsumsi gula dan karbohidrat berlebih bisa ganggu otak dan picu masalah mental, ini penjelasannya.
Suatu ketika, di Miami, Amerika Serikat seorang perempuan memotret sandwich keju panggang dan menampilkannya di situs jual beli eBay. Beberapa orang yang melihatnya kemudian menyebut ada penampakan Perawan Maria dalam roti lapis itu. Padahal, sejumlah lainnya tidak melihat apapun, melainkan hanya sebentuk roti lapis keju panggang.
Fenomena ini sama denganhttp://www.harianjogja.com/baca/2013/05/23/efek-pareidolia-asal-kata-dan-penampakan-pada-persepsi-manusia-409251"> fenomena tulisan Allah yang dipotret oleh warga Sleman dan tampak di langit Jogja, Kamis (23/5) disebut sebagai efek pareidolia. Apa sebenarnya pareidolia itu?
Pareidolia, seperti dilansir situs LiveScience adalah fenomena psikologi yang menyebabkan sebagian orang melihat atau mendengar samar-samar atau gambar acak juga suara seperti sesuatu yang begitu penting.
Fenomena pareidolia, berasal dari bahasa Yunani "para" yang berarti cacat, salah, sebagai ganti dan kata benda "eid?lon" yang berarti gambar, bentuk atau potongan.
Pareidolia sebenarnya adalah salah satu tipe dari apophenia (pengalaman melihat bentuk dari data tidak penting).
Di negara-negara Barat, contoh paling sering pareidolia yang dilaporkan adalah melihat bentukan Yesus di awan atau gambar seorang pria di bulan purnama.
Kenapa pareidolia bisa terjadi? Ada beberapa teori yang mengupas penyebab fenomena ini. Sejumlah ahli menyebut pareidolia memberikan sebuah keyakinan psikologis tentang khayalan-khayalan yang membuatnya terasa masuk akal.
Para ahli juga percaya, fenomena pareidolia berada di belakang beberapa pernyataan manusia yang pernah melihat penampakan alien atau UFO.
Pareidolia kerap kali dikaitkan dengan kejadian spiritual. Sebuah penelitian di Finlandia menemukan bahwa orang-orang yang relijius atau memiliki keyakinan yang kuat akan dunia supernatural lebih kerap melihat wajah-wajah di benda-benda tak bernyawa atau alam.
Carl Sagan, penulis buku dan ahli kosmologi Amerika Serikat menyebut paraedolia hal penting untuk bertahan hidup. Dalam bukunya yang terbit tahun 1995, The Demon-Haunted World - Science as a Candle in the Dark, dia berargumentasi bahwa kemampuan untuk mengenali wajah-wajah yang tampak pada kejauhan atau dalam penglihatan yang samar dalah sebuah teknik bertahan hidup yang penting.
Ketika manusia juga menggunakan insting ini sebagai alat menilai apakah seseorang yang mendekat sebagai musuh atau teman, Sagan mencatat hal tersebut bisa memunculkan kesalahan interpretasi dari gambar-gambar acak atau pola sinar dan bayangan sebagai wajah-wajah.
Lain Sagan, lain pula Leonardo da Vinci. Ia mencatat pareidolia sebagai sesuatu yang artistik. Bagaimana dengan Anda?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Konsumsi gula dan karbohidrat berlebih bisa ganggu otak dan picu masalah mental, ini penjelasannya.
Pengadaan TKD pengganti YIA di Palihan dan Glagah masih stagnan. Warga khawatir dana ganti rugi hangus jika tak segera direalisasikan.
Penelitian terbaru menunjukkan AI mampu memperpanjang usia baterai mobil listrik hingga 23 persen tanpa memperlambat pengisian daya.
Penyandang disabilitas saat ini telah menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang memainkan peran yang sama pentingnya dengan masyarakat umum dalam sektor
Libur panjang Kenaikan Yesus Kristus mendongkrak kunjungan wisata Gunungkidul hingga 145 ribu orang dengan PAD mencapai Rp1,7 miliar.
Menyapa konsumen setia Honda, Astra Motor Yogyakarta kembali hadir dengan Honda Premium Matic Day (HPMD)