Penyebab Baterai Laptop Cepat Habis yang Perlu Diketahui
Kenali lima penyebab baterai laptop cepat habis, mulai dari kecerahan layar, aplikasi latar belakang, usia baterai, hingga suhu perangkat.
Petugas melakukan pemadaman pada lahan yang terbakar. Fenomena El Nino yang berlangsung sejak Juli 2026 telah menaikkan risiko karhutla di Indonesia./Dok. KLH\r\n\r\n
Harianjogja.com, JOGJA— Dunia menghadapi risiko krisis pangan global akibat tekanan yang datang bersamaan dari kenaikan biaya energi, gangguan pasokan bahan baku pupuk, dan ancaman El Niño. Ketiga faktor tersebut berpotensi menekan produksi pertanian dan mendorong kenaikan harga pangan dalam beberapa waktu mendatang.
Laporan S&P Global yang dirilis pada 19 Oktober 2026 menilai gangguan distribusi energi dan pupuk, ditambah risiko cuaca ekstrem, dapat memperburuk ketahanan pangan dunia. Dampaknya diperkirakan tidak langsung terasa di pasar konsumen, tetapi bisa semakin terlihat pada 2027 seiring berlangsungnya siklus produksi dan panen.
Laporan S&P Global menyoroti peran Selat Hormuz dalam perdagangan energi sekaligus distribusi bahan baku pertanian. Jalur tersebut dilalui sekitar 29% perdagangan urea dunia, hampir separuh perdagangan sulfur global, dan sekitar 21% perdagangan amonia.
Urea merupakan salah satu pupuk nitrogen yang banyak digunakan dalam pertanian, sedangkan sulfur dan amonia menjadi bahan penting dalam rantai produksi pupuk. Gangguan pelayaran di Selat Hormuz berpotensi memperketat pasokan dan meningkatkan biaya produksi pertanian di berbagai negara.
Kenaikan biaya input dapat mendorong petani mengurangi penggunaan pupuk atau memperkecil luas lahan yang ditanami. Kedua langkah tersebut berisiko menekan hasil panen pada musim berikutnya.
S&P Global mencatat prospek produksi sejumlah komoditas utama mulai menghadapi tekanan. Produksi jagung dan kedelai Brasil, misalnya, berisiko menurun, sementara produksi gandum Australia juga menghadapi ancaman penurunan.
Selain pupuk, sektor pertanian menghadapi tekanan akibat berkurangnya pasokan diesel. Ekspor diesel dari Timur Tengah turun tajam di tengah konflik Iran, sedangkan ekspor Rusia turut tertekan oleh serangan drone Ukraina dan kebijakan pembatasan ekspor.
Diesel dibutuhkan untuk mengoperasikan mesin pertanian, mendukung kegiatan produksi, serta mengangkut hasil panen ke pasar. Ketika harga bahan bakar meningkat, biaya pengolahan lahan, panen, dan distribusi pangan ikut tertekan.
Menurut laporan S&P Global, selisih harga antara minyak mentah dan diesel—yang secara historis berkisar US$12–US$20 per barel—menembus US$100 per barel pada pekan pertama September 2026. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan besar pada pasar diesel dan berpotensi memperbesar beban biaya petani.
Kombinasi kenaikan biaya bahan bakar dan pupuk membuat petani harus menentukan strategi untuk mempertahankan usaha mereka. Jika penggunaan pupuk dikurangi atau luas tanam dipangkas, pasokan komoditas pertanian pada musim berikutnya dapat ikut terdampak.
Faktor ketiga adalah El Niño, fenomena iklim yang dapat mengubah pola curah hujan dan suhu di berbagai wilayah. Dampaknya berbeda-beda menurut kawasan, mulai dari kekeringan dan suhu tinggi hingga hujan lebat di sejumlah daerah.
Risiko tersebut menjadi perhatian karena tanaman yang tumbuh dengan dukungan pupuk lebih sedikit dapat menghadapi tekanan tambahan ketika cuaca ekstrem terjadi. Jika gangguan pasokan input pertanian berlangsung bersamaan dengan penurunan hasil panen, tekanan terhadap pasokan pangan global bisa semakin besar.
S&P Global memperingatkan risiko penurunan produksi sejumlah komoditas. Produksi gandum Australia diperkirakan berpotensi turun menjadi 22 juta ton dari proyeksi sebelumnya sebesar 28 juta ton, sementara produksi jagung dan kedelai Brasil juga menghadapi risiko penurunan.
Namun, dampak El Niño tidak seragam di semua negara maupun komoditas. Besarnya pengaruh terhadap produksi dan harga pangan akan bergantung pada intensitas fenomena iklim tersebut, kondisi pertanian setempat, serta perkembangan pasokan dan permintaan.
Berbeda dengan harga energi yang dapat bereaksi cepat terhadap gangguan pasokan, dampak terhadap pangan cenderung muncul secara bertahap. Petani biasanya membeli benih, pupuk, dan bahan bakar beberapa bulan sebelum hasil panen dijual, sehingga kenaikan biaya produksi membutuhkan waktu untuk tercermin dalam harga pangan.
Daniel Yergin, Wakil Ketua S&P Global, menjelaskan bahwa dampak krisis energi dapat segera terlihat di layar pemantauan pasar, sedangkan tekanan terhadap pangan berkembang mengikuti siklus musim tanam dan panen.
Negara berpendapatan rendah berpotensi menghadapi beban lebih berat karena porsi pengeluaran rumah tangga untuk makanan relatif besar. Negara yang bergantung pada impor komoditas pangan utama juga rentan terhadap kenaikan harga dan gangguan perdagangan internasional.
Meski demikian, krisis pangan global bukanlah sesuatu yang pasti terjadi. S&P Global menilai risiko akan meningkat apabila konflik terus menghambat distribusi energi dan pupuk, sementara cuaca ekstrem mengurangi hasil panen di sejumlah kawasan produsen utama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kenali lima penyebab baterai laptop cepat habis, mulai dari kecerahan layar, aplikasi latar belakang, usia baterai, hingga suhu perangkat.
Aston Villa mengalahkan Manchester City 2-1 di Villa Park. Nicolas Jackson mencetak dua gol dan memberi Man City kekalahan pertama musim ini.
Alumni Jepang membentuk KAWAN JAPAN di Sleman untuk memperkuat jejaring dan mendorong lahirnya wirausahawan baru di Indonesia.
Vincent Kompany dilaporkan stabil di rumah sakit setelah pingsan saat latihan Bayern Munich. Klub memprioritaskan pemulihan sang pelatih.
Persijap Jepara tertinggal 0-1 dari Java United pada babak pertama pekan ketujuh BRI Super League 2026/2027. Ciro mencetak gol menit ke-30.
S&P Global memperingatkan ancaman krisis pangan dunia akibat kenaikan biaya diesel, gangguan pasokan pupuk, dan ancaman El Niño.