Dino Patti Djalal Peringatkan Risiko Krisis Kepercayaan Investor

Newswire
Newswire Sabtu, 24 Oktober 2026 14:47 WIB
Dino Patti Djalal Peringatkan Risiko Krisis Kepercayaan Investor

Foto ilustrasi investasi. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengingatkan pemerintah agar mewaspadai penurunan kepercayaan pelaku usaha dan investor di tengah persoalan pasar modal Indonesia dengan penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menurut dia, erosi kepercayaan yang tidak segera ditangani berisiko meluas menjadi krisis ekonomi, sosial, hingga politik.

Dino mengatakan gejala penurunan kepercayaan mulai terasa di kalangan pengusaha, baik di dalam maupun luar negeri. Ia meminta pemerintah memperoleh informasi yang akurat mengenai kondisi di lapangan agar dapat merespons persoalan tersebut sejak dini.

"Dan erosi kepercayaan di dalam negeri sudah terasa di pengusaha papan atas, menengah, dan bawah. Kalau Presiden tidak mencium gejala ini, berarti beliau tidak mendapat informasi yang sebenarnya mengenai kondisi di lapangan," ujar Dino dalam video singkat di laman Instagramnya, Sabtu (24/10/2026).

Mantan Wamenlu pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu juga mengingatkan pemerintah agar tidak meremehkan persoalan keuangan. Ia mencontohkan krisis moneter yang menjatuhkan pemerintahan Soeharto pada 1998 dan berkembang menjadi krisis multidimensi.

Menurut Dino, pengalaman tersebut menjadi pengingat pentingnya mengantisipasi penurunan kepercayaan sebelum dampaknya meluas.

"Saran saya lebih baik mengobati erosi kepercayaan ini dari awal ketimbang menunggu sampai sudah tidak tertolong lagi. Dan masih ada waktu tiga tahun ke depan untuk melakukan hal ini," tegasnya.

MSCI Pertimbangkan Perubahan Status Pasar Indonesia

Peringatan Dino muncul di tengah langkah MSCI membuka konsultasi pasar terkait usulan reklasifikasi Indeks MSCI Indonesia. Dalam pengumuman pada Jumat (16/10/2026), penyedia indeks global itu mempertimbangkan opsi menurunkan status pasar saham Indonesia dari kategori pasar berkembang atau Emerging Market menjadi Standalone Market.

Pertimbangan tersebut berkaitan dengan sejumlah persoalan mendasar dalam struktur tata kelola dan mekanisme transaksi pasar modal Indonesia. Isu yang menjadi perhatian mencakup dugaan praktik perdagangan terkoordinasi (coordinated trading), transparansi struktur kepemilikan saham, serta keandalan data saham publik yang dapat diperdagangkan (tradable free float).

MSCI membuka kesempatan bagi investor institusi dan pelaku pasar global untuk menyampaikan tanggapan terhadap konsultasi tersebut hingga 30 April 2027.

Keputusan final mengenai status pasar modal Indonesia dijadwalkan diumumkan MSCI pada atau sebelum 30 Juni 2027.

Dino menilai pemerintah perlu menangkap gejala penurunan kepercayaan sejak awal. Menurut dia, informasi yang benar mengenai situasi di lapangan menjadi bekal penting bagi pemimpin negara untuk menentukan respons sebelum persoalan berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online