Gempa Tibet M 7,0 Tewaskan 16 Orang, Ratusan Rumah Roboh

Jumali
Jumali Jum'at, 23 Oktober 2026 09:47 WIB
Gempa Tibet M 7,0 Tewaskan 16 Orang, Ratusan Rumah Roboh

Foto ilustrasi getaran gempa tercatat pada seismograf. - istock

Harianjogja.com, JOGJA—Gempa bumi bermagnitudo 7,0 mengguncang wilayah Kabupaten Baqên, Kota Nagqu, Tibet, China, Kamis (22/10/2026) malam waktu setempat. Sedikitnya 16 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya terluka, sementara ratusan rumah dilaporkan roboh akibat guncangan tersebut.

Berdasarkan laporan terbaru yang dikutip Associated Press (AP) dari media pemerintah China, jumlah korban luka mencapai 46 orang, termasuk 11 orang yang mengalami luka serius. Data kerusakan juga mencatat sedikitnya 339 rumah dan 20 kandang ternak roboh atau terdampak. Angka tersebut masih dapat berubah seiring proses pendataan dan penyelamatan.

Gempa Berpusat di Wilayah Pegunungan Tibet

Gempa terjadi sekitar pukul 22.33 waktu setempat pada Kamis malam. Pusat gempa berada di wilayah Maru, Kabupaten Baqên, Kota Nagqu, kawasan pegunungan di bagian utara Tibet.

Menurut laporan Xinhua yang mengutip jaringan pemantauan gempa China, gempa tersebut memiliki kedalaman sekitar 10 kilometer. Sementara itu, sejumlah laporan yang mengutip Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut pusat gempa berada sekitar 190 kilometer di timur-timur laut Nagqu dan sekitar 390 kilometer dari Lhasa, ibu kota regional Tibet.

Wilayah terdampak berada di kawasan pegunungan dengan permukiman yang tersebar. Kondisi geografis tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menjangkau desa-desa yang mengalami kerusakan.

Rumah Roboh, Listrik dan Komunikasi Terganggu

Guncangan gempa menyebabkan kerusakan pada bangunan tempat tinggal dan fasilitas umum. Laporan pemerintah setempat yang dikutip media internasional menyebut sedikitnya 339 rumah roboh, sementara 20 kandang ternak juga dilaporkan terdampak.

Gangguan turut terjadi pada infrastruktur pendukung kehidupan warga. Listrik di pusat Kabupaten Baqên dilaporkan terputus, sedangkan layanan telekomunikasi di sejumlah bagian wilayah terdampak mengalami gangguan.

Wakil Kepala Kota Maru, Lhawang Dagpo, mengatakan guncangan terasa kuat hingga ke kantor pemerintahan setempat. Dinding bangunan kantor tersebut dilaporkan mengalami keretakan.

Selain kerusakan bangunan, gempa memicu longsoran batu di kawasan pegunungan. Material longsor menutup sebagian ruas jalan nasional sehingga akses kendaraan dibatasi untuk mendukung kegiatan darurat dan penyelamatan.

Tim Penyelamat Dikerahkan ke Lokasi

Pemerintah China mengaktifkan respons darurat bencana gempa tingkat II di wilayah terdampak. Petugas penyelamat, pemadam kebakaran, dan unsur terkait dikerahkan untuk memeriksa kondisi permukiman, mencari warga yang membutuhkan pertolongan, serta menangani korban luka.

Menurut laporan AP, lebih dari 1.600 personel dari wilayah setempat dikerahkan dalam upaya penanganan bencana. Bantuan berupa unit hunian sementara, tenda, tempat tidur lipat, lampu senter, dan pakaian hangat juga dilaporkan mulai dikirimkan ke daerah terdampak.

Petugas masih melakukan pendataan untuk mengetahui tingkat kerusakan secara menyeluruh. Gangguan komunikasi dan akses jalan akibat longsoran batu menjadi tantangan tambahan bagi proses penanganan bencana.

Kondisi cuaca juga perlu diperhatikan dalam proses pemulihan. Laporan Xinhua yang dikutip media internasional menyebut wilayah terdampak diperkirakan mengalami hujan salju berselang dalam beberapa hari berikutnya.

Tibet Pernah Dilanda Gempa Mematikan

Gempa terbaru ini kembali menyoroti risiko bencana geologi di kawasan Tibet dan wilayah sekitarnya. Daerah tersebut berada di kawasan aktif secara tektonik, sehingga gempa bumi dapat menimbulkan dampak besar, terutama pada permukiman yang berada di wilayah pegunungan.

Pada Januari 2025, gempa di Kabupaten Tingri, Tibet, juga menyebabkan korban jiwa. Sedikitnya 126 orang dilaporkan meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Dalam kejadian terbaru ini, proses pencarian, pertolongan korban, dan pendataan kerusakan masih berlangsung. Jumlah korban serta dampak terhadap permukiman dan infrastruktur perlu terus diperbarui berdasarkan informasi resmi dari otoritas setempat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online