Demi Danantara, Luhut Usul Ubah Definisi Korupsi dalam Standar PBB
Luhut Binsar Pandjaitan mengusulkan penyesuaian definisi korupsi dengan menghapus unsur kerugian negara. Simak cakupan pidana dalam UNCAC.
Siswa SDN Soprayan sedang antre untuk menerima program Makan Bergizi Gratis di SDN Soprayan, Kalurahan Girikerto, Turi, Sleman, Rabu (7/10/2026)./Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah membuka ruang bagi masyarakat untuk terus mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kritik dinilai penting sebagai bahan evaluasi agar pelaksanaan program tersebut semakin baik, terutama dalam menjamin keamanan makanan bagi penerima manfaat.
Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Hariqo Wibawa Satria, mengatakan MBG dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) membutuhkan evaluasi berkelanjutan demi memastikan perbaikan.
Pernyataan itu disampaikan dalam dialog nasional refleksi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, Kamis.
"Kalau masyarakat marah-marah terhadap program MBG, itu wajar. Siapapun pasti akan marah kalau ada anaknya yang keracunan. Dan, bapak ibu juga jangan ragu-ragu dikritik saja habis-habisan program MBG itu," kata Hariqo.
Menurut dia, kedua program tersebut masih membutuhkan banyak perbaikan. Hariqo juga menyebut sejumlah kritik yang disampaikan masyarakat telah terbukti menjadi perhatian dalam evaluasi pelaksanaan program.
MBG Prasmanan Diuji di 66 SPPG
Hariqo mengatakan sejumlah perbaikan telah dilakukan dalam pelaksanaan MBG. Salah satunya melalui uji coba penyajian makanan secara prasmanan di 66 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 10 provinsi.
"Hari ini terbukti, sudah banyak perbaikan. Ketika dilakukan (MBG) prasmanan, responnya sangat baik dari masyarakat," tuturnya.
Sebelumnya, Badan Gizi Nasional (BGN) juga melakukan transformasi pelaksanaan MBG melalui penguatan tata kelola, standar keamanan pangan, serta inovasi dalam program yang disebut revolusi MBG 2.0.
Juru Bicara BGN, Tysa Novenny, pada Rabu (21/10), mengatakan perubahan dilakukan terhadap cara kerja program. Fokus pelaksanaan MBG tidak lagi hanya pada luasnya jangkauan penerima manfaat, tetapi juga pada upaya memastikan makanan yang disediakan aman, bergizi, tepat sasaran, dan memenuhi standar.
Salah satu bagian dari transformasi MBG 2.0 adalah perubahan pola penyajian makanan. Uji coba konsep prasmanan di 66 SPPG di 10 provinsi menjadi salah satu inovasi dalam penyelenggaraan program tersebut.
Konsep ini diarahkan untuk memberikan pengalaman makan yang lebih baik kepada peserta didik. Selain itu, pola penyajian tersebut diharapkan mendorong kebiasaan positif, seperti kemandirian, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama.
Program MBG Jangkau 57,49 Juta Penerima
Di tengah evaluasi dan transformasi pelaksanaan, MBG telah berjalan dalam skala besar. Total penerima manfaat program ini mencapai 57.491.334 jiwa.
Pelaksanaannya melibatkan 1.027.998 tenaga kerja dan didukung 26.385 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi.
Pemerintah menyatakan perbaikan tata kelola dan keamanan pangan menjadi bagian penting dari pengembangan program. Evaluasi berkelanjutan diharapkan membantu memastikan pelaksanaan MBG semakin memenuhi kebutuhan penerima manfaat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Luhut Binsar Pandjaitan mengusulkan penyesuaian definisi korupsi dengan menghapus unsur kerugian negara. Simak cakupan pidana dalam UNCAC.
GIFTS 2026 UGM menghasilkan 51 dokumen kerja sama dan mempertemukan 79 startup terkurasi dengan 30 calon investor.
Bupati Gunungkidul meminta destinasi wisata yang sepi dievaluasi, mulai dari Embung Sriten hingga pantai dan gua, sesuai potensi kawasan.
PEVS 2026 berlangsung 29 Oktober–1 November di JIExpo Kemayoran dengan 38 peserta, termasuk merek mobil dan motor listrik.
Bakom RI membuka ruang kritik terhadap program MBG. Pemerintah menguji konsep prasmanan di 66 SPPG di 10 provinsi untuk memperbaiki layanan.
BPOB mendampingi pelaku usaha desa penyangga Borobudur memperkuat identitas produk, storytelling, branding, dan pemasaran digital.