ICRC Peringatkan Eskalasi Konflik Timur Tengah Bisa Jadi Bencana

Newswire
Newswire Rabu, 14 Oktober 2026 13:07 WIB
ICRC Peringatkan Eskalasi Konflik Timur Tengah Bisa Jadi Bencana

Ilustrasi, Milisi Houthi, Sanaa, Yaman./Antara-Reuters-Khaled Abdullah\r\n

Harianjogja.com, MOSKOW—Komite Internasional Palang Merah (ICRC) memperingatkan eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi menjadi bencana bagi puluhan juta orang. Lembaga kemanusiaan tersebut mendesak seluruh pihak yang terlibat untuk meredakan ketegangan dan melindungi warga sipil dari dampak konflik.

Presiden ICRC Mirjana Spoljaric mengatakan warga sipil terus menanggung dampak berat akibat operasi militer di kawasan tersebut. Ia menilai peningkatan intensitas konflik akan memperburuk kondisi kemanusiaan dan meningkatkan risiko bagi masyarakat yang tidak terlibat dalam pertempuran.

“Warga sipil membayar harga yang tidak dapat diterima akibat operasi militer di Timur Tengah. Eskalasi lebih lanjut akan menjadi bencana bagi puluhan juta orang,” kata Spoljaric, Selasa (13/10/2026).

Ia menekankan perlunya tindakan segera untuk mencegah situasi semakin memburuk. “Upaya mendesak harus dilakukan untuk meredakan ketegangan dan melindungi warga sipil dari dampak yang lebih buruk,” tambahnya, seperti dikutip kantor pers ICRC.

ICRC Soroti Korban Sipil di Arab Saudi dan Yaman

ICRC menyebut kematian, korban luka, serta kehancuran di Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir menjadi gambaran lain mengenai dampak konflik terhadap warga sipil. Situasi tersebut memperkuat kekhawatiran terhadap keselamatan masyarakat di tengah meningkatnya ketegangan regional.

Di Yaman, termasuk di Aden dan Sanaa, jumlah korban tewas dan pengungsi serta kerusakan infrastruktur sipil dilaporkan terus meningkat pada tingkat yang mengkhawatirkan. Spoljaric mengatakan dampak konflik terhadap masyarakat dan fasilitas sipil menjadi perhatian serius.

Menurut dia, infrastruktur sipil di berbagai wilayah Timur Tengah berulang kali menjadi sasaran dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Karena itu, seluruh pihak yang terlibat dalam konflik diingatkan untuk mematuhi prinsip perlindungan warga sipil.

“Warga sipil dan objek sipil harus dilindungi dari serangan. Pihak-pihak yang berkonflik harus selalu membedakan antara warga sipil, objek sipil, dan sasaran militer,” kata Spoljaric.

Bentrokan Houthi dan Pasukan Pemerintah Yaman Kembali Terjadi

Ketegangan di Yaman juga ditandai dengan kembali terjadinya bentrokan antara gerakan Houthi dan pasukan yang loyal kepada pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Pertempuran tersebut kembali terjadi pada pertengahan Juli setelah periode relatif tenang selama empat tahun.

Eskalasi itu berlangsung setelah Houthi mulai menyerang kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Serangan tersebut disebut sebagai balasan atas operasi militer Yaman terhadap Bandara Sanaa.

Houthi menguasai seluruh pesisir barat Laut Merah serta sejumlah kota di sekitar Selat Bab el-Mandeb. Wilayah tersebut menjadi bagian penting dari konteks ketegangan yang terus berlangsung di kawasan Yaman dan sekitarnya.

Di tengah perkembangan itu, ICRC kembali menekankan pentingnya upaya meredakan konflik dan memastikan perlindungan terhadap masyarakat sipil. Lembaga tersebut mengingatkan bahwa warga sipil tidak boleh menjadi sasaran serangan dan objek sipil harus dibedakan dari sasaran militer.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online