Diduga Curi Barang di Pesawat, WNA China Ditolak Masuk Soetta
WNA China berinisial HW ditolak masuk Soetta meski visa masih berlaku setelah ada atensi terkait dugaan pencurian barang penumpang di pesawat Starlux.
Panen padi - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Produksi padi nasional mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG) sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Capaian tersebut tetap tumbuh 0,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu meski pertanian menghadapi perubahan cuaca dan potensi El Nino.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga produksi padi, terutama melalui pengelolaan air dan optimalisasi pompanisasi di wilayah yang mengalami keterbatasan air.
"Pemerintah melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga produksi tetap berjalan, terutama melalui penguatan pengelolaan air dan optimalisasi pompanisasi di wilayah yang menghadapi keterbatasan air," kata Mentan terkonfirmasi di Jakarta, Minggu.
Menurut Amran, langkah tersebut dilakukan agar lahan pertanian tetap memperoleh pasokan air sehingga petani dapat mempertahankan aktivitas produksi.
Pemerintah, lanjutnya, juga tidak akan membiarkan petani menghadapi tantangan produksi sendirian. Dukungan terhadap sarana produksi sekaligus ketersediaan air untuk pertanian terus diperkuat dengan turun langsung ke lapangan.
“Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan,” ujar Amran.
Produksi Beras Ikut Meningkat
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi nasional Januari-Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton GKG atau naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan angka tersebut diperoleh berdasarkan penghitungan luas panen dan produktivitas padi yang telah berstatus angka tetap.
“Produksi padi dari Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton GKG atau naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025,” kata Ateng.
Pertumbuhan produksi tersebut juga sejalan dengan kenaikan luas panen. BPS mencatat luas panen padi pada Januari-Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare, meningkat 0,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Luas panen padi pada Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare atau naik sebesar 0,11 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” ujar Ateng.
Produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat juga mengalami kenaikan. BPS mencatat produksi beras pada Januari-Agustus 2026 mencapai 25,29 juta ton, meningkat 0,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
“Dengan demikian untuk produksi beras pada kondisiJanuari sampai dengan Agustus tahun 2026 mencapai 25,29 juta ton atau naik sebesar 0,07 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” ujarnya.
Ancaman El Nino Masih Perlu Diantisipasi
Pertumbuhan produksi padi tersebut berlangsung ketika sektor pertanian menghadapi tantangan iklim dan potensi El Nino.
Potensi El Nino yang diperkirakan terjadi dengan intensitas kuat dapat meningkatkan risiko kekeringan serta mempengaruhi ketersediaan air bagi pertanian.
Meski demikian, hingga Agustus 2026 produksi padi nasional masih menunjukkan pertumbuhan.
Ateng menjelaskan capaian produksi Januari-Agustus 2026 telah berstatus angka tetap. Hal itu karena penghitungan luas panen dan produktivitas pada periode tersebut telah menggunakan data final.
Berbeda dengan periode tersebut, perkembangan produksi pada periode berikutnya masih dapat berubah mengikuti kondisi pertanaman di lapangan.
Data produksi September-November 2026 saat ini masih berstatus angka potensi, sedangkan data produktivitas masih berupa angka sementara.
Sentra Padi Masih Berpotensi Panen
Realisasi produksi pada periode September-November 2026 masih dipengaruhi berbagai kondisi di lapangan. Perubahan cuaca, serangan organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, hingga perubahan waktu panen dapat mempengaruhi realisasi produksi.
Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Agustus 2026, sejumlah wilayah sentra masih memiliki potensi panen pada September-November 2026.
Wilayah tersebut meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.
Di Jawa Barat, potensi panen antara lain berada di Majalengka, Subang, Indramayu, Karawang, Cirebon, dan Bekasi. Sementara di Jawa Timur terdapat Ngawi.
Adapun di Sulawesi, sejumlah sentra yang masih memiliki potensi panen antara lain Bone, Wajo, Sidenreng Rappang, Pinrang, Luwu, dan Banggai.
Dengan produksi padi mencapai 43,89 juta ton GKG hingga Agustus 2026, produksi nasional masih mencatat pertumbuhan meski menghadapi tantangan iklim dan potensi El Nino.
Pemerintah pun terus memperkuat langkah mitigasi melalui pengelolaan air dan pompanisasi untuk menjaga produktivitas pertanian hingga akhir tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
WNA China berinisial HW ditolak masuk Soetta meski visa masih berlaku setelah ada atensi terkait dugaan pencurian barang penumpang di pesawat Starlux.
Gianni Infantino meninjau SUGBK bersama Erick Thohir menjelang final FIFA ASEAN Cup 2026 antara Indonesia vs Thailand.
Max Verstappen meraih kemenangan perdana F1 2026 di GP Bahrain yang digelar di Sepang, mengungguli Kimi Antonelli dan Lewis Hamilton.
Jadwal SIM Sleman Oktober 2026 mencakup Satpas, MPP, SIM Keliling Malam, dan SIMMADE. Senin 5 Oktober tersedia di MPP Sleman.
Produksi padi RI mencapai 43,89 juta ton GKG hingga Agustus 2026, naik 0,07 persen meski menghadapi ancaman El Nino.
Prabowo memanggil pimpinan Bakom di Hambalang dan meminta komunikasi pemerintah lebih sederhana, terbuka, serta dekat dengan masyarakat.