Mengenang Konser Terakhir Guruh Gipsy Sebelum Guruh Wafat

Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama Sabtu, 26 September 2026 13:17 WIB
Mengenang Konser Terakhir Guruh Gipsy Sebelum Guruh Wafat

Mengenang konser Guruh Gipsy di Synchronize Fest 2025 yang menjadi penampilan pertama dan terakhir Guruh Sukarnoputra bersama personel asli. /Bisnis.

Harianjogja.com, JAKARTA— Hampir setahun sebelum Guruh Sukarnoputra meninggal dunia, sebuah pertunjukan bersejarah berlangsung di Synchronize Fest 2025. Untuk pertama dan terakhir kalinya, Guruh bersama Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan sejumlah musisi membawakan karya-karya dari album legendaris Guruh Gipsy secara langsung di atas panggung.

Konser tersebut digelar di Kemayoran, Jakarta, pada Sabtu (4/10/2025). Penampilan itu menjadi momen istimewa karena album Guruh Gipsy yang dirilis pada 1977 belum pernah sebelumnya dibawakan secara lengkap oleh Guruh Gipsy sejak proses rekamannya selesai.

Album tersebut diinisiasi Guruh bersama Keenan, Abadi, Christian Rahadi atau Chrisye, Aumar Naudin Nasution, dan Zahrun Hafni Harahap. Butuh waktu hampir setengah abad hingga karya itu akhirnya dapat disaksikan secara langsung dalam sebuah pertunjukan utuh.

Tiga personel asli Guruh Gipsy hadir di atas panggung malam itu, yakni Guruh, Keenan, dan Abadi. Penampilan ketiganya menjadi perhatian penonton yang sebagian mengenal Guruh Gipsy sejak masa muda, sementara generasi milenial dan Gen Z lebih banyak mengenalnya melalui cerita orang tua, artikel, arsip, maupun rilisan fisik yang tergolong langka.

Dibuka Tari Barong dan Lutung

Sekitar pukul 18.45 WIB, pertunjukan dimulai. Tari Barong membuka pagelaran dengan iringan musik instrumental dan gamelan Bali.

Kemudian muncul sosok Lutung yang bergerak ke sana kemari. Ia melemparkan pisang ke arah penonton yang langsung disambut gelak tawa. Penonton pun berebut pisang dan bersorak.

Keenan memainkan drum, sedangkan Abadi memainkan keytar atau keyboard yang dikalungkan. Guruh berada di dekat jajaran pemain gamelan dan berbagai alat musik tradisional.

Daryl Nasution kemudian tampil membawakan "Smaradhana". Lagu tersebut begitu lekat dengan suara mendiang Chrisye dan langsung membawa suasana nostalgia, mengenang sosok-sosok yang telah lebih dahulu berpulang.

Keenan selanjutnya berdiri dari set drum dan bernyanyi membuka lagu "Janger 1897 Saka". Andy /rif kemudian memanaskan suasana dengan membawa unsur rock ke dalam lagu tersebut.

"Barong Gundah" turut masuk dalam repertoar malam itu. Suguhan solo gitar dari Karisk semakin menambah energi pertunjukan.

Karisk merupakan gitaris yang tergabung dalam sejumlah proyek musik, seperti Indra Lesmana Project, mengiringi Isyana Sarasvati, menjadi gitaris grup legendaris Karimata, dan pernah menjadi gitaris band metal Deadsquad.

Panggung tersebut juga melibatkan Bubi Sutomo, Irang Arkad, Biko Nasution, Kompiang Raka, Gamelan Saraswati, dan Harry Murti. Formasi itu mempertemukan musisi yang memiliki hubungan dengan sejarah Guruh Gipsy dengan generasi setelahnya.

Guruh Persembahkan untuk Rekan yang Telah Wafat

Di tengah kemegahan pertunjukan, Guruh membawa konser tersebut menuju bagian yang lebih personal. Tiga nama yang tidak hadir di atas panggung malam itu adalah Chrisye, Oding Nasution, dan Roni Harahap yang telah lebih dahulu berpulang.

Guruh mendedikasikan penampilan tersebut kepada ketiganya serta keluarga yang ditinggalkan. Ia juga meminta penonton mendoakan ketiga rekannya tersebut.

"Dan ini juga adalah persembahan kami untuk teman-teman semua di sini. Tapi khusus juga kami persembahkan untuk teman-teman kita yang sudah almarhum dan serta untuk keluarganya," ujar Guruh.

Hampir setahun setelah pertunjukan bersejarah tersebut, Guruh Sukarnoputra berpulang. Namun, karya-karya yang ditinggalkannya, termasuk Guruh Gipsy, tetap menjadi bagian dari perjalanan musik dan kebudayaan Indonesia.

Guruh Sukarnoputra Wafat di Usia 73 Tahun

Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2026) dalam usia 73 tahun. Berdasarkan keterangan keluarga, Guruh mengembuskan napas terakhir pada pukul 04.16 WIB di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta.

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah Almarhum Bapak Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra bin Sukarno pada usia 73 tahun," demikian keterangan Keluarga Besar Soekarno, Sabtu (26/9/2026).

Guruh Sukarnoputra lahir pada 13 Januari 1953. Ia merupakan putra bungsu Presiden pertama Republik Indonesia Sukarno dan Fatmawati, sekaligus adik Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri.

Guruh tumbuh di lingkungan keluarga presiden. Namun, kehidupan masa kecilnya juga bersentuhan dengan beragam lapisan masyarakat.

Dilansir dari Antara, Guruh pernah menceritakan bahwa ketika bersekolah di taman kanak-kanak di kompleks Istana, teman-temannya berasal dari keluarga tukang kebun, koki, pelayan istana, menteri, duta besar hingga pegawai Sekretariat Negara.

Dunia seni kemudian menjadi bagian besar dari perjalanan hidupnya. Guruh mengawali perjalanan kesenian sebagai penari dan musisi.

Dalam perkembangannya, ia mendirikan Swara Mahardhika dan GSP Production serta terlibat dalam pembentukan Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan.

Guruh Gipsy menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan keseniannya. Puluhan tahun setelah album tersebut terbit, musisi generasi berikutnya masih menyebut Guruh Gipsy sebagai karya eksperimental yang menjadi inspirasi dalam mengeksplorasi musik etnik Indonesia.

Selain dunia seni, Guruh juga menjalani perjalanan panjang di politik. Ia menjadi anggota DPR sejak 1999 melalui PDI Perjuangan, sehingga perjalanan publiknya berlangsung di dua jalur, yakni parlemen dan kesenian.

Namun, panggung kebudayaan menjadi salah satu ruang yang meninggalkan jejak kuat dalam perjalanan Guruh. Setelah Guruh meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2026), rekaman dan ingatan atas pertunjukan Guruh Gipsy menjadi dokumentasi penting dari fase akhir perjalanan seorang seniman yang selama puluhan tahun berusaha mempertemukan modernitas dengan akar kebudayaan Indonesia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online