Bedah Memoar William Soeryadjaya, Mahasiswa Belajar Integritas dan Daya Juang

Newswire
Newswire Selasa, 08 September 2026 14:07 WIB
Bedah Memoar William Soeryadjaya, Mahasiswa Belajar Integritas dan Daya Juang

Memoar William Soeryadjaya dibedah di UIN Sunan Kalijaga. Integritas, perjuangan, nasionalisme, kewirausahaan, dan spiritualitas jadi sorotan. /Youtube.

Harianjogja.com, SLEMAN— Perjalanan hidup pendiri PT Astra International Tbk., William Soeryadjaya, kembali menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda. Melalui seminar dan bedah buku Semangat Hidup dan Pasrah kepada Tuhan: Memoar William Soeryadjaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengangkat nilai perjuangan, integritas, nasionalisme, hingga spiritualitas yang mewarnai perjalanan bisnis tokoh yang akrab disapa Om William tersebut.

Kegiatan yang berlangsung di kampus UIN Sunan Kalijaga, Selasa (8/9/2026), menghadirkan sejumlah narasumber, termasuk putra William Soeryadjaya, Edwin Soerjadjaya. Dalam kesempatan tersebut, Edwin menekankan pentingnya daya juang serta nilai-nilai yang diwariskan sang ayah selama merintis dan membesarkan bisnis.

Menurut Edwin, perjuangan merupakan bagian penting dalam mencapai keberhasilan. Seseorang tidak dapat hanya mengandalkan bantuan orang lain ketika menghadapi berbagai tantangan.

"Perjuangan itu harus dilakukan. Kalau tidak, tidak akan ada orang lain yang akan menolong kita," ujar Edwin sebagaimana disiarkan live Youtube.

Integritas

Selain daya juang, Edwin menilai integritas menjadi salah satu warisan terpenting yang ditinggalkan William Soeryadjaya. Nilai tersebut dinilai tidak hanya penting dalam menjalankan bisnis, tetapi juga dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia.

" Salah satu yang paling penting yang almarhum ayah kami tinggalkan adalah integritas. Sumber daya manusia itu harus dikembangkan untuk menjadi modal bagaimana negara kita akan berkembang ke depan," katanya.

Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam agenda bedah buku karena perjalanan William Soeryadjaya tidak hanya dilihat dari keberhasilannya membangun bisnis. Pengalaman hidupnya juga diposisikan sebagai pembelajaran mengenai bagaimana seseorang menghadapi tantangan, mempertahankan prinsip, serta bangkit ketika mengalami kegagalan.

Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Nurhadi Hasan, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, agenda itu menjadi bentuk kolaborasi antara dunia akademis dan industri sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mempelajari pengalaman tokoh bisnis nasional.

Nurhadi menilai perjalanan William Soeryadjaya memiliki relevansi bagi mahasiswa, terutama dalam memahami proses panjang di balik kesuksesan sebuah institusi bisnis.

"Hari ini kita mengangkat satu tokoh yang legendaris, salah satu tokoh legendaris dan sekaligus terkemuka dalam dunia bisnis di Indonesia, Bapak William Soerjadjaya almarhum. Bagaimana beliau merintis itu semua, berjuang dengan segenap upaya dan ikhtiar, jatuh bangun, bangkit lagi, kemudian bisa mewujudkan satu raksasa institusi bisnis yang sangat membanggakan," ungkap Nurhadi.

Mahasiswa Didorong Miliki Jiwa Wirausaha

Nurhadi juga menyoroti nasionalisme William Soeryadjaya yang dinilai tercermin melalui karya dan perjalanan usahanya. Karena itu, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual selama berada di bangku perguruan tinggi.

Menurutnya, generasi muda juga perlu mengembangkan jiwa kewirausahaan atau entrepreneurship sekaligus kecerdasan spiritual. Bekal tersebut diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk tidak hanya mencari pekerjaan setelah lulus, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja.

Pesan mengenai keseimbangan antara usaha dan spiritualitas turut disampaikan CEO Mubarok Institute, Fadil As Mubarok. Ia menjelaskan pentingnya kemampuan merespons peluang bisnis sekaligus tetap memiliki kepasrahan kepada Tuhan.

Konsep tersebut dirumuskannya sebagai keselarasan antara usaha dan doa. Menurut Fadil, seorang calon pengusaha perlu memiliki kemampuan membaca peluang dan membangun jejaring, tetapi pada saat yang sama tidak boleh melepaskan dimensi spiritual dalam perjalanan hidupnya.

"Mahasiswa mudah-mudahan nanti akan menjadi entrepreneur ya. Supaya pengusaha bukan jadi pekerja, harus mampu melakukan apa yang disebut dengan ya lobi dan ya Robi," jelas Fadil.

Fadil menjelaskan ya lobi sebagai kemampuan untuk membaca peluang sekaligus membangun jejaring. Sementara ya Robi dimaknai sebagai bentuk kepasrahan spiritual kepada Tuhan.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan. Menurutnya, lingkungan dapat memberikan pengaruh terhadap cara seseorang berpikir, bertindak, dan membangun masa depan.

"Berteman dengan pedagang minyak wangi, minimal kita mencium bau harumnya. Berteman dengan tukang pandai besi, kita akan kecipretan bunga apinya. Maka sesungguhnya kepasrahan kepada Tuhan adalah terjemahan daripada dengan nama Tuhannya yang menciptakan, yang berkarya," pungkasnya.

Bedah buku memoar William Soeryadjaya tersebut pada akhirnya tidak hanya mengangkat perjalanan seorang pengusaha dalam membangun bisnis. Forum itu juga menempatkan integritas, perjuangan, nasionalisme, kewirausahaan, dan spiritualitas sebagai nilai yang dapat dipelajari mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja maupun dunia usaha.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online